Wednesday, July 23, 2014

ADA PRABOWO DI DIRI KITA MASING-MASING

KALAU BENAR,
Prabowo sedang berhalusinasi…


Cobalah lihat ke sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri. 

Berapa banyak yang sedang berhalusinasi.

Punya followers banyak, lantas merasa berpengaruh dan terkenal. 

Punya bisnis baru mulai, langsung menyebut diri entrepreneur.
Bisa bernyanyi dengan nada melengking dan mengenakan gaun gemerlap, 

kemudian menyebut dirinya Diva.

KALAU BENAR,
Prabowo tidak menerima kekalahan dengan ksatria….


Diantara kita bukankah banyak yang marah-marah di jalan raya walau salah?
Tidak terima saat hutangnya jatuh tempo dan ditagih?
Atau mengamuk karena dia lupa pada janji yang dibuatnya sendiri?


KALAU BENAR,
Prabowo itu temperamental….


Akan sangat mudah untuk mencari ucapan-ucapan kasar 

dan bahkan tidak manusiawi di timeline media sosial kita.
Lepas kendali bersumpah tanpa memikirkan akibatnya.
Menyerobot antrian bukankah pemandangan sehari-hari?


Langkah sederhana untuk memulai Revolusi Mental 

adalah dari diri kita sendiri.

Karena Presiden, hari ini dipuji besok dicaci.
Pemimpin datang dan pergi. 

Mereka tidak bisa mengubah kehidupan kita ke arah yang lebih baik.
Menjadi manusia dan warga negara yang lebih baik 

sepenuhnya adalah kemauan dan tekad kita.


Monday, June 16, 2014

Waktunya Bersuara

Pemilu kali ini, adalah Pemilu yang paling menggairahkan. Dua calon pemimpin keduanya memiliki keunggulan. Dan masing-masing memiliki cara dan gaya yang berbeda. Makanya, wajar kalau timses dan pendukung bekerja keras untuk memenangkan kandidatnya.

Bandingkan dengan beberapa Pemilu sebelumnya yang pemenangnya sudah diketahui sebelum rakyat bisa memilih. Sudah ditentukan.

Diantara semua Pemilu yang pernah saya ikuti, bisa dibilang tahun ini paling meriah. Dengan semakin berperannya sosial media di 2 Pemilu terakhir, lebih banyak yanh bisa menyuarakan pendapatnya. Bahkan tak ada lagi kata "rahasia" dalam LUBER buat para netizens.
Bagus atau tidak? Saya tidak tahu. 

Termasuk buat saya yang separuh umur di Indonesia, hidup dalam pembungkaman. Pendapat dan pemikiran saya mengenai Pemilu di awal hidup saya, semua disimpan dalam hati. Karenanya saat sekarang bisa bersuara, saya benar-benar merasa menjadi bagian dari yang disebut Pesta Rakyat.

Sehingga mungkin buat banyak orang, kelepasan ini adalah kenorakkan yang menjijikan. Untuk itu saya minta maaf. Mungkin karena kita dibesarkan dan memiliki latar belakang keluarga yang berbeda.

Mencintai Indonesia buat saya bukan perkara mudah. Tidak bisa diucapkan, karena sudah dibungkam. Hanya bisa melalui pembuktian demi pembuktian kerja tanpa henti. Dan tak selalu menghasilkan bahkan terkadang dikhianati.
Tragedi 98 jangan pernah dilupakan dan jangan pernah terulang lagi.

Lima tahun sekali, hanya lima tahun sekali kita berpesta. Menyuarakan pendapat, dukungan, dan harapan kepada CaPres jagoan kita. Sehingga buat saya upaya untuk membungkam ini adalah kecurangan. Tapi mungkin, karena tidak semua pernah merasakan dibungkam. Ketika pendapat dan suara hati hanya berhak disimpan dan terkadang menusuk ulu hati.

Kalau saya ikut dalam kemeriahan Pesta Rakyat tahun ini adalah juga upaya agar saya diterima sebagai warga negara Indonesia. Sesuatu yang seumur hidup saya perjuangkan. Karena saya tidak bisa membayangkan hidup dan berkarya di negara lain.

Percayalah, betapa pun menderitanya karena keriuhan 5 tahunan ini, akan lebih menderita saat dibungkam nanti.

Penulis: Anonim

Thursday, May 22, 2014

Karya Terbaru

Ilustrator: Cecilia Hidayat
Jika dirasa pesannya sesuai, silakan sebarluaskan. Tanpa perlu ijin apalagi mention.
Terima kasih





Sunday, June 16, 2013

Selamat Hari Ayah

Untuk setiap tanah
yang telah memberikan aku pijakan.
Untuk setiap pohon
yang telah meminjamkan rantingnya untuk aku bergantung.
Untuk setiap sungai
yang telah mengaliri aku kehidupan.
Untuk setiap awan
yang telah meneduhkan aku dari terik yang membakar.
Untuk setiap ibu
yang telah membagi perannya sebagai ayah.

Glenn Marsalim
17/06/2013

Friday, February 22, 2013

Holycow Holykau

Holycow Steakhouse by Chef Afit, adalah nama baru setelah Holycow pecah kongsi. Usaha milik Lucy Wiryono dan Afit ini tersebar di Senopati, Kelapa Gading dan yang terbaru di Kebon Jeruk. Pemiliknya lebih suka menyebut "warung" walau mungkin sulit untuk kita makan steak sambil angkat kaki ke kursi apalagi makan pakai tangan.

Warung yang dimaksud pemiliknya mungkin lebih tepat dimaknai sebagai kultur ketimbang bentuk. Warung di mana semua bisa santai makan steak dengan harga yang bersahabat. Untuk generasi 70'an mungkin masih ingat di masa mereka kecil, makan steak adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh orang berada.

