tag:blogger.com,1999:blog-106575252008-07-20T20:38:21.524-07:00punya glennglenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comBlogger157125tag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-62864792501177512532008-07-18T23:52:00.000-07:002008-07-18T23:56:05.773-07:00Niat Besar itu Kesampean Juga<a href="http://bp2.blogger.com/_eBAEANn6xkI/SIGPyGVrhHI/AAAAAAAAAAM/CQiffZfQMJ4/s1600-h/LING1.JPG"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_eBAEANn6xkI/SIGPyGVrhHI/AAAAAAAAAAM/CQiffZfQMJ4/s320/LING1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224615133584262258" /></a><br /><br /><br /><br />Masih ada yang inget iklan PT Pos Versi Ling Ling ini?<br /><br />Kalau ada yang gak kebaca isi tulisannya, kurang lebih adalah soal Ling Ling yang menulis surat ke ibunya untuk pertama kali sejak Ling Ling kabur dari rumah mengejar cintanya dengan Muhammad. Di surat itu, Ling Ling mempertanyakan alasan ibunya menghalangi cintanya hanya karena perbedaan agama. <br /><br />Dengan iklan ini sebenarnya gue pengen menyampaikan pendapat gue, bahwa cinta gak harus pupus apalagi dipaksa pupus hanya karena perbedaan agama. Karena Tuhan itu sama. Dan gue percaya di mana ada cinta di situ ada Tuhan. Gue selalu bilang ke temen-temen yang putus cinta karena perbedaan agama, "berarti cinta loe gak beneran cinta."<br /><br />Mungkin gue salah, mungkin gue bener. Tapi ini pendapat pribadi. Sorry kalau ada yang gak setuju. Keragaman itu indah kan?<br /><br />Sejak iklan ini ditayangkan, gue sering ngerasa sedih juga karena kebanyakan komen yang dilontarkan terbatas pada komposisi layout. Tapi ya gak apa apa lah. Setiap komen pasti berguna. <br /><br />Sampai suatu siang gue dapet sms dari temen lama yang isinya menyuruh gue membuka sebuah alamat blogspot. Dan ketika gue membukanya, mata gue terbelalak dan ketika membacanya ada yang tiba tiba panas di dada gue.<br /><br />Silakan buka: http://helinawidjaja.blogspot.com/2008/04/tuhan-versus-cinta.html<br /><br />Isinya:<br /><br />Jumat, 2008 April 18<br />Tuhan versus Cinta (inspired by Glenn Marsalim) <br />Aku seringkali mendengar perkataan dimana ada Cinta dan Kasih Sayang, maka disitu ada Tuhan. Berdasarkan perkataan tersebut, jelas sekali terlihat bahwa Tuhan tercermin dalam Cinta dan Kasih Sayang. Uniknya, aku juga sering mendengar bahkan mengetahui jalinan Cinta dan Kasih Sayang sepasang anak manusia haruslah kandas karena perbedaan agama. Orang tua ataupun pihak keluarga masing-masing pasangan selalu menjadikan alasan perbedaan agama sebagai faktor yang tidak baik. Kalau Cinta dan Kasih Sayang= Tuhan, lalu kenapa Tuhan juga yang harus dijadikan alasan untuk memutuskan tali kasih??<br /><br />Yang lebih parahnya lagi, pernah aku mendengar pengakuan beberapa teman ku yang mengatakan kalau mereka memutuskan pacar mereka karena mendengar suara ataupun bisikan Tuhan yang memberitahu untuk meninggalkan pasangan nya (hmmm apa iya Tuhan sekejam itu?, karena yang aku tahu dan aku yakini Tuhan itu mengajarkan Kasih. Kalau kita mengasihi pasangan kita dengan sungguh-sungguh, bukan kah kita sedang menjalani perintah-Nya? Lalu dimana letak permasalahan nya coba?)<br /><br />Dan kalaupun pasangan kita bukanlah orang "baik-baik", apakah iya Tuhan memerintahkan kita untuk meninggalkan pasangan kita itu? Karena yang aku tahu, Tuhan pernah menyatakan jika kita tetap harus saling mengasihi, bahkan terhadap musuh kita. Kita harus bisa mengampuni dan mendoakan mereka, bukan nya malah menjauhi mereka layaknya mereka penderita penyakit kusta!! Dan bukan kah Yesus sendiri datang ke dunia untuk mencari orang yang berdosa? Ia mati juga untuk orang berdosa. Lalu apa salahnya kalau kita mencoba meneladani perilaku Yesus? (lagi-lagi bukankan sebagai orang Kristen, kita memang harus meneladani perbuatan Nya?)<br /><br />Berapa banyak orang berdosa yang kembali ke jalan yang benar setelah mengalami Cinta dan Kasih Tuhan? Berapa banyak orang berdosa yang bertobat, karena ia merasakan tulusnya Cinta dan Kasih Tuhan? Dan kalau kita bisa meneladani perbuatan-Nya, bukan nya tidak mungkin kan pasangan kita yang bukan orang "baik-baik" akan kembali ke jalan yang benar?<br /><br />Dari pemikiran ku yang rumit ini (atau polos??), aku hanya mau mengutarakan jangan jadikan Tuhan sebagai alasan untuk memutuskan tali kasih. Karena Ia sendiri yang mengajarkan kasih. Bahkan aku sangat ingat apa yang Yesus pernah ucapkan, yang bunyinya kira-kira seperti ini "Iman dan Kasih adalah hal yang penting, tapi yang utama adalah KASIH" ditambah lagi Ia juga pernah mengutarakan "Iman tanpa perbuatan adalah hal yang sia-sia". Maka dari itu, jikalau ada orang yang berusaha memutuskan/ sudah memutuskan tali kasih dengan mengatasnamakan Tuhan tolong dipikirkan baik-baik apakah kalian benar-benar mengikuti rencana-Nya atau melakukan nya demi keuntungan pribadi?? <br /> <br />Woaaaaaah! Belum pernah gue ngerasain dihargain seperti ini. Terima kasih. <br /> <br />Kalau ada yang ingin tahu salah satu niat besar dibalik pembuatan iklan PT POS ini adalah soal cinta di atas segalanya. Soal kehangatan. Soal kasih sayang. Soal keluarga dan kekeluargaan. Soal ketulusan. <br /> <br />Dan diatas segalanya, soal menguak kebesaran Tuhan.<br />Sang Maha Cinta.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-25703284261846572942008-07-18T12:52:00.000-07:002008-07-18T13:31:47.235-07:00Kesempatan dalam Sempitnya WaktuSeperti itu lah yang gue rasakan belakangan ini. Tahun ini tepatnya. Belum apa-apa, pertengahan tahun udah lewat tanpa gue sadari. Ada banyak cerita, pengalaman, kegembiraan, kekecewaan, kekhawatiran, kesedihan dan jutaan rasa yang berlalu. Makanya ini blog gak sempet diupdate.<br /><br />Tuhan Maha Baik sama gue. Ada banyak kesempatan yang diberikan kepada gue. Kesempatan-kesempatan yang selalu mengingatkan gue untuk percaya pada kekuatan mimpi dan harapan. Kesempatan untuk selalu bersyukur sebelum ajal menjemput. Dan yang terpenting, kesempatan untuk menjadi lebih berguna buat sesama.<br /><br /><br />1. Kesempatan mengikuti DDB Creative Director Regional meeting di Bali. Bisa berkenalan dengan Creative Director dari Asia Tenggara dan berkenalan dengan Ted Lim dan Dirk Eschenbacher yang ternyata adalah mantan bos gue waktu di Ogilvy One.<br /><br />2. Kesempatan menghadiri Spike 2008. Bukan cuma bisa ikutan seminar dan melihat pameran, tapi makan pagi semeja, catat, semeja dengan Prasoon Joshi, Antonio Navaz, Masako Nakamura, Yasmin Ahmad sambil membicarakan soal periklanan dunia.<br /><br />3. Kesempatan menjadi Creative Director salah satu Pitch of the Year 2008. Benar-benar menegangkan dan meletihkan. Sekaligus memperkuat diri. "Semakin tebal lumpur semakin indah teratai-nya" - Buddha, Insya Allah.<br /><br />4. Kesempatan bekerja sama dan belajar dari Ricky Pesik, Pakde Totot, Gandhi Suryoto, Maneha Widarso, dan 6 anak-anak baru lulus dan magang dari ITB. Tanpa mereka sadari ada banyak ilmu yang sudah dijejalkan tanpa ampun ke kepala gue. Kalian semua akan selalu ada dalam ingatan gue.<br /><br />5. Kesempatan untuk menjadi bagian dari Adoi Advertising Awards 2008. Melihat poster Adoi yang dibuat oleh anak-anak yatim piatu bertengger di tembok glamor biro iklan dan production house di Indonesia, benar-benar bikin hati gue jadi adem dan bangga.<br /><br />6. Kesempatan untuk menjadi bagian dari Pinasthika Awards 2008. Pertama kalinya gue akan menjadi juri untuk Desain Grafis, bidang yang gue pelajari waktu masih kuliah dulu. Dan tentunya nanti berkenalan dengan Hermawan Tanzil dan Djoko Concept.<br /><br />7. Kesempatan memenangkan pitching lebih banyak daripada yang kalah. Alhamdulillah, alamdulillah, alhamdulillah. Menang pitching rasanya lebih melayang daripada menang awards. Sampe temen deket gue bilang "you are the son of a pitch lah, bitch!" <br /><br />8. Kesempatan untuk menjadi finalis lomba Indonesia Dangerously Beautiful - Milis CCI. Walau kalah, tapi proses pengerjaannya luar biasa menyenangkan. Belum lagi apresiasi dari temen-temen iklan. <br /><br />9. Kesempatan untuk menjadi pembicara di Universitas Pancasila. Menyenangkan bisa ngomongin soal iklan jam 8.30 pagi! Semoga aja ada gunanya. Maaf kalau ada yang kecewa.