Sunday, June 16, 2013

Selamat Hari Ayah

Untuk setiap tanah
yang telah memberikan aku pijakan.
Untuk setiap pohon
yang telah meminjamkan rantingnya untuk aku bergantung.
Untuk setiap sungai
yang telah mengaliri aku kehidupan.
Untuk setiap awan
yang telah meneduhkan aku dari terik yang membakar.
Untuk setiap ibu
yang telah membagi perannya sebagai ayah.

Glenn Marsalim
17/06/2013

Friday, February 22, 2013

Holycow Holykau

Holycow Steakhouse by Chef Afit, adalah nama baru setelah Holycow pecah kongsi. Usaha milik Lucy Wiryono dan Afit ini tersebar di Senopati, Kelapa Gading dan yang terbaru di Kebon Jeruk. Pemiliknya lebih suka menyebut "warung" walau mungkin sulit untuk kita makan steak sambil angkat kaki ke kursi apalagi makan pakai tangan.

Warung yang dimaksud pemiliknya mungkin lebih tepat dimaknai sebagai kultur ketimbang bentuk. Warung di mana semua bisa santai makan steak dengan harga yang bersahabat. Untuk generasi 70'an mungkin masih ingat di masa mereka kecil, makan steak adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh orang berada.

Jadi ingat pada waktu itu saya dan ibu sedang jalan-jalan di mall dan saya mengutarakan keinginan untuk mencicipi wagyu. Ibu saya menjawab "boleh, tapi kamu jadi menteri dulu..."

3 tahun yang lalu, saat Twitter belum seterkenal sekarang, Holycow mulai sering berseliweran di timeline. Saya pun ingin segera mencicipinya. Namun lokasinya yang cukup jauh dari tempat tinggal saya, menghentikannya. Ditambah beberapa komentar para "pakar makanan" seperti "ah itu wagyu kelas berapa? wagyu kan mesti ada sertifikatnya!"

2011, saya baru berhasil mencicipi steak wagyu kreasi Chef Afit ini. Saya juga beruntung bisa makan langsung ditemani Lucy. Kenapa? Karena di saat yang bersamaan, Lucy menceritakan mulai dari silsilah restoran sampai kualitas wagyu yang mereka gunakan. Lucy seolah tau pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya saat makan. Singkat kata, daging steak yang mereka gunakan benar-benar wagyu.

Saya bisa makan wagyu tanpa perlu jadi menteri terlebih dahulu.

Pertanyaan banyak teman "enak gak?" tidak bisa saya jawab dengan satu kata. Makanya ini saya merasa perlu menulis di blog. Dan tentunya saya akan skip jawaban "rasa kan soal selera" karena rasannya semua orang sudah tau itu.

Setelah beberapa kali makan di Holycow Steakhouse by Chef Afit, saya menemukan diri saya merelakan mengeluarkan uang berkali-kali untuk makan makanan yang sama. Artinya? Pasti saya merasa rasa dan harga seimbang. Ini yang menurut saya seringkali kita lupakan saat kita menikmati makanan. Pernah saya mendengar komentar teman "ah menurut gue sih enakan wagyu Rustique". Saya  diam saja. Itu hak dia. Tapi menurut saya itu bukan perbandingan yang seimbang.

Kalau ingin membandingkan Holycow, bandingkanlah dengan restoran sejenis yang sekarang semakin menjamur. Dan fakta bahwa restoran steak "murah" semakin menjamur tentunya membuktikan keberhasilan Holycow.

Di suatu siang, karena ada proyek bersama Holycow, saya menyempatkan diri untuk duduk berlama-lama di pojokan warung. Saya ingin mengamati tamu yang sedang menikmati steaknya. Ada yang makan dengan memotong daging langsung makan tanpa saosnya. Ada yang memotong daging, celup ke saos sebelum masuk ke mulut. Dan yang terbanyak adalah, memotong daging kecil-kecil, siram dengan saos, sebelum makan sepotong-sepotong.

Untuk para food critique pasti akan langsung mencemooh "itu mah makan semur!"

Mungkin mereka benar. Itu bukan lagi steak tapi semur. Tapi mungkin juga para food critique lupa, bisa jadi ini adalah pengalaman pertama makan yang disebut "steak"untuk banyak orang. Ada berapa manusia di kota ini yang beruntung untuk bisa makan steak sebelum Holycow buka? Apalagi steak wagyu.

