Saturday, November 28, 2009

Oh Begini Rasanya...





20 November 2009, akan sulit untuk gue lupakan. Gue dan temen-temen yang ngerjain proyek Bolbal selama ini. Bukan berlebihan rasanya kalau di malam Citra Pariwara itu kami semua terdiam menerima kenyataan bahwa gosip itu benar adanya.

Kejutan terjadi di awal acara saat kerjaan mini itu menerima piala emas untuk kategori unconventional medium. Gue waktu itu sempat mikir "eh ini beneran atau becandaan ya?" Tau sendiri kan, orang iklan doyan ngerjain. Tapi acara berlanjut terus. Berarti emas itu benar sudah di tangan kami.

Saat itu saya berpikir, Bolbal tidak mungkin lebih tinggi dari ini. Di hari sebelumnya, lutut gue gemetar menahan malu saat melihat entry Take A Box - Saatchi Jakarta. Keliatan banget lah bedanya. Take A Box terlihat sangat sempurna sebagai sebuah entry lomba iklan.

Dugaan saya benar, berikutnya ketika kategori kampanye integrasi, langkah Bolbal terhenti sampai finalis saja. Sedikit kejutan terjadi ketika Bolbal diganjar sebuah bronze untuk kategori kampanye digital. Dalam hati gue bersyukur. Dengan semua yang diraih pada malam ini, sudah cukup alasan untuk gue bersyukur.

Acara Citra Pariwara pun berlangsung seperti biasa, lamban dan membosankan. Kecuali bagi yang menang tentunya. Bersama teman-teman gue duduk di belakang. Karena acara hampir selesai, gue tungguin aja deh. Sampai selesai lah sekalian siapa aja yang menang Best untuk setiap medium.

Bolbal emang dasar banci tampil. Belum puas dengan semua penghargaan itu, Bolbal masih dapet lagi BEST OF UNCONVENTIONAL MEDIA! Ketika diumumkan, dalam hati gue kembali berpikir "oh bener ternyata gosip itu". Seperti yang sudah kami rencanakan, kalau sampai dapet Best Medium maka giliran gue untuk naik panggung CP. Panggung yang belum pernah gue jajaki sebelumnya. Sumpe! Gue BELOM PERNAH naik panggung CP seumur hidup gue.

Di atas panggung yang terang benderang, ada Firman Halim di panggung, Arie Triono jadi DJ, Dini Makmun jejeritan pake sempritan, teman2 Saatchi yang memberikan standing ovation, Aldo dan Alfa yang kemudian memberikan kaos bolbal untuk gue pegang, dan banyak lagi. Di belakang kayaknya ada Diki dan Wahyu yang teriak2 kenceng, Elwin Mok dan gang ikutan menyoraki. Karena gue limbung, gak bisa inget semua. Alhasil, gue cuma bisa cengangas cengenges aja di atas panggung.

Ketika piala tertinggi itu diberikan kepada gue, dalam hati gue berpikir "Oh, begini rasanya..."
Kayak apa? Ya gitu deh... Sekumpulan orang, ada yang orang iklan banyak yang bukan, sama-sama bikin sesuatu, tau-tau masuk 5 besar Agency Of The Year 2009. Alhamdulillah. We are just a bunch of lucky basterds and biatchies!

Ijinin gue kali ini untuk bilang Terima Kasih buat semua, semua, semua yang udah bantuin kami. Doanya, supportnya, jejeritannya, sorakannya, kritikannnya, sarannya, komennya, pokoknya semua lah. Bener-bener pengalaman yang gue pribadi gak akan gue lupakan seumur hidup. Bukan cuma pengalaman kemenangan Citra Pariwara, tapi juga semua pengalaman yang terjadi.

Tentunya banyak yang sekarang bertanya
"abis ini apa, Glenn? kirim ke Adfest dan Cannes ya!"

Gue cuma senyum-senyum aja.
Semua yang telah terjadi selama ini adalah tanpa rencana dan tak terduga.
Dan untuk gue pribadi, lebih menikmati.

Terima kasih untuk yang pernah bilang
"remove all your egos. don't make plan too much. just do it. one step at a time. you will be fine"
Thanks Datin, you sleep well. Ilopcu!