<br /><br />10. Kesempatan untuk belajar dan memperdalami komunikasi pemasaran telko. Salah satu pengiklan terbesar di Indonesia saat ini. Sampai ada yang pernah bilang, anak kreatif iklan masa depan pasti dan harus pernah pegang telko :)<br /><br />Dan ada banyak kesempatan-kesempatan lain yang mampir. <br /><br />Kebesaran Tuhan ini seolah hendak mengingatkan gue untuk selalu takwa dan menjaga hati agar tetap bersih dan lurus. Walau waktu kayaknya sempit banget, banyak kesempatan berarti yang mampir. Walau gue freelancer, banyak kesempatan yang selama ini gue kira hanya milik Creative Director biro iklan, mampir.<br /><br />God is kind.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-30883422150453445972008-05-25T11:51:00.000-07:002008-05-25T11:54:03.071-07:00Belajar dari IndiaGue baru aja selesai baca-baca buku soal India. Negara, penduduknya, kebudayaannya dan segala macam yang memang dari dulu selalu menarik perhatian gue.<br /><br />Ada satu hal yang amat menarik.<br /><br />Penduduk India percaya kalau seluruh manusia di muka bumi ini dibagi dalam 2 kelompok besar.<br /><br />1. The Giver (Pemberi)<br /><br />2. The Taker (Penerima/Pengambil)<br /><br />The Giver adalah orang yang selalu memberi dengan berbagai cara. Memberi pengetahuan, layanan, kasih sayang, perhatian, uang, dan lain-lain. Bahkan ketika kita bertandang ke rumah orang dan membantu mencuci piring pun termasuk dalam kelompok ini.<br /><br />The Taker adalah orang yang selalu menerima dan mengambil apapun yang diinginkannya. Mengambil yang memang hak nya atau pun yang bukan hak nya. Meminta sebotol minyak zaitun ekstra yang dibagikan gratis di pesawat untuk dibawa pulang pun termasuk dalam kelompok ini.<br /><br />The Giver, selamanya tidak akan pernah hidup berkelebihan. Karena The Giver percaya segala yang lebih, itu bukan hak nya dan berkewajiban untuk memberikannya kepada yang membutuhkan atau yang meminta (The Taker). The Giver juga percaya bahwa dengan memberi, melayani, mengabdi dengan tulus, maka kehidupannya akan berjalan harmonis.<br /><br />Menjadi The Giver tak berarti harus kaya raya. Karena seperti disebutkan tadi, apapun bisa jadi bentuk untuk diberikan kepada sesama.<br /><br />Walau tak pernah berkelebihan atau kaya raya, The Giver akan merasa hidupnya cukup. Pas dan utuh. Tidak lebih, tidak kurang. Air penuh dalam gelas adalah sebesar kapasitas gelas. Dan kapasitas gelas ditentukan oleh pemilik gelas.<br /><br />The Taker, akan selalu merasa hidupnya berkekurangan. Kurang uang, kurang ilmu, kurang perhatian, kurang kasih sayang, kurang harta. Sehingga dalam menjalani hidupnya, The Taker akan selalu mencari peluang untuk mendapatkan apa yang dirasakannya kurang. Segala cara akan dilakukannya untuk memenuhi kekurangannya itu.<br /><br />The Taker pun bukan soal kaya miskin. Walau kaya harta tapi tetap merasa kurang. Kurang perhatian, kasih sayang dan lain lain. Air dalam gelasnya selalu kurang dari kapasitas gelas. Bahkan ketika gelas hampir penuh, gelas itu akan dibuang dan diganti dengan gelas yang lebih besar. Air pun akan jadi kurang lagi.<br /><br />Bukan soal takdir atau nasib. Tapi soal pilihan.<br /><br />Di diri kita semua ada sifat The Giver dan The Taker. Cuma soal sifat mana yang dipilih oleh setiap orang untuk dihidupkan dan diamalkan.<br /><br />Hebatnya, di negara miskin seperti India, ternyata banyak yang memilih untuk menjadi The Giver. Mereka percaya hanya dengan menjadi The Giver, maka mereka akan bahagia sampai ajal menjemput. Sementara The Taker, di saat itu akan tetap merasa liang kuburnya kurang dalam.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-25058232543342134922008-03-27T00:20:00.000-07:002008-03-27T00:21:51.527-07:00A Lung dan Ling LingTeman saya bernama A Lung. <br /><br />Dia bekerja sebagai art director di sebuah agency lokal. Anaknya sangat kritis dan antusias. Dia sering mencari iklan-iklan terbaru dari luar negeri. Selalu update dengan informasi dan berita dunia iklan. Sangat berkesenian. Rajin nonton film-film festival (yang banyak diemnya -red.). Bahasa inggrisnya sempurna. <br /><br />Penampilannya pun tak kurang aduhai. Body-nya keren. Wajahnya menawan. Selalu tampil rapih, apik, menarik dengan gerak tubuh yang elegan. Kalau dia gantengan dikit lagi, wah bisa jadi bintang film. <br /><br />Secara prestasi, gak bercela juga. Pernah jadi finalis Daun Muda dan menang Citra Pariwara. Impian semua insan muda periklanan Indonesia lah!<br /><br />Tapi, hampir setiap kali saya chatting dengan A Lung, atau iseng-iseng membuka blog-nya, hampir 80% topiknya adalah soal keluhan kantornya. Yang gak memperhatikan karyawan, AE itu bego dan terlalu nurut sama klien. CD-nya gak memberikan ruang untuk kreatif berkembang. Pemilik perusahaan tidak memiliki visi. Dan sejuta komplen lainnya.<br /><br />Akhirnya A Lung pun resign. Memutuskan untuk masuk ke agency ternama.<br /><br />Teman saya yang satunya lagi bernama Ling-Ling.<br /><br />Dia juga bekerja sebagai Art Director di agency yang sama. Anaknya sangat rendah diri. Malu berbicara. Takut ini takut itu. Minder ini minder itu. Pokoknya kalau dia ada di sebuah ruangan meeting yang gaduh, bisa jadi keberadaannya tidak terlihat. Apalagi didengar dan dihargai. <br /><br />Sifatnya juga sangat kekanak-kanakan. Demikian juga cara berdandannya. Kalau orang gak kenal, pasti akan mengira dia masih SMA. Mungkin juga SD. Dan gak akan ada orang yang mengira dia kerja di biro iklan. Tampilannya jauh dari kesan glamor dan gaya orang iklan. Terlalu sederhana cenderung tanpa gaya.<br /><br />Tapi dibalik itu semua, Ling-Ling adalah pekerja keras. Dia mengerjakan semua dengan sepenuh hati. Ada lah komplen dikit sana sini. Tapi itu bukan topik utama kalau saya dan dia diskusi soal kerjaan. Dia selalu cerita keseruan-keseruan yang ia dialami saat bekerja. Sampe saya sering senyum-senyum sendiri.<br /><br />Secara prestasi sebenarnya tidak kalah dengan A Lung. Bedanya, Ling-Ling tidak pernah menang karena usahanya sendiri, seperti Daun Muda. Finalis pun tidak. Ling-Ling pun sadar itu. Dia sadar mungkin dunia iklan yang dicintainya ini, bukan untuk dia. Dia sadar bahwa kesenangann dan kemampuannya, menggambar dan ilustrasi, tidak cukup untuk menyelamatkannya di dunia iklan.<br /><br />Akhirnya Ling-Ling pun resign. Memutuskan untuk jadi freelancer.<br /><br />Karena kebetulan saya kenal dengan CD tempat mereka berdua kerja, di suatu malam kami sms-an. Isinya kurang lebih begini:<br /><br />CD: Sayang ya, Ling-Ling keluar, padahal dia baru menangin pitch loh!<br /><br />GM: Yah baguslah... Jadi Ling-Ling ninggalin dengan kenangan manis kan?<br /><br />CD: Maksud gue kan bisa menikmati ngerjain beberapa proyek dulu buat memperkaya portfolio<br /><br />GM: Yah kalau loe baek hati, kasih aja job yang menang pitch itu ke dia sebagai freelancer.<br /><br />CD: Gue punya plan begitu juga.<br /><br />GM: Gue yakin dia mau. Kasian juga tuh anak, oom. Stress dia rupanya. Loe gak liat dia mulai jerawatan!<br /><br />CD: OK. Pasti.<br /><br />GM: Gue sempet bilang kenapa gak unpaid leave aja 1 bulan gitu. Tapi rupanya dia gak ngeliat masa depan dia di dunia iklan.<br /><br />CD: Oh gitu.<br /><br />GM: Dia kayaknya mau ngerjain di luar iklan. Freelancer kan membuka kesempatan itu sampai dia nemu yang dia suka. Lebih ke desain kayaknya.<br /><br />CD: Yoi. Gue juga bilang jadi freelancer itu gak cuma butuh skill tapi kemampuan marketing juga.<br /><br />GM: Gue sih yakin, Ling-Ling bukan di dunia iklan lah. Dia kalau Daun Muda kan jelek hasilnya. Tapi kalau ngegambar dan ngedesain bagus.<br /><br />CD: Tapi ngide jauh lebih bagus dari A Lung.<br /><br />GM: Gak sebagus teman-teman seangkatannya.<br /><br />CD: Ga ah. Dia ngide udah lumayan asal dapet tim brainstorming yang cocok.<br /><br />GM: A Lung kan finalis Daun Muda. Ling-Ling bukan.<br /><br />CD: Hahahaha OK!<br /><br />GM: Biar bagaimanapun kan?<br /><br />CD: Yoi Jek!