Pengamatan ini kemudian membawa saya berpikir bahwa Holycow bisa jadi telah menjadi pembuka lidah dan wawasan bagi banyak warga Jakarta. Lidah karena mereka telah mencicipi steak. Wawasan karena setidaknya mereka mengenal aroma dan rasa steak. Membuka rasa baru yang bukan tidak mungkin menambah rasa percaya diri saat mereka bergaul nantinya. Percaya diri? Benar. Karena sekarang semakin banyak orang yang bisa bilang "yes, i have tried steak. not only steak but wagyu steak!" Dan untuk itu semua, kita cukup mengeluarkan kocek sebesar 80 ribu - 150 ribuan saja.

Sepenting itukah? Terserah dari mana mau melihatnya. Yang pasti, saya sering bertemu dengan teman-teman seangkatan yang tidak bisa menggunakan sumpit dengan benar. Atau kebingungan saat hendak makan sushi. Mencicipi miso dengan sendok sambil berkata "asin doang nih?"Atau sesederhana makan cupcake dengan sendok.

Dengan adanya Holycow kita bisa berharap tidak ada lagi warga Jakarta yang menjawab "small" ketika ditanya "mau yang medium atau well done?"

Saat saya ikut dalam sebuah riset berbayar oleh biro iklan internasional mengenai makanan, Holycow menjadi salah satu contoh kasus. Salah satunya yang saya ingat adalah "demokratisasi makanan". Yang secara mudah bisa kita artikan, yang tadinya makanan gedongan kini bisa dinikmati oleh warungan dan yang tadinya makanan warungan kini masuk ke gedongan.

Tidak percaya?
Silakan jalan-jalan ke mall berbinar di ibukota. Dengan mudah kita menemukan restoran yang menawarkan wedang ronde, tape ketan, bahkan nasi kucing! Laku? Silakan temukan para eksekutif muda ibukota menikmati makanan "kampung" ini dengan nikmatnya di jam makan siang. Tentunya di restoran yang telah ditata menyerupai warung lengkap dengan pelayan yang berdandan ala Inem pelayan warteg.

Holycow baru saja membuka Loobie, sebuah warung (lagi) yang menawarkan lobster. Saat diundang ke pembukaannya, saya bertanya pada diri saya sendiri "kapan terakhir makan lobster?" Saya tidak ingat. Bahkan mungkin saya belum pernah makan lobster.

Pulang dari acara itu, jauh di lubuk hati saya berbisik "saya sudah pernah makan lobster dan oh begitu rasanya". Dan ketika ditanya "enak gak?" Mana saya tau. Saya belum pernah makan lobster. Dan seingat saya, saya menikmatinya.









Tuesday, December 25, 2012

Kartu Natal 2012

semoga bintang yang sama menyinari kita.


may the same star shine on us




Sunday, April 29, 2012

Modus Anomali - Kenapa Enggak?

Bayangkan kalau suatu saat Anda bangun dan tak ingat siapa nama, asal usul bahkan tempat di mana Anda berada.
Limbung? Kesal? Geram? Penasaran? Dan berbagai perasaan tak jejak lainnya.
Seperti itulah yang saya rasakan saat menonton Modus Anomali barusan.
bagus dong filmnya bisa mengguggah dan memainkan emosi? Mungkin...

Sebuah film yang dari awal membuat saya banyak bertanya. Pikiran comel saya terus menggempur.
Pertanyaan yang menggunakan pikiran logis. Sampai saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri, ini "cuma film".
Menyerahlan dan nikmati sajalah...

Untungnya, Joko Anwar, berbaik hati memberikan waktu lumayan panjang, bahkan kepanjangan,
untuk saya terus mengingatkan diri kalau ini adalah hiburan. Tak perlu banyak yang dipikirkan.
Nikmati saja acting Rio Dewanto, darah bermuncratan, suara yang mencekam dan segala kejutan.
Jangan coba-coba untuk dipikir terlalu serius.

Dan tanpa saya sadari, film pun usai. Saya masih melongo.