Dan yang selalu ada di hati gue: Pak Yayan.
Apa kabar ya dia sekarang? Semoga Tuhan melindungi dia dan keluarganya.



Credit Title:

Alfa Aphrodita, Yuriasari, Aldo Khalid, Patrick Van Diest, Fajar Jasmin, Leonnie FM, Justinus Bramanto, Yanne Ade, Ramon, Surya Arief, Iim Fahima, Dondi Hananto, Pandji Pragiwaksono, Ramya Prajna, Iwet Ramadhan, Daniel Tumiwa, Nasta Inda, Lisa Siregar, dan yang pasti buat Ismet! Ismet! Ismet! yang membuat semua ini berawal dengan #IndonesiaUnite.

Friday, October 02, 2009

PULKAM



ini adalah kerjaan terakhir kami

http://pulkam.indonesiaunite.com

dan liputannya di The Jakarta Globe

http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/village-pride-online/333152

Sunday, August 30, 2009

BOLBAL


Sudah lama gue gak ngupdate blog ini. Sibuk ngurusin kaos BOLBAL.
Mau tau info-nya?

www.bolbal.indonesiaunite.com

ini di youtube:
http://www.youtube.com/watch?v=8Q5W6G3C9Lg
http://www.youtube.com/watch?v=pFynQOAa2wY

gak ngira kalau kerjaan kecil kami ini diliput media dalam dan luar negeri
The Autralian, BBC News, The Jakarta Globe, Kompas Online, @Adland dan Superfuture
detailnya ada di sini:
http://bolbal.indonesiaunite.com/category/coverage/

god is only kind to us.
alhamdulillah

Saturday, June 27, 2009

The Red Balloon - Albert Lamorisse



Setelah Tokyo Story, akhirnya saya menemukan lagi film yang langsung menjadi inspirasi saya. Kali ini film pendek berdurasi 34 menit berjudul The Red Balloon, arahan Albert Lamorisse.

Film yang dibuat tahun 1956 dan diperankan oleh Pascal Lamorisse, putra Albert. Ceritanya sangat sederhana. Dalam perjalanan ke sekolah seorang anak sd, yang diperankan oleh Pascal, menemukan balon berwarna merah tersangkut di tiang listrik. Pascal kemudian menyelamatkan balon itu.

Sambil berjalan ke sekolah ia terus memegang balon tersebut. Cerita kemudian berkembang saat balon itu ternyata bukan balon biasa. Balon itu memiliki kehidupan. Ia mengikuti kemana pun Pascal pergi. Bahkan, balon itu bisa jatuh cinta pada balon lain berwarna biru.

Karena balon itu bukan balon biasa, maka dengan cepat balon merah itu menjadi perhatian seluruh anak di sekolah Pascal. Mereka berusaha merebutnya dari Pascal. Pascal yang mulai merasakan hubungan batin dengan balon itu melakukan segalanya untuk terus memilikinya.

Hampir tidak ada percakapan dalam film ini. Setiap adegan dengan lugu bercerita tentang kehidupan. Apakah balon itu adalah cinta? Harapan? Rezeki? Kecemburuan? Dan jutaan tafsir yang kesemuanya membawa kita untuk semakin mencintai kehidupan itu sendiri. Kita seolah diajak untuk berkaca. Ada banyak adegan kehidupan nyata kita yang dibiaskan di film ini.

Saya tak memiliki cukup banyak kosa kata untuk menceritakan betapa film ini telah menginspirasi saya untuk terus menghidupi kehidupan saya.

Inilah film yang menurut saya pantas untuk disimpan dan ditonton oleh seluruh keluarga. Saya baru menontonnya sekali. Semoga saya dianugerahi umur panjang untuk menonton film ini lagi dan lagi.

Tuesday, April 21, 2009

Pengen Tapi Gak Bisa

body { background: #fff; margin: 0px; padding: 4px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; height: auto; width: auto; }
Pernah gak sih ngerasain,
pas loe dihina-hina,
hanya karena loe punya pendapat berbeda?
Dan loe gak bisa ngebales.

Karena kalau loe bales,
nanti keadaan makin keruh.
Karena kalau loe bales,
tuhan nanti marah.
Karena kalau loe bales,
loe gak ada bedanya sama mereka.

Pernah gak sih ngalemin
di mana loe dipermalukan di depan umum,
dan takdir ketidak sempurnaan loe
digunakan untuk bahan tertawaan?