<br /><br />GM: Tapi Ling-Ling menang di attitude. Jadi kalau gue suruh pilih, gue pilih Ling-Ling.<br /><br />CD: Setuju! Gue sayang banget sama Ling-Ling. Tapi dia aja gak nyadar itu.<br /><br />GM: Gue juga sayang.<br /><br />Baru saja sms berakhir. Sebuah sms masuk lagi dari A Lung:<br /><br />Agency baru gue gak asik ternyata. Udah gak sekeras kepala dulu. Lebih toleran sama klien. Brief dari bos dan Account kok bisa beda!<br /><br />Dan masuk lagi sms dari Ling-Ling:<br /><br />Aku sampai sekarang masih takut loh ntar freelance gimana. Tapi aku bakal lebih nyesel kalau gak nyoba sekarang.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-49760166085026592882008-03-24T02:44:00.000-07:002008-03-24T02:48:49.560-07:00Record of a Tenement Gentlemen - Untuk Apa Sempurna? Bag. 2<a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=record_tenement_gentleman.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/record_tenement_gentleman.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a><br /><br />1947, seorang anak kecil berusia 6 tahun, tersesat di stasiun kereta api. Anak itu kemudian dibawa oleh seorang pria untuk dititipkan di rumah seorang janda. Janda berusia 70 tahunan itu menolak karena menganggap titipan itu sebagai beban. Apalagi di malam pertama, sang anak itu kencing di kasur. <br /><br />Janda marah besar dan hendak mengusir anak kecil itu dari rumahnya selayaknya menghalau kucing yang hendak maling ikan. Kue yang enak dan hal pemberian tetangganya seolah tak pantas untuk diberikan kepada anak itu. Bahkan, janda itu menghina ayah sang anak karena menelantarkan anaknya sendiri di pinggir jalan.<br /><br />Suatu saat, anak itu kembali dimarahi habis-habisan oleh janda itu karena dianggap mencuri manisan yang sedang dijemur. Anak itu berkali kali berkata bahwa dia bukan pencurinya. Sampai akhirnya, tetangga mendengar bentakan janda dan akhirnya mengaku bahwa tetangga itu lah yang mencuri manisan itu.<br /><br />Di sore harinya, anak itu tiba tiba menghilang. Anehnya, sang janda kelimpungan mencari anak itu keliling kota. Tetangga dekatnya berkata "ini adalah berkah. Bukakah kamu selama ini tidak menghendakinya? Sekarang ia telah pergi." Dari wajahnya sang janda tampak sedih.<br /><br />Di malam hari, anak itu kembali diantar oleh yang menemukannya saat pertama kali. Rupanya ia kabur ke stasiun kereta api tempat ia ditinggal oleh sang ayah. Tak dikira, sang janda tampak merindukannya. Ia bahkan menawarinya makan malam dan suasana berubah menjadi begitu hangat. Sang anak bahkan diminta untuk memijat sang janda. Mereka berdua tertawa terkikik-kikik mengingat saat awal-awal mereka berkenalan.<br /><br />Namun kehangatan itu rupanya tak berlangsung lama. Sang ayah datang menjemput. Tak hanya menjemput, ia membawa sekarung kentang untuk sang janda seraya berterima kasih karena telah menjaga anaknya yang rupanya lepas dari genggamannya saat di stasiun. Bukan ditelantarkan. Ayah yang selama ini dihina oleh janda itu tampil sebagai sosok yang santun dan jauh dari kesan tidak bertanggung jawab.<br /><br />Anak itu pun pergi bersama sang ayah. Meninggalkan janda seorang diri.<br /><br />Kalau ada orang bilang, "Pergilah ke Roma sebelum wafat" maka sepantasnya ada yang bilang "Nontonlah Record of a Tenement Gentlemen sebelum wafat." Film arahan Yasujiro Ozu ini memang luar biasa menurut saya. Walau tidak dinilai sebagai masterpiece oleh para pakar film, tapi ini adalah film yang sangat menghibur dengan kesederhanaannya.<br /><br />Di akhir film, tiba tiba saya merasakan ada yang panas di dalam sini. Dan menyambung tulisan sebelum ini, Untuk Apa Sempurna?, maka film ini jauh dari sempurna. Acting para pemain yang begitu kaku. Kamera yang tidak bergerak. Dan karena film ini dibuat tahun 1947, maka banyak gambar yang sudah mulai buram. Suaranya pun di beberapa bagian terdengar naik turun. Tidak ada aktor cantik dan ganteng. Tidak ada selebritis. Film ini tidak pernah menang Oscar.<br /><br />Tapi untuk saya, film ini semakin tua semakin sempurna. Saya sampai menontonnya 6 kali. Berbanding terbalik dengan film Troy yang dibuat dengan demikan sempurna. Saya tertidur di dalam bioskop. Bahkan aktor dengan fisik sempurna macam Brad Pitt tidak dapat menolong. Dan apakah film, yang diusahakan untuk jadi sempurna ini bisa bertahan lebih dari 50 tahun seperti Record of a Tenement Gentlemen atau Tokyo Story?<br /><br /><a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=troy.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/troy.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a><br /><br />Hanya waktu yang memang bisa menjawab. Tapi siapa mau nonton Troy dua kali?glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-6264524108957998552008-03-23T12:00:00.000-07:002008-03-23T12:02:52.301-07:00Untuk Apa Sempurna?Sun Tzu Art of War, yang ditulis pada 512BC ini memang luar biasa. Melintasi ruang dan waktu berabad lamanya. Strategy perang yang dilandasi pada kehidupan manusia ini, menyampaikan kebenaran dan celah untuk menang bukan saja perang, tapi juga kehidupan.<br /><br />Buku yang masih jadi pedoman banyak pelaku bisnis dunia ini, memberikan sebuah pedoman sederhana. Sebelum bisa memenangkan sebuah peperangan, pertarungan, perjuangan, perlawanan, pergulatan, ada dua hal yang sangat penting.<br /><br />Pertama, kenali diri sendiri. Kedua, kenali lawan.<br /><br />Dalam sebuah puisi barat yang saya sudah lupa siapa penulisnya dan apa judulnya, maklum puisi itu saya baca waktu saya masih kelas 2 SMP. Kalau sampai sekarang masih melekat di ingatan berarti kalimat itu memiliki kebenaran untuk saya., ada bait yang berkata:<br /><br />"Tuhan ajari aku untuk semakin mengenal diri sendiri, karena mengenal diri sendiri adalah landasan pengetahuan."<br /><br />Yang dalam interpretasi sederhana saya, sebelum kita bisa belajar tentang apapun, memahami makna kehidupan, mengerti segala hal dan lainnya, kita harus mengenal diri sendiri. Kedengarannya gampang, tapi bukankah ada pepatah yang bilang "buruk muka cermin dibelah."<br /><br />Ketika kita mencoba mengenal diri sendiri, lebih sering kita melihat kerennya saja. Tapi begitu bagian buruknya, maka kita memilih untuk memalingkan muka atau berusaha untuk menutupinya. Menutupi dan bukan memperbaiki keburukan.<br /><br />Buktinya, kalau ada sinetron atau film atau buku yang berusaha memaparkan realitas kehidupan orang Indonesia pasti langsung disembunyikan. Pramoedya, misteri SUPERSEMAR dan G30SPKI, misteri Mei 98 dan lainnya. Mungkin ini semua berawal dari pepatah Jawa: Ngono Yo Ngono Neng Ojo Ngono? Begitu ya begitu tapi jangan begitu.<br /><br />Ada usaha untuk menutupi kebenaran. Untuk menampilkan hanya keindahan. Lebih baik indah tapi penuh tipu muslihat ketimbang kebenaran tapi buruk dilihat. Lebih baik tampil elok tapi perut lapar. Miskin di kantong tampil kaya di baju.<br /><br />Saya jadi ingat, di suatu pagi Mbak Pargi pembantu kesayangan saya, pernah saya minta tolong untuk merapihkan kamar tidur tamu yang sudah saya jadikan gudang. Ketika pulang saya kagum bukan alang kepalang. Saya pun jadi makin sayang sama Mbak Pargi. Sampai kemudian seminggu berikutnya, saya hendak mencari barang di gudang itu. Alangkah terkejutnya saya, rupanya dibalik kerapihan itu semua tersimpan keberantakan yang luar biasa. Banyak barang-brang rongsokan yang harusnya sudah masuk ke tong sampah masih disimpan.<br /><br />Ketimbang memilih untuk mengumpulkan barang-barang itu dan memperlihatkannya kepada saya untuk ditanyakan apakah harus dibuang atau disimpan, Mbak Pargi memilih untuk menyembunyikannya dibalik lukisan indah.<br /><br />Pernah juga dalam sebuah presentasi pitching. Entah apa yang sedang merasuki saya, mendadak saya seolah memiliki ke-nekad-an untuk menyampaikan sejujurnya apa yang saya rasakan. Waktu itu meeting sedang panas karena klien menyatakan kalau pihak agency salah mempresentasikan visi dari brand. Saya kemudian bersuara "you are the owner of the brand. We are the agency. It's not agency's responsibility to tell you, your brand's vision. It's your brand. Not us, not them, but you. The future of the brand is in your hand. Agency can only share their thoughts and ideas on how can you reach your dream and vision for the brand.If you have no vision for the brand, how can you expect others to tell you?"