Jadi ingat pada waktu itu saya dan ibu sedang jalan-jalan di mall dan saya mengutarakan keinginan untuk mencicipi wagyu. Ibu saya menjawab "boleh, tapi kamu jadi menteri dulu..."

3 tahun yang lalu, saat Twitter belum seterkenal sekarang, Holycow mulai sering berseliweran di timeline. Saya pun ingin segera mencicipinya. Namun lokasinya yang cukup jauh dari tempat tinggal saya, menghentikannya. Ditambah beberapa komentar para "pakar makanan" seperti "ah itu wagyu kelas berapa? wagyu kan mesti ada sertifikatnya!"

2011, saya baru berhasil mencicipi steak wagyu kreasi Chef Afit ini. Saya juga beruntung bisa makan langsung ditemani Lucy. Kenapa? Karena di saat yang bersamaan, Lucy menceritakan mulai dari silsilah restoran sampai kualitas wagyu yang mereka gunakan. Lucy seolah tau pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya saat makan. Singkat kata, daging steak yang mereka gunakan benar-benar wagyu.

Saya bisa makan wagyu tanpa perlu jadi menteri terlebih dahulu.

Pertanyaan banyak teman "enak gak?" tidak bisa saya jawab dengan satu kata. Makanya ini saya merasa perlu menulis di blog. Dan tentunya saya akan skip jawaban "rasa kan soal selera" karena rasannya semua orang sudah tau itu.

Setelah beberapa kali makan di Holycow Steakhouse by Chef Afit, saya menemukan diri saya merelakan mengeluarkan uang berkali-kali untuk makan makanan yang sama. Artinya? Pasti saya merasa rasa dan harga seimbang. Ini yang menurut saya seringkali kita lupakan saat kita menikmati makanan. Pernah saya mendengar komentar teman "ah menurut gue sih enakan wagyu Rustique". Saya  diam saja. Itu hak dia. Tapi menurut saya itu bukan perbandingan yang seimbang.

Kalau ingin membandingkan Holycow, bandingkanlah dengan restoran sejenis yang sekarang semakin menjamur. Dan fakta bahwa restoran steak "murah" semakin menjamur tentunya membuktikan keberhasilan Holycow.

Di suatu siang, karena ada proyek bersama Holycow, saya menyempatkan diri untuk duduk berlama-lama di pojokan warung. Saya ingin mengamati tamu yang sedang menikmati steaknya. Ada yang makan dengan memotong daging langsung makan tanpa saosnya. Ada yang memotong daging, celup ke saos sebelum masuk ke mulut. Dan yang terbanyak adalah, memotong daging kecil-kecil, siram dengan saos, sebelum makan sepotong-sepotong.

Untuk para food critique pasti akan langsung mencemooh "itu mah makan semur!"

Mungkin mereka benar. Itu bukan lagi steak tapi semur. Tapi mungkin juga para food critique lupa, bisa jadi ini adalah pengalaman pertama makan yang disebut "steak"untuk banyak orang. Ada berapa manusia di kota ini yang beruntung untuk bisa makan steak sebelum Holycow buka? Apalagi steak wagyu.

Pengamatan ini kemudian membawa saya berpikir bahwa Holycow bisa jadi telah menjadi pembuka lidah dan wawasan bagi banyak warga Jakarta. Lidah karena mereka telah mencicipi steak. Wawasan karena setidaknya mereka mengenal aroma dan rasa steak. Membuka rasa baru yang bukan tidak mungkin menambah rasa percaya diri saat mereka bergaul nantinya. Percaya diri? Benar. Karena sekarang semakin banyak orang yang bisa bilang "yes, i have tried steak. not only steak but wagyu steak!" Dan untuk itu semua, kita cukup mengeluarkan kocek sebesar 80 ribu - 150 ribuan saja.

Sepenting itukah? Terserah dari mana mau melihatnya. Yang pasti, saya sering bertemu dengan teman-teman seangkatan yang tidak bisa menggunakan sumpit dengan benar. Atau kebingungan saat hendak makan sushi. Mencicipi miso dengan sendok sambil berkata "asin doang nih?"Atau sesederhana makan cupcake dengan sendok.

Dengan adanya Holycow kita bisa berharap tidak ada lagi warga Jakarta yang menjawab "small" ketika ditanya "mau yang medium atau well done?"

Saat saya ikut dalam sebuah riset berbayar oleh biro iklan internasional mengenai makanan, Holycow menjadi salah satu contoh kasus. Salah satunya yang saya ingat adalah "demokratisasi makanan". Yang secara mudah bisa kita artikan, yang tadinya makanan gedongan kini bisa dinikmati oleh warungan dan yang tadinya makanan warungan kini masuk ke gedongan.

Tidak percaya?
Silakan jalan-jalan ke mall berbinar di ibukota. Dengan mudah kita menemukan restoran yang menawarkan wedang ronde, tape ketan, bahkan nasi kucing! Laku? Silakan temukan para eksekutif muda ibukota menikmati makanan "kampung" ini dengan nikmatnya di jam makan siang. Tentunya di restoran yang telah ditata menyerupai warung lengkap dengan pelayan yang berdandan ala Inem pelayan warteg.

Holycow baru saja membuka Loobie, sebuah warung (lagi) yang menawarkan lobster. Saat diundang ke pembukaannya, saya bertanya pada diri saya sendiri "kapan terakhir makan lobster?" Saya tidak ingat. Bahkan mungkin saya belum pernah makan lobster.

Pulang dari acara itu, jauh di lubuk hati saya berbisik "saya sudah pernah makan lobster dan oh begitu rasanya". Dan ketika ditanya "enak gak?" Mana saya tau. Saya belum pernah makan lobster. Dan seingat saya, saya menikmatinya.