Sesudah menonton, teman-teman langsung bertanya dengan nada sama "gimana? bagus gak?"
Saya menjawab sekenanya
"gue gak punya pilihan untuk bilang ini film bagus.
Takut ah kalo bilang gak bagus atau gak suka.
Nanti gue gak eksis!"
Untunglah jawaban sekena ini cukup menghibur sehingga mereka meninggalkan saya.

Sebenarnya, jawaban tadi bukan jawaban sekenanya.
Begini... kalau di sebuah film yang tidak memiliki referensi identitas, tempat, bahkan waktu,
maka pembuat film bisa sesuka hati bercerita.
Ini hutan di mana? Hutan di Kalimantan? Atau kawasan hutan Universitas Indonesia?
Lalu dia ini suami siapa? Apa profesinya? Kenapa dia berlibur di hutan?
Semua itu menjadi dan dianggap tidak penting lagi.
Joko hanya mau bercerita. Dan kita penonton, tontonlah.

Semua pertanyaan di kepala saya sesudah menonton saya bayangkan bisa dijawab dengan mudah oleh pembuatnya dengan jawaban pertanyaan balik "kenapa enggak?"
Misalnya...
Kenapa sih Joko bikin film begini?
Kenapa enggak bikin film begini?
Kenapa mesti pake bahasa Inggris?
Kenapa enggak pake bahasa Inggris?
Kok liburan ke hutan?
Kenapa enggak di hutan?
Kenapa kok baju Rio di tengah film mendadak terasa lebih kecil?
Kenapa enggak lebih kecil?
Dan seterusnya.

Film ini adalah cerita yang dihasilkan oleh generasi yang tak membutuhkan identitas.
Tanpa kungkungan tempat dan waktu.
Semua bebas dan sah.
Generasi yang mendobrak segala aturan, bahkan waktu.
Yang mempertanyakan "kenapa gak begini? kenapa gak begitu? apa harus begini?"

Mungkin inilah semangat Joko Anwar.
Bahkan di telinga saya, saya bisa mendengar Joko sedang berbisik
"ini kan film gue, suka-suka gue dong ah..."
Baiklah...

Setelah menyaksikan semua film Joko Anwar,
ada satu pertanyaan yang semakin ingin saya tanyakan,
"siapa kamu Joko Anwar?"
Mungkin Joko juga bisa menjawab
"kenapa enggak... ergh... "
Suatu saat nanti, kalau saya dikasih umur panjang.
saya akan menjelaskan kenapa siapa dan mengapa menjadi penting buat saya
untuk mengapresiasi sebuah film. Dan berbagai karya seni lainnya.
Pilihan personal saya.

Yang pasti, saya selalu jatuh hati pada karya yang jujur.

Jadi Modus Anomali bagus atau gak?
Bukan lagi jawaban yang harus dijawab.
Yang pasti saya belum pernah nonton film Indonesia seperti ini.
Tanpa bermaksud menuduh, tapi saya yakin dibalik film tanpa referensi ini - dalam bahasa sederhana saya sebut dongeng-,
Joko memiliki banyak referensi film dibaliknya. Bahkan mungkin terlalu banyak referensi.

Monday, April 09, 2012

Selembar Bulu Ayam

sebelum memulai sebuah brief,
entah kenapa selalu muncul pertanyaan ini di kepala
"kalau gak punya apa-apa bisa jadi apa?"

mungkin karena terlahir dari keluarga menengah ke bawah.
berpengaruh pada pekerjaan.
saya paling gak tega menghabiskan duit klien.
ini tentunya berseberangan dengan paham korporasi.
tapi biarlah, toh saya freelancer.

saya lebih sulit mengerjakan pekerjaan yang "besar".
pernyataan klien seperti "pokoknya budgetnya unlimited. you name it!"
selalu bikin saya keder (dan mungkin sebenarnya minder)

saya suka dengan pekerjaan berbudget rendah.
pekerjaan kecil yang mungkin tidak berarti atau dianggap cemilan.
tapi dikerjakan dengan kesungguhan dan sepenuh hati.

melihat hasil dari pekerjaan yang dimulai dengan minim
dan bisa memberikan hasil maksimal, memberikan kepuasan tersendiri.
semacam selembar bulu ayam yang digesek ke telinga memberikan sensasi di telinga.
untuk kemudian menjalar ke seluruh tubuh.