Pernah gak sih ngerasain
waktu omongan loe dimanipulasi
dan dipakai untuk ngelawan loe?

Pernah gak sih ngalemin
waktu pendapat loe dibelokkan
untuk menyakiti hati loe?

Gue pengen banget membela diri
pengen bilang kalau itu gak bener loh...
maksud aku begini bukan begitu...

Tapi hati kecil gue terus-terusan bilang
"udah diemin aja lah...
nanti juga lewat kok."

Saturday, April 04, 2009

Catatan Kecil KL Design Week

Ini adalah hasil dari yang gue pelajari dari seminar 3 hari di KL Design Week.

Dari semua pembicara, yang luar biasa dan mengundang standing ovation ada 6.
1. Eva Rucki dari UK
2. Stefan Sagmeister dari New York (sekarang lagi bermukim di Bali)
3. Chris Bosse dari Sydney
4. Aya Kato dari Jepang
5. Nathalie Fallaha dari Beirut
6. Kuntzel + Deygas dari Perancis

Oh, btw, David Carson gak jadi dateng! (untuk kesekian kalinya!)

1. Eva Rucki

Eva Rucki adalah salah satu pendiri Trio Troika. Mendengar brand Troika, kalau jalan-jalan ke Debenhams di Jakarta akan satu counter yang menjual barang2 unik merek Troika. Entah ada hubungan apa, tapi Troika adalah salah satu brand design terkemuka di dunia. Salah dua masterpiece dari Troika adalah "Tool for Armchair Activist" dan - dengan istilah gue sendiri - "Curvy Digital Lettering".

"Tool for Armchair Activist" adalah sebentuk karya instalasi yang merupakan bentuk perlawanan dari tekanan pemerintah UK. Mesinnya berbentuk sangat sederhana, tapi bekerja seperti pengeras suara yang bisa langsung menyuarakan komplen, protes dan kritikan yang bisa dikirimkan oleh siapapun menggunakan SMS!
Pengeras suara itu kemudian diletakkan di depan kantor-kantor pemerintah.
Karya ini menjadi begitu monumental dan masuk dalam salah satu karya terbaik dunia bukan karena segi estetisnya, tapi karena memiliki kepekaan dan kesadaran akan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

"Curvy Digital Lettering"
Kalau kita sering melihat huruf digital seperti di kalkulator, memiliki bentuk yang standar. Seperti angka 8 dari garis-garis horizontal dan vertikal. Kemudian dalam pengembangannya ada garis silang di setiap kotak.
Ketika Troika mendapat tugas untuk menyampaikan sebuah pesan digital di stasiun kereta bawah tanah, mereka menciptakan pola huruf digital baru yang bisa membentuk lengkungan-lengkungan sehingga huruf yang keluar tidak lagi kaku.
Karya ini pun mendapat pujian, lagi-lagi bukan karena tingkat estetisnya, tapi kemampuan untuk mendobrak batasan-batasan dunia digital.

Secara intinya Eva berbagi dan mengajarkan bahwa desain adalah bentuk fungsi yang bergerak sesuai dengan zamannya. Troika memiliki kepekaan yang luar biasa sehingga bisa menghasilkan karya yang walau sederhana, menjawab kebutuhan masyarakat sekitarnya. Menjadi corong untuk bahasa benak rakyat kebanyakan.
Tanggung jawab sosial dan lingkungan, menjadi hal yang begitu penting dalam dunia desain grafis kontemporer.
"Good design is a concept that encompasses sensibility with a sense of economy and is often inspired by necessity"

Ada banyak karya-karya lain yang bisa bikin mata kita membelalak ketika tahu sumber inspirasi karya-karya mereka. Mesin ketik antik, kotak mainan anak-anak, balon, lukisan kuno dan banyak lagi.

2. Stefan Sagmeister

Menjadi pemungkas dari rangkaian acara, menempatkan Stefan sebagai icon dunia desain grafis dunia. Kehadirannya ditunggu-tunggu dan presentasinya tidak pernah gagal menjadi inspirasi. Dan benar saja, Stefan tidak berbicara soal teknis. Tidak lagi berbicara soal aturan dan rumus. Tapi Stefan berbicara soal kebahagiaan. Happiness.