<br /><br />Ruangan sunyi senyap sesaat. Sampai President Director yang juga pemilik perusahaan raksasa itu meangguk-angguk dan kemudian meeting pun berakhir dengan dingin. Hasilnya jelas, agency kami pun kalah. Alasannya apalagi. Creative Directornya keras kepala.<br /><br />Bayaran saya sebagai freelancer pun melayang dan saya menyesal. Menyesal karena menyampaikan apa yang menurut saya benar dengan sejujurnya. Menyesal karena saya tidak mentaati falsafah Jawa "Ngono Yo Ngono Neng Ojo Ngono". Menyesal karena besar kemungkinan apa yang saya sampaikan itu tidak masuk akal dan salah besar.<br /><br />Dalam kesedihan itu saya pun curhat dengan seorang CD orang Malaysia yang saya hormati. Saya berpikir bahwa dia akan memarahi dan kemudian menasehati saya untuk tidak melakukannya di kemudian hari. Secara mengejutkan dia berkata "tell nothing but the truth. The truth on how you feel. You might be wrong, but hey, nothing is right or wrong. If you only be honest and truthfull to yourself and others, some will hate you but those who respect you will respect you forever."<br /><br />Belum puas, saya berkeluh kesah lagi. Kali ini dengan CD lokal yang sangat saya hormati. Sontak dia berkata "ah loe sih! Yang loe omongin tuh bener aja, tapi kan belum jadi klien. Kalau masih pitching manis manis aja dulu. Nanti kalau udah dapet, baru deh pelan pelan tuh loe omongin pendapat loe." Prinsipnya sama dengan Mbak Pargi yang sedang membersihkan gudang.<br /><br />Saya tidak ingin membandingkan mana yang benar dan mana yang salah. Keduanya pasti punya alasan dan pengalaman masing masing sehingga mereka bisa berpendapat demikian. Tapi yang hendak saya pertanyakan, bagaimana mungkin kita mengetahui siapa kita sebenarnya kalau banyak kenyataan ditutupi? Kalau hanya keindahan dan kesempurnaan yang ditampilkan. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia. Satu satunya yang sempurna adalah ketidak sempurnaan itu sendiri.<br /><br />Bunga di taman, setiap kelopaknya tidak ada yang sama. Sayap kupu-kupu tidak ada yang persis simetris. Bahkan tubuh manusia tidak ada yang sempurna. Bahkan operasi plastik tidak pernah ada yang sukses. Selalu terlihat aneh hasilnya. Mungkin Sang Pencipta hendak berkata "Kuciptakan manusia dan sekitarnya sempurna karena ketidak sempurnaan supaya mereka berkembang dan terus mencari arti kesempurnaan bagi mereka sendiri."<br /><br />Kalau pas lagi jalan-jalan di EX banyak anak muda pasangan sedang pacaran. Mungkin akan terdengar sinis, tapi setiap kali saya melihat pasangan yang sempurna (yang laki necis tampan dan wangi, yang perempuan rambut tertata rapih, warna baju terkoordinasi, tas dan sepatu senada, dan lain-lain) saya selalu berpikir pasti ada yang tidak beres dalam hubungan mereka. Masing masing seolah sedang menjaga sikap agar mereka sempurna di depan pasangan masing-masing. Agar mereka tampil tanpa cacat cela, dengan harapan cinta mereka semakin tumbuh berkembang sampai ke pelaminan. Nanti kalau udah menikah, baru keluar aslinya.<br /><br />Saya pernah membaca sebuah quote lagi<br />"Teratai terindah tumbuh dari lumpur yang kotor." Interpretasi saya, untuk menjadi tumbuh dan berkembang hanya dengan dan dari ketidaksempurnaan.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-77758567069149565982008-03-13T02:36:00.000-07:002008-03-13T03:23:23.364-07:00Terbikin Bukan DibikinMulai dari temen-temen di dunia iklan, dunia film, dunia bank, seniman, pemilik restoran sampai supir taksi pernah bertanya kepada gue "wah kenapa gak buka agency sendiri aja?" atau "tinggal tunggu buka agency sendiri nih!' atau "sama temen-temen mending loe buka agency deh!"<br /><br />Untuk sesaat pertanyaan itu kesannya masuk akal dan seru. Gila aja, siapa gak mau punya agency sendiri. Apalagi kalau pake nama sendiri macam Ogilvy, Leo Burnett, Coleman & Handoko, dan lain-lain. Terkenal dan punya banyak uang. Apalagi kalau karya-karyanya dapet penghargaan, meningkatkan sales, brand dan semua yang ideal. Saking ideal sampai mimpi pun tak berani.<br /><br />Selama ini, jawaban yang gue kasih selalu sekenanya. "Ah belum waktunya" atau "nanti lah..." atau "loe duluan deh..." dan banyak lagi jawaban basa basi yang gue sendiri sering bosan ngedengerinnya. <br /><br />Ada satu pertanyaan yang selama ini selalu menggantung di kepala gue "negara ini butuh berapa advertising agency? wong yang ada sekarang aja pada sekarat kok!" Sama kalau pas gue jalan-jalan ke Pasaraya. Melihat tumpukan baju-baju berlimpah ruah menanti pembeli bikin gue sering ngenes. "Berapa banyak baju yang dibutuhkan negara ini?"<br />Dan herannya, merek-merek baju baru tetap bermunculan. Agency-agency baru tetap buka.<br />Tahun lalu ada sekitar 8 teman gue yang buka agency. Berarti kalau di rata-rata dalam setiab bulan hampir ada satu agency yang baru buka.<br /><br />Yang serunya, dari 8 yang baru buka itu, ada yang masih bertahan, ada yang hampir tutup, ada yang lagi bingung cari klien, dan ada yang sama sekali gak tau mesti ngapain. Dan ada juga yang entah memperluas bidang usaha sampai ke event organizer atau bahkan ngurusin kawinan! Bingungnya, lah waktu tahun lalu seru-seruan mau buka agency itu, perhitungannya gimana? Kok udah sewa tempat dan beli Mac segitu banyak? Kok udah berani hire karyawan? Uang dari investor emang gak mesti dipertanggung jawabkan? Atau gak ada tanggung jawab sama sekali?<br /><br />Atau mungkin karena gue bukan otak bisnis, gak ngerti soal gini-ginian?<br /><br />Dan teteup, salah satu pemilik agency yang baru yang hampir wasallam itu bilang ke gue "mendingan loe buka agency! sukses pasti!" Sama seperti orang yang matanya berair karena makan mangga keaseman dan bilang "eh makan deh ini mangga, manis!'<br /><br />Melihat keadaan sekarang, di mana agency pada berebut klien dan ngos-ngosan, wajar kayaknya kalau gue berpendapat, kalau mau buka agency untuk cari uang, lebih baik jualan pisang goreng ponti! Kabarnya ada yang bisa dapet laba bersih 75-100 juta per bulan! <br /><br />Alhamdulillah, selama ini uang gak pernah terlalu bermasalah untuk gue. Tidak lebih tidak kurang. Cukup. Emang gak pengen dapet uang lebih? Yang pengen dong! Tapi kalau mau nurutin pengen, gak pernah cukup. Kalau gak pernah cukup, gue gak pernah bersyukur. Kalau gak pernah bersyukur nanti Yang Di Atas marah. <br /><br />Jelas, dapat uang lebih bukan motivasi yang pas untuk gue.<br /><br />Pengen terkenal dan menang awards? Untuk apa buka agency. Begitu gampang untuk terkenal dan menang awards. Pertanyaannya, kalau sudah terkenal dan menang awards terus mau apa lagi? Lebih terkenal dan menang lebih banyak lagi? Buat apa? Kapan cukupnya? Dan selama gak pernah cukup selamanya gak pernah bersyukur bukan?<br /><br />Seorang temen deket, yang sangat judes dan tajam pernah bilang ke gue kalau agency itu bukan untuk dibikin tapi harus terbikin.<br /><br />Gini penjelasannya:<br /><br />"Kalau BIKIN agency itu, agencynya ada dulu terus baru loe bikin kebutuhannya. Sewa aja kantor dulu, beli komputer dulu, bayar orang dan lain-lain. Abis itu baru pusing cari klien. Kalau ada sih ya bagus tapi yang udah establish aja susah cari klien kok. Sementara modal udah keluar dan terus keluar. Siapa tahan? Sebentar lagi juga tutup.<br /><br />Tapi kalau terbikin, agency nya itu ada karena kebutuhan. Misalnya loe mulai sendiri dengan satu komputer, terus permintaan dari klien bertambah, terus loe mulai tambah komputer, mulai tambah orang dan seterusnya. Lama-lama semakin besar. Intinya kebutuhan yang membuat loe bikin agency. Ini yang akan tahan lama.<br /><br />Sama seperti riak air pas batu dilempar ke danau yang tenang. Mulainya dari satu riak kecil untuk kemudian melebar. Itu satu-satunya, satu-satunya, satu-satunya cara untuk mencapai sesuatu. Gak ada cara lain."glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-47428876001747431392008-03-11T06:42:00.000-07:002008-03-11T06:45:14.414-07:00Aku Yakinmasih banyak malaikat berterbangan di luar sana<br />yang akan membantu teman kita ray.