membuat kita merasa gelisah,
kok bisa seluruh saraf di tubuh kita terangsang oleh selembar bulu?

ketika melihat pekerjaan yang dahsyat
dikerjakan dengan dana dan tenaga yang dahsyat pula,
hati kecil saya selalu berkata
"yaeyalaaah... justru kalo hasilnya gak dahsyat baru pantas diributkan."

tak hanya di dunia periklanan yang saya geluti.
tapi juga di dunia desain grafis, film, musik, dan banyak hasil karya lainnnya.

mungkin ada semacam "pembelaan buta" yang saya lakukan tanpa saya sadari,
untuk karya-karya "selembar bulu ayam" itu.

belum lagi menonton, tubuh saya sudah seperti menolak sensasi
yang ditawarkan film-film seperti titanic, gladiator, dan avatar.
saya pun "membela" film-film iran berbudget rendah dan kamera sekedarnya.

tentu dengan syarat, bisa mengguncang seluruh syaraf.

Friday, April 06, 2012

Kreatif Periklanan Masa Depan?

Kita selalu khawatir akan masa depan.
Tantangan apa yang ada di masa depan?
Bagaimana bisa mempersiapkan diri supaya lebih siap menghadapi tantangan masa depan?
Siapa yang akan lebih makmur di masa depan?
Dan sejuta pertanyaan lain soal masa depan.

Setiap kali, dan ini sering, ada yang bertanya
"bagaimana kreatif periklanan di masa depan?"
saya selalu menjawab dengan berkelakar
"saya bukan mama lauren."

Jawaban tersebut sebenarnya bukan tanpa alasan.
Bukan pula sekedar cari sensasi.
Tapi sungguh ada satu hal yang menurut saya tidak relevan.

Periklanan adalah soal masa kini.
Masa kini yang begitu dinamis.
Berubah setiap saat bahkan setiap detik.
Menghabiskan waktu mempersiapkan diri untuk masa depan
menjadi tidak relevan dan buang-buang waktu.

Hiduplah dan berkaryalah untuk masa ini.
Sekarang. Detik ini.
Apa tantangan saat ini?
Bagaimana memecahkan masalah saat ini?

Terus nanti gimana?
Jawabannya sederhana dan pasti.
Tergantung bagaimana kita saat ini.
Tergantung karya kita saat ini.

Mungkin ini yang menghentikan saya menghadiri seminar yang bertajuk
"Hadapi Tantangan Masa Depan" :)

Beberapa hal yang bisa kita lakukan saat ini:

1. Jadilah Fleksibel
Perubahan yang setiap detik ini menuntut kita untuk lebih fleksibel.
Kalau tadinya keras kepala harus bikin iklan yang seperti anu dan inu.
Mungkin bisa lebih fleksibel dengan bikin iklan yang sesuai dengan problem klien.

2. Perlebar Kemungkinan
Setiap hari kalau mau dicari, pasti ada hal baru yang bisa dipelajari.
Pelajaran baru akan membuka kemungkinan baru.
Tadinya hanya bisa menjadi copywriter?
Kenapa gak mencoba menjadi art director?
Tadinya hanya mau jadi orang iklan untuk bikin iklan?
Kenapa gak mencoba jadi orang biasa untuk kemudian bikin iklan?

Kalau selama ini mencari ide iklan dari iklan lain,
mungkin bisa perlebar dengan mencarinya di lukisan?
Karya instalasi? Pasar basah? Konser dangdut?

3. Hilangkan Standar Diri dan Malu
Kita sering lupa, iklan adalah karya yang dibayar.
Karya pesanan.
Karena sifatnya pesanan, maka bukan standar diri yang penting.
Tapi standar yang sesuai permintaan dan kebutuhan klien.

4. Percayalah, Klien Paham Iklan
Klien setiap hari berinteraksi dengan konsumen.
Klien juga paham apa yang konsumen inginkan.
Bahkan mungkin lebih paham.
Bekerjasamalah dengan klien.
Dengar dan mendengarkan klien.

5. Jadilah "Nol"
Jatuh cintalah tanpa membawa luka hati masa lalu.
Luka hati masa lalu hanya akan menjadikan kita ragu dan sinis.
Jadilah cawan kosong. Yang siap dimasuki air.
Ego adalah penghalang nomor wahid.

