Tuesday, November 04, 2014

Punya Bisnis Sendiri Gak Sendirian

Sebelum memulai bisnis Nasi Ayam Jagoan, yang terbayang di kepala tentu uang masuk berlimpah, jam kerja bisa disesuaikan dengan hobi dan yang terpenting, gak punya bos! Ya kan aku bosnya…

Di bulan-bulan pertama bisnis, perlahan realitas mulai menampar satu-satu. Gak punya bos dari Hong Kong? Itu pembeli yang semakin banyak apa namanya kalau bukan bos? Masing-masing lengkap dengan permintaannya masing-masing. Minta ditambahin sambal, gak mau pake daun ketumbar, sampai minta delivery subuh hari. Belum lagi kalau ada pembeli ibu hamil yang ngidam. Kapan pun mau harus selalu tersedia. Sampai pernah, suaminya membawakan ayam kampung mentah ke dapur karena stock sedang kosong!

Waktu masih kerja kantoran di biro iklan, pulang lembur subuh bisa minta ijin masuk agak siangan keesokan harinya. Sekarang? Luar biasa! Bangun subuh langsung nyalain kompor. Siangnya belanja bahan kebutuhan untuk pesanan besoknya. Sore mempersiapkan pesanan di dapur. Malam mencatat keuangan dan paper work lainnya. Tidurnya? Di sela-sela perjalanan ke pasar atau pas lagi nonton berita malam.
Begini terus terusan. Pengen istirahat barang sehari dua hari, menolak pesanan, selalu terhalangi dengan omongan ke diri sendiri “sayang ah, duit kok ditolak!”

Punya bisnis sendiri itu terminologi yang menyesatkan. Bahkan cenderung menjerumuskan. Walau saya pemilik brandnya tapi yang namanya bisnis gak lepas dari pihak lain. Supplier, kurir, anak buah sampai tukang ojek langganan pun jadi “partner” dalam berbisnis. Padahal ini masih bisnis rumahan.

Gara-gara percaya sama karma, sebisa mungkin kelancaran pembayaran buat para “partner business’ ini jadi yang utama. Mikirnya, kalau gak mau pembayaran aku ditunda, ya jangan menunda pembayaran mereka. Ditambah lagi, prinsip “ada uang abang sayang, gak ada uang abang melayang” itu kejadian benar. Selama pembayaran lancar, servis jasa dan barang ke kita lancar, dan bisnis kita pun berjalan mulus.

Untuk memastikan kemulusan ini, selalu membayar cash bisa bikin repot. Misalnya, nenteng uang buat belanja 50 kilo ayam naik ojek, di kota ini cukup riskan. Ditambah permintaan partner yang berbeda-beda. Bayar gaji kurir setiap bulan minta ditransfer ke rekening bank A. Gaji pembantu infal transfer rekening bank B. Supplier yang minta pembayaran tepat saat barang diterima, minta ditransfer ke bank C. Semua transfer-transferan kayak pemain sepak bola.

Mungkin ini yang disebut-sebut Cashless Society. Ya sebenarnya gak cashless-cashless amat sih. Cashnya mah tetap ambil dari rekening kita. Buat mempermudah hidup dan menambah sedikit jam tidur, On Account dari CIMB Niaga jadi pilihan aku. Soalnya, transfer-transferan ke bank mana pun, selain gak dikenakan biaya, juga bisa real time. Paling beda-beda semenit aja.

Membantu juga untuk urusan bayar tagihan kredit pemilikan apartemen bulanan. Kayak PacMan, siap memakan dari belakang ke mana pun kita pergi. Gak peduli apakah bisnismu sesuai dengan passionmu, pokoknya pas jatuh tempo duitnya ada.  Transfer pake On Account membantu karena bebas biaya transfer dan itu tadi, realtime. Bisalah transfer mepet-mepet jatuh tempo.




Dan nanti, namanya juga cita-cita boleh dong ya… Kalau liburan jalan-jalan ke luar negeri kayak temen-temen aku di Path, bisa ambil tunai di seluruh gerai ATM berlogo MasterCard di luar negeri. Gak kena fee dengan kurs yang paling mendekati pada saat itu. Tugas aku sekarang, ngisi uangnya dulu di rekening itu. Amin!

On Account mau aku jadikan rekening transactional sekaligus tabungan, soalnya selain tanpa biaya administrasi, On Account juga punya interest rate paling nendang dibaningkan bank lainnya. Kalau gak percaya, bisa cek sendiri di website atau cabang.

Untuk punya rekening ini, bisa daftar secara online kemudian datang ke cabang hanya untuk tandatangan dan ambil kartu atau bisa memilih untuk didatangi oleh customer service CIMB Niaga di mana pun kita berada. Asik banget, kan? Info lengkapnya bisa dilihat di www.cimbniaga.com







1 comment:

snydez said...

uhuy!