<br /><br />dari sejak pertama aku posting poster ray,<br />sudah terkumpul uang lebih dari Rp 50 juta rupiah<br />bahkan dari orang-orang yang selama ini belum aku kenal.<br />alhamdulillah! alhamdulillah!<br />tuhan maha baik. tuhan maha pemurah.<br /><br />teman-teman,<br />keadaan ray memang belum membaik,<br />karenanya aku pengen mengimbau supaya<br />mengforward poster ray ini ke mana pun.<br />facebook, multiply, friendster, dan lain-lain.<br /><br />kita gak pernah tau,<br />ada banyak malaikat berterbangan di luar sana.<br />kali-kali poster ray bisa sampai ke tangannya<br />dan ray pun bisa selamat dan sehat kembali.<br />amin.<br /><br />glenn<br /><br />NB:<br />dari Alia:<br /><br />Temans, <br />tadi aku sms-an ama Linda dan kalau mau nyumbang bisa juga langsung ke BCA-nya Ray.<br /><br />Account bca-nya : 2300 326 326<br />Atas nama : Reinald A. Doodohglenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-71680089485383808092008-03-10T22:31:00.001-07:002008-03-10T22:43:56.887-07:00Keadaan Ray MelemahTeman-teman,<br />barusan dapat kabar dari ayah Ray<br />keadaan Ray memburuk.<br />Tak ada pilihan lain untuk dikemoterapi dulu.<br />Tapi keuangan belum mencukupi.<br /><br />Buat teman-teman yang ingin menyumbang,<br />harap mentransfer segera.<br />Semakin cepat semakin baik<br />sebelum terlambat.<br /><br />PT. Brainstorm Communications<br /><br />Bank Niaga Cab. Mahakam<br />Jl.Mahakam I No.14 Jakarta<br /><br />Acc. No : 903.02.00226.00.0 (USD)<br />Niaga Swift Code : BNIAIDJA<br /><br />Acc. No : 903.01.00122.00.5 (IDR)<br /><br /><br />Terima kasih.<br /><br />Glennglenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-52325421372140833472008-03-06T12:04:00.000-08:002008-03-06T12:05:20.923-08:00Ray Says Thank You<object width="425" height="355"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/UzZh1Ig-0ME"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/UzZh1Ig-0ME" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="355"></embed></object>glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-5627478099448397692008-03-04T21:47:00.000-08:002008-03-04T21:48:01.223-08:00RAY FOR LIFE<a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=RAYforLIFE.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/RAYforLIFE.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a>glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-48701652189812040902008-03-02T11:43:00.000-08:002008-03-02T11:52:20.849-08:00The Pathetic Sonata for FreelancerPernah ada yang komplen ke gue:<br />"ah loe selalu cuma ngasih tau yang enak-enaknya aja jadi freelancer.<br />yang gak enak-nya sedikit banget.<br />gak sebanding tau!<br />kan kita jadi tergiur tapi terus jebakan betmen!"<br /><br />OK!<br />Sekarang hari Minggu jam 02.05 pagi.<br />Gue masih di depan laptop ditemani TV.<br />Si Boy Noya, presenter Bangka-Ambon itu <br />lagi nyerocos MetroSport jadi background.<br /><br /><a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=MA06059A.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/MA06059A.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a><br /><br />Gue belum bisa tidur,<br />karena besok jam 16.00 sore<br />gue mesti present ide dan storyline(S) ke agency.<br />Brief-nya beneran kompleks dan <br />memang gak bisa dibikin lebih sederhana.<br />Gak bisa komplen karena brief ini sudah disetujui<br />secara GLOBAL!<br /><br />Gue belum ketemu ide.<br />Mau brainstorming sama siapa ya?<br />Laptop gue pasti udah bosan dengerin gue ngomong sendiri.<br />Internet udah habis gue buka semua.<br />Telepon temen? Bisa dimaki.<br />YM list gue udah gak ada yang available.<br /><br />Mau mundur? Bilang "sorry ad people. i have no idea!"<br />Mereka akan bilang "oh ok... bye!"<br />Artinya bulan ini gak ada pemasukan dong.<br />Hidup pake apa?<br /><br />Berarti suka gak suka, mau gak mau, harus ada ide.<br />Dan gue belum ketemu ide sama sekali!<br /><br />Ingatan gue melayang ke zaman waktu jadi karyawan.<br />Enak banget, bisa punya temen untuk brainstorming.<br />Pun kalau idenya jelek, ada CD atau ECD untuk jadi bumper.<br />Gak mungkin ngerasa sendiri kayak malam ini.<br /><br />Gue juga masih inget saat masih jadi karyawan.<br />Bisa sms-an sama Yoga, partner copywriter gue,<br />janjian untuk dateng pagi dan tukeran ide.<br />Beban jadi gak terlalu berat rasanya.<br /><br />Atau sekedar sms ke Account Director,<br />minta dia dateng pagian biar bisa ngobrolin briefnya lagi.<br />Bahkan kalau perlu peres juga ide dia.<br />Harmonis dan damai banget rasanya.<br /><br />Gak perlu juga mikirin soal pemasukan.<br />Mau gak mau, suka gak suka,<br />tiap tanggal 25 pasti ada yang transfer uang.<br />Tenang dan mapan hidup ini rasanya.<br /><br />Bisa jadi pikiran gue gak akan sebuntu ini.<br />Karena kalau karyawan sering ada training,<br />ada buku-buku baru, ada kiriman porto regional,<br />bisa minta saran ke Canada lah, Singapore lah,<br />bahkan berhubungan dengan ECD-ECD kelas dunia.<br />Jadi merasa gak sendirian.<br /><br />Namanya hidup, gak mungkin sempurna.<br />Diantara semua derita jadi freelancer,<br />buat gue yang paling 'dalem' adalah<br />perasaan sendiri. <br />Bukan kesepian. Tapi sendiri.<br /><br />Terus, gue buka website www.freelancerandco.com<br />Wesbite yang selama ini gue dan Herman urus.<br />Agak menghibur melihat wajah-wajah teman-teman freelancer-freelancer lain-lain.<br />"Pada pinter gaya ya, temen-temen itu!" Kata gue dalam hati.<br />Setidaknya, gue merasa bahwa di kamar-kamar di kota Jakarta ini,<br />ada teman-teman yang lagi tidur. <br /><br />Akhirnya gue menyalakan rokok dan beranjak ke balkon.<br />Kota Jakarta lagi tertidur dengan tenangnya.<br />Angin dingin mengelus rasa sendiri tanpa ampun.<br />Gue melihat ke atas.<br />Langit pun ikutan sepi.<br /><br />Kata orang, Tuhan selalu mengajak umatnya <br />untuk melihat berbagai hal dari berbagai sudut pandang.<br />Malam ini, hati gue seolah berkata:<br /><br />"Dalam kesunyian, bisa ada keindahan.<br />Dalam kesepian, bisa ada cinta.<br />Dalam kesendirian, bisa mengenal diri sendiri."glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-70244459538872979272008-02-17T10:44:00.001-08:002008-02-17T10:56:17.461-08:00Tiga Cinta<a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=AM-143-0134.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/AM-143-0134.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a><br /><br />Sinopsis<br /><br />Di dalam sebuah rumah, tinggal 3 perempuan. Yang pertama janda berusia 72 tahun. Yang kedua, pembantu berusia 29 tahun. Dan yang terakhir, anak pembantu itu berusia 7 tahun. <br /><br />Pada suatu kesempatan, mereka bertiga jatuh cinta dengan lelaki pilihan masing-masing. Dalam perjalanan menemukan cinta itu, dengan cara mereka masing-masing, mereka saling memberikan pandangan, ilmu, pengetahuan, pendapat tentang cinta yang tak pernah berkesudahan. Tak ada yang benar dan yang salah. Tidak ada yang lebih tak ada yang kurang.<br /><br />Cinta pula yang merubah hidup setiap perempuan dalam satu atap itu. Dalam perubahan itu mereka bertiga menemukan bahwa mereka lebih banyak memiliki persamaan daripada perbedaan. <br /><br />Sampai suatu saat, cinta mengecewakan mereka. Mengacaukan setiap mimpi. Setiap harapan. Sekilas seolah lelaki lah penyebab semua kekecewaan. <br /><br />Tagline:<br />Ke mana cinta saat logika ikut campur?glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-56246837148285167882008-01-21T10:38:00.000-08:002008-01-21T12:03:24.928-08:00RentangSebagaimana anak yang masa kecilnya hidup serba kekurangan, makanan bukanlah sebuah pilihan. Apapun yang ada di atas meja dan tersedia, harus bisa dimakan. Kalau bisa, dinikmati. <br /><br />Tak ada uang untuk membeli daging ayam, maka ati ayam jadi gantinya. Saya tidak suka. Tapi bukan soal suka atau tidak suka, soal makan atau tidak makan. Bayam apalagi. Cukup disayur bening dan bawang putih seadanya. Saya tidak boleh memilih. Semua harus suka.