Sunday, February 20, 2005

Tanda Tangan Penting Itu Pergi untuk Selamanya

Pas jam istirahat waktu gue masih di SMU Gonzaga,
dua orang temen gue ngomong:
"Gue sih maunya lulus tahun ini aja.
Biar yang tanda tangan di ijazah gue masih Romo Drost."

Gue bingung.
Kenapa tanda tangan itu begitu penting?
Gue tau siapa Romo Drost.
Tapi apa bedanya tanda tangan Romo Drost
dengan kepala sekolah yang lain?
Emangnya dengan tanda tangan Romo Drost
di ijazah memberi jaminan kesuksesan di hari depan?

Kebingungan itu gue simpen dalam hati.
Sampai hari Sabtu, 19/02/05, pukul 16.15, di Semarang
gue membaca koran bahwa Romo Drost meninggal.
Gak tau kenapa gue terdiam.

Yang gue cuma inget sebuah percakapan waktu
Romo Drost menandatangi rapor gue.

Dia bertanya:
"Mau jadi apa nanti?"
Gue jawab:
"Mau belajar desain grafis."

"Wah bagus itu, kalau gitu kamu mesti
belajar gambar. Cari ibu Rini (guru gambar-red.),
supaya dia bisa ngajarin gambar pulang sekolah.
Ekstra kurikuler."

Dari situlah segalanya berawal.
Gue belajar menggambar seminggu dua kali sama Ibu Rini.
Bikin garis-garis lurus. Tanpa penggaris.
Waktu kayak terbang mulai dari hari-hari bersama Ibu Rini.
Sampai akhirnya gue sekarang beneran jadi desainer grafis.

Sesudah membaca berita kepergian Romo Drost,
gak tau kenapa, gue jadi pengen liat ijazah gue.
Pengen memastikan,
apakah tanda tangan Romo Drost ada di situ.

Butuh 13 tahun untuk gue menyadari
bahwa Romo Drost adalah salah satu
bagian terpenting dalam sejarah hidup gue.

Kalau bukan karena dia, gue mungkin gak akan
pernah belajar membuat garis-garis lurus
tanpa penggaris dan bisa jadi gue gak jadi desainer grafis
dan bisa jadi gue gak menikmati hidup gue sekarang sebagai
orang iklan. Seperti hari ini.

Terima kasih Romo...
Selamat jalan.



Ad Maiorem Dei Gloriam!

Lulusan Kolese Gonzaga tahun 1992

1 comment:

Diki Satya said...

Ada!
Waktu gua pikir-pikir. 13 tahun ke depan, nama lu ada di perjalanan karir gua. Judulnya "Mentor nyebelin yang suka bilang 'imut'".