Bagi Stefan karya desain yang baik adalah karya yang bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain. Bagi sekitar. Bagi masyarakat. Dan satu-satunya cara untuk seorang desainer bisa menciptakan kebahagiaan untuk orang lain, adalah dengan menciptakan kebahagiaan bagi diri desainer-nya dulu.

Stefan menceritakan pengalaman pribadinya, masa lalu-nya, kemudian menggaris bawahi hal-hal yang membuatnya bahagia. Ia pun berpendapat bahwa 'pencipta/desainer' mutlak membutuhkan kebahagiaan dalam bekerja. Ia tidak percaya bahwa orang bisa menghasilkan karya yang baik tanpa kebahagiaan dalam mengerjakannya. Banyak kalimat-kalimatnya yang begitu mencerahkan dan membuat kita, para peserta, merasa bahwa sudah begitu lama kita mendustakan kebahagiaan. Kita terus mencari kebahagiaan tanpa pernah mencarinya ke dalam diri kita sendiri. Dan dalam perjalanan mencari kebahagiaan itu, sering kita melupakan tujuan perjalanan itu sendiri.

Sosoknya yang sederhana, secara tidak langsung membuat gue membandingkan dengan para dewa orang iklan. Stefan adalah orang yang begitu 'konten' dan apa adanya. Tak banyak pernik cantik apalagi kedivaan yang biasa ditunjukan oleh orang iklan. Dan benar saja, menjelang akhir presentasinya, Stefan berkata, "saya tidak percaya kalau ada orang bekerja di dunia iklan yang bilang bahwa ia bahagia setelah 20 tahun bikin iklan". Sontak gemuruh 200 an peserta seminar tertawa dan bertepuk tangan.

Salah satu karyanya yang sedang dikerjakan di Bali adalah sebuah meja. Di atas meja itu dipenuhi dengan kompas kecil-kecil yang tertata rapih. Kemudian sebilah kaca diletakkan di atasnya. Tak berhenti di situ, Stefan kemudian menciptakan cangkir, yang di bawahnya direkatkan magnet kecil. Sehingga ketika cangkir itu diletakkan di atas meja, jarum-jarum kompas yang jumlahnya ratusan itu akan bergerak dengan cantiknya :)

Siapa yang tak akan bahagia ngopi di meja seperti itu kan?

3. Chris Bosse

Chris adalah salah seorang pendiri biro arsitek LAVA. Lava adalah otak dibalik penciptaan stadium Birds Nest dan kolam renang olimpiade Watercube di Beijing! Sepanjang presentasi, setiap slide, tak lain adalah keindahan yang gue gak sanggup menceritakannya. Gedung tidak lagi tegak lurus dan melengkung dan seolah bergerak dinamis. Permukaan bangunan tidak lagi rata, tapi bergelembung seperti busa sabun cuci baju. Semua tersaji dengan permainan lampu yang membawa semua yang melihatnya masuk ke dalam alam fantasy.

Mau tau dari mana Chris mendapat inspirasinya? Satu kata. Dari alam. Dan ketika semua dipresentasikan, semua melongo tidak percaya. Busa sabun pencuci piring adalah inspirasi dari Watercube! Sarang burung di taman rumahnya, jadi inspirasi desain Birds Nest. Lampu Lava yang bergerak dengan dinamis, jadi inspirasi sebuah bangunan mewah Bubble High Rise building di Berlin. Karya-karya Lava bukanlah bangunan. Tapi menciptakan sebuah landmark kota.

Hampir semua yang melihat karya Chris kan terbawa emosi. Ada yang merinding, tersenyum, terharu dan bahkan menitikkan air mata. Bayangkan, sebuah bangunan bisa menggugah emosi. Itu semua bisa terjadi karena Chris memiliki kepekaan yang luar biasa pada lingkungan dan alam. Bukan bangunan yang menyingkirkan alam, tapi bangunan yang menjadi satu dengan alam.

Ketika Chris memperlihatkan video presentasi pitch untuk gedung olimpiade Beijing, pikiran gue melayang ke bagaimana kita melakukan video presentasi untuk iklan. Kurang lebih sama. Bedanya, Chris tau benar cara menggugah emosi klien. Klien seolah dibawa ke dunia fantasy yang diciptakan. Membangun imajinasi. Dan kemudian imajinasi itu menari-nari di dalam. Bahkan ketika ada kesalahan karena perenang loncat indah di 3D animasi itu menggunakan kacamata renang yang seharusnya tidak, klien pun melupakannya.