<br /><br />Sekarang, saya jadi penikmat segala makanan. Selama masih dalam tahap kewajaran, bukan kalajengking, otak kera, anjing, kelinci, dan lainnya, semua bisa saya makan. Bahkan di restoran yang hampir tidak ada pengunjung karena tidak enak, saya masih bisa duduk dan menikmati makanan yang tersedia.<br /><br />Saya pun jadi orang paling tidak pernah komplain ke pramusaji kalau misalnya sup terlalu asin sedikit, nasi kelembekan, terlalu banyak lada dan sebagainya. Semua saya hayati sebagai 'memang harusnya begitu'.<br /><br />Memesan makanan di restoran baru pun bukan hal yang sulit. Tinggal tanya "di sini yang sering dipesan orang apa?" maka itu yang saya pesan. Tanpa banyak pesan sponsor seperti jangan pake bawang bombay, seledri sedikit aja, gak mau pake toge dan lain-lain. Apapun yang nantinya tersaji, 99,9% pasti bisa saya nikmati.<br /><br />Entah ini anugerah atau musibah. Benar atau salah. Ada teman yang bilang "ah standar loe mah rendah!" ada juga yang bilang "wah loe jadi kayak tong sampah dong!" atau ada yang memuji juga "baguslah, hari tua loe nanti gak nyusahin orang. Dikasih makan apa aja loe terima".<br /><br />Kemarin siang, saya menyempatkan diri untuk membolak balik buku yang ada di sudut ruang tamu. Buku baru yang sudah dibeli lama. Isinya adalah kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal dunia. Salah satunya yang menarik perhatian saya datang dari Audrey Hepburn. Almarhumah Audrey bilang, "siapapun yang pernah merasakan kelaparan tidak akan pernah mengeluh kalau steak pesanannya agak gosong".<br /><br />Audrey bisa benar bisa salah. Buktinya banyak juga tuh yang dulunya pernah merasakan kelaparan sekarang jadi orang paling cerewet sedunia soal makanan. Karena semua harus sesempurna mungkin. Trauma kalau sampe makanan gak enak.<br /><br />Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Semua tergantung dari mana kita melihat dan menghayatinya. Dan mau tidak mau, siapa dan apa kita sekarang adalah hasil dari siapa dan apa kita di masa lalu. Dan itu pun tergantung pula dengan bagaimana kita menyikapi pengalaman kita itu.<br /><br />Untuk saya, pengalaman soal kemiskinan di masa lalu itu, memberikan banyak pelajaran. Salah satunya, yang paling berharga, saya jadi orang yang gampang mengapresiasi. Memakan apapun yang tersedia di atas meja, membuat lidah saya terlatih untuk bisa merasa dengan rentang perasa yang luas. Punya rentang yang luas, saya pikir adalah suatu kelebihan.<br /><br />Seorang penyanyi misalnya, selain kualitas suara, tapi juga rentang nada. Makanya penyanyi selalu memulai dengan latihan memperluas rentang suara. Nada rendah kalau bisa semakin rendah. Nada tinggi juga semakin tinggi.<br /><br />Dengan harapan, akan semakin banyak lagu yang dengan mudah ia nyanyikan.<br /><br />Atau pelari. Seorang pelari 100 km misalnya. Saat latihan, dia akan memperluas rentang jaraknya. Kalau perlu dia berlatih untuk berlari 200 km, 300 km! <br /><br />Dengan harapan, 100 km akan dapat dicapai dengan lebih mudah.<br /><br />Bagaimana dengan saya di dunia iklan? <br /><br />Ada seorang teman dekat, orang iklan juga, yang pernah bilang <br />"gue heran deh sama selera loe. Iklan yang ini loe bilang loe suka, yang itu loe suka. Yang ini loe bilang bagus, yang itu loe bilang bagus. Gak konsisten amat sih?"<br /><br />"Contohnya?" Tanya saya balik.<br /><br />"Iklan Cannes 2006 loe bilang bagus, tapi iklan Tje Fuk loe juga bilang bagus."<br /><br />"Ya emang iya. Dua-duanya kan bagus."<br /><br />"Ya enggak dong... Satunya tuh kreatif, satunya enggak banget."<br /><br />"Gak kreatif kan bukan berarti jelek. Lagian siapa yang menilai mana kreatif mana enggak kan?"<br /><br />"Ok! Sekarang gini, loe mau gak di porto loe ada iklan kayak Tje Fuk?"<br /><br />"Ya mau lah... Bagus banget buat resume gue."<br /><br />"Kok?"<br /><br />"Supaya orang tau kalau gue bisa bikin beragam gaya iklan. Award winning, hard sell, soft sell, elegan, murahan, kotaan, kampungan, art base, copy base, dan semua, semua, semuanya! Itu yang gue mau."<br /><br />Benar. Orang kreatif seperti itulah cita-cita saya. Kebayang gak kalau art director punya warna favorit dan semua iklan-nya diusahakan untuk menggunakan warna itu? Pasti membosankan portonya. Atau copywriter punya gaya penulisan headline rhyming. Semua iklan di portonya menggunakan headline yang rhyming. Pasti menjemukan juga. Atau Creative Director, yang di portonya hanya iklan-iklan yang pernah menang awards saja. Akan sangat menyeramkan! <br /><br />Untuk mencapai cita-cita saya itu, saya mulai melatih diri untuk mencoba hal baru. Kalau setiap pagi minum susu sapi, sesekali cobain susu kedelai. Setiap hari makan nasi warteg, sesekali makan McD. Setiap kali selalu naik mobil, sesekali jalan kaki. Setiap hari bertemu orang iklan, sesekali bergaul dengan fashion designer. Setiap hari dengerin Craig David, sesekali dengerin Waljinah dan Rossa. Selalu nonton film indipendent dan pemenang penghargaan internasional, sesekali nonton sinetron Raam Punjabi.<br /><br />Setelah mencoba itu semua, perlahan saya semakin paham. Kenapa orang suka nonton sinetron. Ternyata emang seru dan bikin ketagihan. Kenapa banyak yang suka sama Rossa padahal sama orang iklan sering dilecehkan? Ternyata emang suaranya merdu juga. Beda aja merdunya. Dan lirik lagu-lagunya gampang dimengerti, nada-nadanya ramah di telinga. <br /><br />Semakin hari, bukan cuma makanan, tapi semakin banyak hal-hal yang semakin saya suka. Dan inilah resolusi tahun baru 2008 saya! Ingin memperluas rentang indra, rentang apresiasi, rentang rasa, rentang pikiran, rentang pendengaran dan semuanya.<br /><br />Dan karena itu pulalah, di malam tahun baru kemaren, saya memutuskan untuk jalan kaki dari Apartemen Rasuna di Kuningan ke Monas. Kok mau? Ya mau lah. Kan belum pernah. Selama ini paling clubbing, private party, ke rumah temen, atau sendirian aja di rumah. Sesekali saya ingin menjadi bagian dari 90% penduduk Jakarta saat merayakan malam pergantian tahun. Sesekali saya ingin melihat kembang api di Monas yang selama ini cuma bisa saya lihat di TV dan koran. Sesekali saya ingin mencium bau badan orang-orang Jakarta yang keringetan dan kebasahan kena air hujan. Sesekali saya ingin menyapa pak polisi yang bertugas malam ini.<br /><br />Hasilnya, malam tahun baru kemarin adalah malam tahun baru terbaik dalam hidup saya. Untuk sebuah alasan sederhana, karena membuka banyak indra yang memperluas rentang pengalaman saya.<br /><br />Salah satu bagian yang membuat bulu kuduk saya berdiri adalah ketika jutaan orang Jakarta berteriak kagum melihat kembang api meletup indah di monas. Selamanya telinga saya tidak akan melupakan pengalaman itu. <br /><br /><a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=kembangapikecil.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/kembangapikecil.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a><br /><br />"Boom!"<br /><br />"Whooooooooaaaaaaaaaaaaaaaaa"<br /><br />Selamat Tahun Baru 2008<br /><br />ps: thanks ya ree dan dita yang udah mau nemenin gue walau ujan-ujanan! hehehe!glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-4028984255864443592008-01-10T23:37:00.000-08:002008-01-11T00:13:49.399-08:00Sorry ya Djenar...<a href="http://smg.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/?action=view¤t=poster_10_0.jpg" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/poster_10_0.jpg" border="0" alt="Photobucket"></a><br /><br />Gue gak pernah tau dan mau tau siapa itu Djenar Maesa Ayu. Beberapa kali baca namanya di media dan terakhir ya itu di acara Silat Lidah. Waktu dia launch bukunya Mereka Bilang Sayang Monyet, gue cuma bilang dalam hati "tambah lagi satu seniman curi perhatian".<br /><br />Tau kan maksud gue? Seniman-seniman eksentrik yang sering banget bikin ini itu tapi yang gak ada yang ngerti kecuali dia. Awal-awalnya gue masih sering mencoba untuk mengerti tapi lama-lama bosen juga. Udah gak ngerti, gak indah pula.