Selamat Menyambut Masa Kini.




Mengapa Kreatif Periklanan Perlu Merasakan Jadi Klien?

Saya, memang bukan orang yang bisa fokus di satu hal berlama-lama.
Termasuk dalam urusan karir. Saya tidak pernah merasa harus bekerja di dunia periklanan.
Saya bahkan tidak merasa harus berkarya di jalur kreatif.

Beruntung saya sempat menjalani profesi lain.
Ada yang sambilan ada yang sambil lalu.
Profesi itu adalah berdagang.
Namanya juga cenes... buah jatuh gak jauh dari pohonnya.

Sebulan ini, saya bekerja freelance di sebuah perusahaan yang menjual perhiasan.
Tugas saya yang utama adalah menjaga agar desain-desain yang dikeluarkan sesuai dengan mereknya.
Karena itu saya berinteraksi dengan banyak karyawan yang semuanya 'bukan anak ahensi'.

Mereka bukan tidak punya masalah, tapi ada satu hal penting yang saya pelajari
setelah membandingkannya dengan bekerja di biro iklan.

Di biro iklan, ketika menjual "ide", maka kita mencari segala hal untuk mendukungnya.
Rasionalisasi, alasan, argumen dan sebagainya.
Tak jarang, dalam sebuah deck presentasi,
argumen itu jumlahnya lebih tebal dibandingkan dengan idenya sendiri.

Ketika kita menjual (baca: presentasi) maka segala kemampuan kita kerahkan.
Laku? Senang bukan alang kepalang.
Gak laku? Sedih. Kalaupun bilang "biasa aja lah" itu untuk menghibur diri sendiri aja.

Berbeda dengan saat kita menjual barang. Jadi pedagang barang.
Apalagi kalau barang yang kita jual memang terbukti bagus. Terbukti berkualitas.
Kita sama-sama berjualan.

Bedanya?

Rasionalisasi dan alasan yang diberikan lebih "bergengsi".
Pasti kita akrab dengan "boleh cek ke toko sebelah!"
Itu adalah salah satu bukti kepercayaan diri yang luar biasa.

Mau beli? Silakan.
Gak mau beli? Tidak mengapa. Akan ada yang lain yang akan membeli.

Hal sederhana ini yang ternyata selama ini hilang saat saya bekerja di biro iklan.
Mana mungkin saat klien tidak membeli ide, setelah berbusa-busa berjualan, kita bisa melenggang cuek cari klien lain?
Ide iklan sulit untuk direcycle.
Setiap ide dibuat khusus untuk klien tertentu dengan masalah tertentu.

Menjadi pedagang, memang punya tantangan lain.
Yang utama, saat toko sebelah menjual barang lebih baik dan lebih murah, misalnya.

Mengapa anak kreatif perlu duduk di kursi klien?

Di suatu siang, saya iseng membuka-buka presentasi biro iklan yang pitching untuk menangani klien ini.
Harus saya akui, solusi yang biro iklan berikan memang terkesan "lucu-lucuan".
Seolah tak mau paham persoalan klien.
Yang penting iklannya keren, seru, lucu, imut!

Contoh lain, bagaimana bekerja bersama klien membuka pikiran saya.

Sebelum saya memasuki kantor ini, saya memiliki sebuah ide yang akan saya presentasikan.
Di kepala saya saat itu, ide tersebut brilian!
Setelah sebulan bersama klien, saya mulai merasakan ide tersebut tidak relevan.
Dan untungnya, saya menemukan ide lain yang lebih sesuai.
Mungkin tidak "secanggih" ide yang awal.
Tapi lebih relevan dan mulai berpikir bahwa semua investasi harus bisa dipertanggung jawabkan.

Dengan pengalaman sederhana ini,
saya semakin yakin.
Kalau ingin jadi anak kreatif periklanan,
cobalah bekerja bersama klien.
Bukan hanya datang saat presentasi.

Duduk bersama. Rasakan mood dan tense yang klien alami.
Culture perusahaan. Celah yang ada. Apa yang mungkin dan tidak mungkin.
Percayalah, ini tidak akan mengungkung, malah membuka banyak pintu lain.

Pintu yang akan membawa pikiran dan ide kita pada, solusi.