4. Aya Kato

Sebelumnya, gue udah sering mendengar nama Aya Kato. Ilustrasi karya perempuan Jepang ini sering jadi referensi beberapa iklan yang pernah gue bikin sama Cecil dan Juli untuk ikutan awards. Keluarbiasaan karyanya, ada pada detail yang bikin pikiran kita tidak mempercayai mata lagi. Dan, Aya sering memadukan pengaruh barat dalam karyanya. Ada Alice in Wonderland, Snow White, dan lain-lain. Sayangnya, Aya hanya ikut di bagian forum diskusi, dan karya-karyanya masuk ke pameran yang tidak boleh difoto.

Ketika melihat sosok Aya secara langsung, pikiran gue melayang ke 3 perempuan temen deket gue. Ree, Cecil dan Beti. Badannya kecil, kurus lengkap dengan kepangan yang dibikin melingkar di kanan kiri. Sepanjang 2 jam forum tanya jawab, Aya duduk dengan rapih dan manis, didampingi seorang penterjemah. Semua dijawab dengan sangat lugu bahkan cenderung tidak menjawab pertanyaan, tapi semua bisa memahami maksudnya.

Ketika ditanya apakah perlu untuk memasukkan unsur kelokalan dalam sebuah karya, Aya tampak bingung. Dengan terbata-bata ia manyampaikan bahwa sebuah karya adalah hasil dari dari emosi penciptanya. Dan pencipta yang baik, selalu menjadi diri sendiri. Tidak perlu mencontoh karya orang lain, apalagi berusaha menjadi orang lain.

Kegemaran Aya pada dongeng barat itu, tidak serta merta dituangkan secara langsung. Tapi ia berhasil dengan cantiknya mengekspresikan dengan cita rasa yang sangat Jepang. Coba google deh. Harusnya ada.

Karya-karyanya yang monumental itu, kemudian ditelaah oleh para kritikus seni. Dan dari situlah ditemukan ketertarikan Aya pada elemen Art Nouveau, Manga dan Pop Art. Tak kurang dari Microsoft Zune, Tori Amos dan Hitachi pernah menggunakan karyanya. Kalau ada yang lagi iseng jalan-jalan ke Amerika, Spanyol, Brazil dan Rumania, berkunjunglah ke museum yang memamerkan karya lukis/gambar kontemporer. Dipastikan karya Aya ada diantaranya.

Waktu gue melihat pameran, sebenarnya Indonesia memiliki banyak ilustrator yang bisa menggambar sebaik atau bahkan lebih baik dari Aya. Tapi ada satu hal yang melekat erat di setiap karyanya. Karakter. Nafas keluguan yang ditampilkannya tidak pernah gagal untuk memberikan warna di hati kita. Ada roh nya, kalau kata orang.

5. Nathalie Fallaha

Bukan gampang untuk Nathalie menjadi presenter dadakan menggantikan David Carson yang tidak jadi datang. Apalagi nama cewek asal Beirut ini memang jarang terdengar. Bahasa inggrisnya pun pas-pas an. Di awal presentasinya, pasti banyak yang mengerutkan kening.

Tapi Nathalie memang luar biasa. Di akhir presentasinya, Nathalie dinobatkan sebagai The Show Stealer! Nathalie berhasil menyirap semua peserta untuk masuk ke dalam kota Beirut. Foto-foto grafiti di Beirut, tempelan poster-poster yang sudah robek, signage tukang cukur dan lain-lain ditampilkan sebagai sumber inspirasinya. Peserta pun perlahan diajak untuk mamahami keindahan karya Nathalie. Kalau lagi iseng, liat deh dibalik pintu ruangan Neo 1, ada banyak foto-foto serupa. Kalau di situ isinya lebih ke orang-orang.

Sebagai perempuan di Beirut, Nathalie memiliki jiwa pemberontak. Ia menciptakan tokoh kartun perempuan berjilbab. Salah satunya adalah perempuan berjilbab sedang membawa anjing yang juga berjilbab! Nathalie meneriakkan protesnya, bahwa kalau perempuan diharuskan memakai jilbab karena dianggap rendah dan najis, apa bedanya perempuan dengan anjing. Sangat-sangat kontroversial dan lantang!