<br /><br />Demikian juga dengan buku. Supernova misalnya. Sumpah mati gue gak doyan. Temen-temen sekitar gue pada bilang bagus. Menang ini itu. Gue gak bisa baca lebih dari 10 halaman. Bayangin tiap halaman mesti baca footnote karena banyak kata-kata ajaib. Gimana mau menikmati coba. Abis itu gue gak pernah lagi mau baca bukunya Dee, dan teman-temannya di kepala gue. Salah satunya ya Djenar itu.<br /><br />Sampe akhirnya semalam, temen deket gue ngajakin nonton Mereka Bilang Saya Monyet. Gue dah malessss banget tadinya. Padahal udah baca tulisan Totot Indrarto di Kompas sebelumnya yang memuji film ini. Dalam hati gue berpikir "seniman belain seniman... ya.. ya...ya...".<br /><br />Pas awal film ini, mulailah keajaiban dengan tulisan Plaza Senayan sebagai produser. Duh mak! Tolong! Pasti adegan mall di mana mana.<br /><br />OK! Film dimulai. Dan entah kenapa, pelan-pelan gue mulai ngasih kesempatan untuk film ini. Ngasih kesempatan untuk mengajak gue berdialog. Dan tanpa gue sadari, perlahan gue mulai membuka diri. Dan akhirnya gue pun berdialog dengan film ini.<br /><br />Setiap adegan mengajak gue untuk berdialog. Gini ilustrasinya:<br /><br />Mereka Bilang Saya Monyet (MBSM):<br />"menurut gue gini, Glenn... menurut loe gimana?"<br /><br />Glenn:<br />"bener juga sih, tapi gak gitu juga kali..."<br /><br />MBSM:<br />"bener juga sih loe, atau mungkin karena begitu jadi begini"<br /><br />Glenn:<br />"bisa juga begini karena begitu kan?"<br /><br />Dan seterusnya, sampai akhir film ini. Gue terdiam karena keasikan ngobrol sama film. Gak ada bagian di film ini yang gak perlu. Gak ada yang mubazir tanpa arti. Gak ada beauty shots. Lighting kacau. Grading ancur. Props gak penting. Tapi buat gue, ini adalah salah satu film terbaik yang Indonesia pernah punya. Lebih baik dari Nagabonar Jadi 2. <br /><br />Ngomong-ngomong soal film yang baik, setiap orang boleh punya pendapatnya sendiri-sendiri. Menurut gue film yang baik adalah cerita yang baik. Cerita yang baik adalah cerita yang membuka pikiran dan mengajak kita untuk berdialog. Yang membawa pikiran kita keluar untuk jalan-jalan. Sama kayak anak kecil didongengin.<br /><br />MBSM, punya cerita yang sangat berisi dan padat. Di beberapa dialog gue bisa ngerasain pembelaan, pandangan, pendapat, kritikan dari seorang Djenar. Dan menurut gue disitulah kekuatan ceritanya. Orang kan hanya bisa berkarya menurut kapasitasnya. Dan Djenar menyampaikan semua dengan apa adanya. <br /><br />Di saat yang lain mencoba untuk menjadi orang lain di luar kapasitasnya.<br /><br />Film terakhir yang gue nonton adalah Muallaf arahan Yasmin Ahmad. Bagus banget sampe gue berpikir masak sih gak ada film director di Indonesia bisa bikin yang kayak gini aja. Muallaf film yang sederhana juga. Sampe akhirnya gue nonton MBSM. Gue bisa bilang MBSM lebih baik dari Muallaf dari segi cerita. <br /><br />Soal adegan terakhir di mana setiap pemain keluar dalam satu frame, gue ok-ok aja. No big deal lah. Mungkin Djenar mau bilang "eh tau gak sih, kalau semua karakter yang ada film ini, ada dalam kehidupan sehari-hari." Kekurangannya menurut gue ada di Jajang C. Noer. Menurut gue dia gak OK aja di situ. Pembantu kok intonasinya kayak nyonya. <br /><br />Terakhir gue mau bilang "Sorry ya Djenar... Gue kira loe seniman yang lagi suka curi perhatian doang. Ternyata loe pencuri hati."glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-57615855157867652882007-12-06T20:00:00.000-08:002007-12-06T20:02:47.567-08:00Adoi Presents Yasmin AhmadMau tau kenapa gue gak pernah peduli dengan segala bentuk gerakan ganyang Malaysia yang heboh sekarang? Dan cenderung menganggap gerakan itu sebagai tidak perlu dan membabi buta?<br /><br />Mungkin foto-foto di<br />http://glennmarsalim.multiply.com/photos/album/75<br />bisa cerita banyak.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-38216855075730287852007-11-06T18:57:00.000-08:002007-11-06T19:05:09.483-08:00Ngobrolin Iklan, Yuk! - Budiman Hakim<a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/P1020699.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />gak ada yang istimewa dalam hidup kami.<br /><br />anugerah apalagi ini,<br />sampai nama kami berdua<br />bisa ada dalam buku sepenting ini.<br />alhamdulillah!<br /><br />terima kasih oom bud.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-59178141768583511142007-11-05T07:07:00.001-08:002007-11-05T07:37:54.480-08:00Gak Lebih Gak KurangTadi pagi,<br />gue bangun jam 9 an lebih lah.<br />Pas keluar kamar, <br />gue bisa denger suara Mbak Pargi nyuci baju.<br /><br />Terus gue lanjutin dengan <br />nyiapin makan pagi sendiri.<br />Mbak Pargi nawarin bantuan.<br />Gue tolak karena memang <br />gue lagi pengen bikin sarapan sendiri.<br /><br />Sambil makan pagi gue baca koran,<br />dilanjutkan ngobrol sama Mbak Pargi.<br />Cerita tentang waktu lebaran kemaren,<br />sebenarnya dia sudah mau dilamar.<br /><br />Lamaran itu dia tolak,<br />karena lamaran itu bersyarat.<br />Dia harus tinggal di kampung.<br />Mbak Pargi belum mau.<br /><br />Sesudah sarapan, gue mandi.<br />Bersiap-siap mengantarkan CD.<br />Ke sebuah agency di bilangan Proklamasi.<br />Sekalian ambil bayaran. <br /><br />Dari situ, gue ke Plaza Senayan.<br />Tadi pagi gue liat kulkas kosong.<br />Gue beli nasi bogana dan lain-lain.<br />Semua gue bawa pulang.<br /><br />Pas pulang lagi, Mbak Pargi lagi menyapu.<br />Sambil dengerin radio pake earphone.<br />Dia agak terkejut karena gue pulang cepet.<br />Gue minta dia ngelanjutin dengerin radio sambil nyapu.<br /><br />Di depan gue sekarang ada nasi bogana.<br />Di samping laptop. Internetan.<br />Cek imel, blog, multiply, friendster.<br />Kirim kerjaan sedikit.<br /><br />Gak terasa gue tertidur sebentar.<br />Mungkin karena nasi bikin ngantuk.<br />Gak sampai 30 menit.<br />Pas bangun lagi, Mbak Pargi sudah pulang.<br /><br />Dengan berat, gue bersiap ke gym.<br />Rencananya hari ini mau jalan kaki aja.<br />30 menit bisa sampai.<br />Udara mendung mendukung rencana ini.<br /><br />Sambil berjalan ke gym,<br />gue mendengarkan ipod.<br />Unbreakable-nya Shanty kiriman teman.<br />Lumayan. Jadi semangat jalan.<br /><br />Sesampai di gym, gue ikutan kelas spinning.<br />Sambil mengayuh sepeda,<br />terbayang lemak nasi bogana ikut terbakar.<br />Badan gue basah kayak baru mandi.<br /><br />Sesudah gym, gak pake mandi<br />gue memutuskan untuk berjalan kaki pulang.<br />Jalanan masih macet.<br />Kali ini gak dengerin ipod.<br /><br />Hujan rintik-rintik kecil.<br />Bau tanah mulai tercium.<br />Langkah sengaja gue lambatkan.<br />Udah lama gak mengalami ini.<br /><br />Kena air hujan.<br />Kena angin kota Jakarta.<br />Mendengarkan suara sekeliling.<br />Nyebrang jembatan busway.<br /><br />Mendengarkan suara wajan nasi goreng jalanan.<br />Klakson mobil gak sabar.<br />Suara kenek berteriak lantang.<br />Satpam mengatur lalu lintas.<br /><br />Bau sampah di pinggir jalan.<br />Kucing mati di aspal.<br />Semilir bau badan satpam yang sibuk kerja.<br />Dengkuran pengemis di halte bis.<br /><br />Satu-satunya kata yang ada di hati gue,<br />"alhamdulillah, alhamdulillah..."<br />Buat gue, inilah nikmatnya hidup.<br />Inilah hiburan yang sebenarnya.<br /><br />Gue memang gak punya semua.<br />Dan memang gak akan pernah punya semua.<br />Apa yang gue alami hari ini,<br />Adalah kenikmatan dari Allah.<br /><br />Sebelum perjalanan selesai,<br />gue cuma bisa bersyukur.<br />Inilah yang gue mau. Cukup seadanya.<br />Gak lebih dan gak kurang.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-4991213912675837572007-09-11T03:54:00.000-07:002007-09-11T03:56:43.667-07:00Spiritual yang Menjadi Ritual?Semenjak saya lahir di dunia ini, setiap tahun umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa. Banyak teman-teman saya yang khusuk menjalankan ibadah puasa, banyak yang setengah-setengah, banyak juga yang tidak sama sekali.