Saat acara tanya jawab, Nathalie protes keras ketika ditanya pendapatnya tentang pengaruh barat dalam karya Asia. Ia dengan lantangnya menyarankan agar para desainer berhenti melihat karya-karya dari luar dan mulailah menggali inspirasi dari sekitar. Desain adalah bentuk ekspresi terdalam dari keunikan setiap manusia. Karenanya, Nathalie mengajak setiap desainer untuk bersyukur dan menjadi diri sendiri.

6. Kuntzel & Deygas

Pada sebuah liburan yang meresahkan karena tekanan finansial, pasangan ini 'iseng-iseng' menggambar sepasang anjing yang diberi nama Caperino dan Peperone. Secara tampilan, sangat sederhana. Kalau rezeki memang gak ke mana. Dari karya inilah yang membawa duo desainer ini kemudian menangani brand seperti Yves Saint Laurent, Toyota, HSBC, Nokia, MTV dan... menjadi cover majalah Idn!

"Minimalism Needs Maximalism" begitu seruan mereka. Banyak yang salah mengartikan kata minimalis menjadi asal-asalan. Selama banyak bidang putih, kemudian dengan seenak udelnya bilang minimalis. Menurut mereka, betul karya tidak perlu menjadi kompleks. Ia harus sederhana. Tapi dibalik karya sederhana itu dibutuhkan pemikiran yang mendalam dan usaha keras.

Caperino dan Peperone, sepintas lalu seperti gambar 2 anjing biasa. Yang menjadikannya luar biasa, bagaimana kedua desainer ini kemudian menghembuskan nafas pada anjing itu. Selanjutnya, kedua anjing itu kemudian berubah bentuk dan menjadi bagian dari desain kursi, gelas, kaos dan bahkan seolah melompat saat menempel pada sebuah gelas bergelombang.

Begini singkatnya. Selama ini, logo atau maskot adalah benda sakral yang tidak pernah berubah bentuk. Buaya merek Crocodile, yang menganga dan diam begitu saja di manapun. Ronald McD, bergerak dengan ekspresi wajah yang statis. Apalagi maskot KFC.

Kuntzel & Deygas mendobrak aturan itu. Misalnya, ketika Crocodile mendatangi mereka untuk menciptakan kaos polo edisi ulang tahun dan menggunakan Caperino dan Peperone, mereka dengan ciamiknya menciptakan cerita lucu dengan ketiga maskot tersebut. Buaya crocodile dibuat seolah berlari ke atas sementara Caperino dan Peperone menyalak di bawahnya.

Pikiran gue sempat melayang ke MTV yang memang dari awal tampak begitu versatile. Caperino dan Peperone bukan cuma versatile, tapi hidup. Mereka menciptakan ekspresi bagi karakter anjing itu. Sehingga kita pun terbawa masuk ke dalam "kehidupan" jadi-jadian Caperino dan Peperone.

Dari situ, boneka robot anjing Caperino dan Peperone kemudian menjadi satu-satunya anjing yang diperkenankan untuk masuk ke tempat-tempat umum di mana anjing tidak diperkenankan untuk masuk.

Foto-foto:
http://glennmarsalim.multiply.com/photos/album/93/Foto2_Seminar_KL_Design_Week

Tuesday, February 17, 2009

DIBUTUHKAN: IDE, SARAN dan PENDAPAT



Tanggal 5 Maret nanti, untuk pertama kalinya gue diundang jadi pembicara sebagai seorang freelancer. Yang bikin gue tertarik, karena seminar ini untuk pertama kalinya bukan membahas soal iklan. Tapi profesi gue selama 3 tahun lebih. Freelancer.

Seneng, tapi kok deg-deg an juga ya. Karena jujur gue gak tau mau ngomong apa. Dan tentunya gue juga gak mau kalau penonton kecewa. Gak gratisan loh ini. Gak enak bener rasanya kalau sesudah seminar peserta pulang dengan kecewa karena gak dapet yang mereka mau.

Itu pertanyaan pertama.

Pertanyaan kedua, emang ada ya yang mau dateng?