<br /><br />Walau minim pengetahuan soal agama, saya percaya puasa dimaksudkan agar setiap umat manusia yang menjalankannya, kembali ingat akan kefitrahannya. Kembali pada kebaikan. Menjauhi dosa. Intinya, berharap untuk kembali menjadi manusia yang disayang Allah.<br /><br />Kalau benar, setiap umat Islam di negara ini menjalankan ibadah puasa dan memahami benar maksudnya, mengapa angka kriminalitas di tanah air kita tidak pernah berkurang? Mengapa koruptor bertambah jumlahnya? Mengapa kita semakin tidak menyayangi sesama? Mengapa semakin hari saya lebih sering mendengar orang menjelekkan orang lain? Mengapa semakin banyak orang yang syirik, iri, jahat, dan tega melakukan kebiadaban bahkan pada anaknya sendiri?<br /><br />Apakah semangat spiritual puasa sudah menjadi ritual tanpa arti semata?<br /><br />Natal tahun 2002. Seluruh umat di Amerika merayakan Natal. Di depan gedung putih yang termasyur, berdirilah pohon terang, pohon damai. Ribuan manusia negara itu serentak menyanyikan lagu Natal. "Damai, damai, damai lah senantiasa..."<br /><br />19 Maret 2003, 3,5 bulan setelah itu, Bush menyatakan perang Irak. Ribuan manusia meninggal sia-sia. Milyaran bahkan triliunan uang ikut terbuang sia-sia. Dan sampai sekarang, 2007, hasil perang Irak masih diperdebatkan.<br /><br />Apakah semangat spiritual Natal sudah menjadi ritual tanpa arti semata?<br /><br />Dari SD sampai SMA, saya adalah seorang katolik yang sangat patuh. Setiap minggu, bahkan kadang setiap hari, saya pergi ke gereja. Perlahan tapi pasti, saya sering merasa ada yang kurang kalau Minggu tidak pergi ke gereja. Seperti tidak sikat gigi di pagi hari. Kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah, dan masa-masa awal saya bekerja.<br /><br />Sampai di suatu Minggu. Saya sedang mengikuti misa. Mendengar khotbah pastor yang panjang, saya kehilangan fokus. Benar-benar tidak mengerti sama sekali arti khotbah. Dilanjutkan dengan berdiri, berlutut, berdoa, semua seolah bergerak secara otomatis.<br /><br />Ketika pulang, tiba-tiba saya merasa sangat bersalah. Bahkan berdosa. Bagaimana mungkin untuk menghadap Sang Pencipta saya tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Badan di gereja tapi pikiran entah ke mana. Mulut berdoa tapi hati tak tau merasa apa.<br /><br />Saat itu, saya benar-benar merasa, ke gereja setiap Minggu tidak lagi menjadi kebutuhan spiritual rohani lagi. Tapi sekedar memenuhi ritual. Sama seperti sikat gigi. Bahkan kadang, sikat gigi dilakukan lebih dihayati ketimbang ke gereja.<br /><br />Sebentar lagi penghujung tahun tiba. Puasa, Lebaran, Natal, Tahun Baru, Sin Cia, dan banyak lagi hari besar keagamaan datang berturutan. Saya cuma bisa berdoa, semoga hari-hari besar itu bukan lagi sekedar menjadi ritual tanpa arti. Tapi benar-benar bisa kita hayati. Semata untuk mendekatkan diri pada Ilahi, dan menjadi lebih baik di hari nanti.<br /><br />Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 2007.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-5373544181043506092007-09-06T12:00:00.000-07:002007-09-06T12:08:06.268-07:00Apa yang Menjadikan Pekerja Kreatif yang Baik?Besok jam 8:30 pagi, Student's Creative Awards (SCA)-nya CCI kembali digelar. Setelah 2 tahun menghilang. Dan seperti 2 tahun lalu, kali ini gue juga diajak untuk mengajar. Materinya apa? Sama seperti 2 tahun lalu. TTL. Tapi mungkin kali ini gue akan mencoba memberikan materi TTL dengan cara baru. Supaya gue juga gak bosen.<br /><br />Malam ini, gue mencoba merenungkan. Apa sih yang menjadikan seorang kreatif itu dibilang kreatif yang baik? Karena kan ujung-ujungnya, SCA dibuat untuk menciptakan tenaga-tenaga kreatif yang lebih baik daripada yang sekarang.<br /><br />Apakah kalau seorang Art Director, bisa melay-out dengan baik,<br />bisa menggunakan photoshop dengan handal,<br />bisa memadu padankan warna dengan ciamik,<br />bisa menggunakan font dengan super canggih,<br />bisa disebut sebagai Art Director yang baik?<br /><br />Demikian pula dengan Copywriter.<br />Apakah kalau Copywriter bisa menulis <br />dengan bahasa yang singkat pada dan mudah dimengerti,<br />bisa menulis dengan kata-kata yang mudah diinggat orang,<br />bisa menulis sesuai dengan strategi iklannya,<br />bisa menulis tagline yang diingat oleh hampir seluruh penduduk Indonesia,<br />bisa disebut Copywriter yang baik?<br /><br />Kenapa kayaknya kalau cuma itu-itu saja acuannya, tenaga kreatif jadi kerdil sekali kesannya. Photoshop lah, warna lah, font lah, headline pendek lah, catchy tagline lah… YUCK! Bosan! Banyak tuh di gudang belakang!<br /><br />Sejujurnya, semakin hari gue semakin menemukan, kemampuan dan keterampilan di atas emang penting. Tapi ada yang lebih penting dari itu semua. Menurut gue, yang lebih penting dari itu semua, lagi-lagi, menurut gue, adalah attitude.<br /><br />Untuk apa anak kreatif jago segalanya,<br />tapi datang terlambat melulu sehingga mengganggu yang lain?<br />Untuk apa pinter ngelayout,<br />tapi semua yang keluar dari mulutnya adalah komplen dan keluhan?<br />Untuk apa pinter nulis copy,<br />kalau hampir tak pernah ada kata indah keluar dari mulutnya sendiri?<br />Belakangan ini, gue sering merasa lebih nyaman bekerja dengan anak magang ketimbang karyawan. Kenapa? <br /><br />Karena anak magang masih punya semangat yang luar biasa. Sehingga gue pun jadi ikut semangat pula. Mereka tidak pernah komplen sana sini. Tapi lebih ke mencari solusi. Dan kalau dapat anak magang dari universitas terpercaya, biasanya mereka lebih disiplin. Dateng kantor dan menyelesaikan kerjaan tepat waktu.<br /><br />Attitude mereka MASIH baik. Semangat belajar dan bekerja mereka MASIH tinggi. Walau dibayar sedikit, tapi mereka bekerja seolah tidak butuh uang.<br /><br />Sekarang coba kita lihat ke belakang. Tempat duduk di mana para karyawan bekerja. <br /><br />Yang satu datang terlambat dengan mata sayu karena semalamnya habis side job. Mau dikasih brief juga udah susah.<br />Belum lagi yang datang kantor petantang petenteng,<br />duduk, buka YM, multiply, friendster. Dan pas brief datang bilangnya selalu sibuk.<br />Atau yang tak pernah berhenti komplen. Mulai dari urusan gaji sampai kopi, OB sampai CD semua dikomplen.<br /><br />Kalau gue harus memilih, bekerja dengan orang yang pandai, pinter cemerlang dengan attitude buruk atau bekerja dengan orang yang biasa-biasa saja dengan attitude yang baik, jelas yang kedua menjadi pilihannya.<br /><br />Sempurna kalau bisa dapat kedua-duanya. Pandai dan berattitude baik. Tapi seperti kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah.<br /><br />“Talents are best nurtured in solitude, but character is best formed in the stormy billows of the world” <br />–Johann Wolgang von Goethe-<br /><br />atau<br /><br />“If you can't excell with talent, triumph with effort.”<br />-Dave Weinbaum-<br /><br />Sekarang, pertanyaan berikutnya, bagaimana mungkin mengajarkan soal attitude dalam waktu 2 jam?<br />Waktu yang diberikan untuk gue dalam SCA esok?<br />Mau tau doa gue setiap kali bertemu dengan anak-anak magang berbakat, dengan attitude yang baik?<br />“Tuhan, tolong jaga dia agar seperti ini terus adanya…”glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-48912117994561982952007-08-13T07:11:00.000-07:002007-08-13T08:33:18.313-07:009 WEJANGAN SUNYIdalam perjalanan saya sebagai freelancer, sering saya ditanyain "apa sih rahasia-nya biar bisa jadi freelancer?"<br />selama ini saya diam saja, karena merasa masih baru sebagai freelancer. belum pantaslah untuk bilang freelancer harus begini begitu.<br /><br />pun sekarang saya tetap merasa belum pantas. masih banyak freelancer yang sudah lebih senior dan sepuh.<br /><br />sampai minggu kemaren. dalam perjalanan pulang dari makan siang bersama ibu saya. saya jadi teringat akan masa lalu kami.<br /><br />ibu saya seperti layaknya ibu-ibu keturunan tionghoa lainnya, bukanlah ibu yang romantis. memberikan wejangan di bawah sinar bulan purnama misalnya. <br />cara ibu agak beda. dia adalah seorang penjahit. wejangannya bukan kata-kata. tapi apa yang dia lakukan di depan saya, anaknya. bisa jadi, ibu sendiri tak tahu bahwa ia sedang memberikan wejangan. <br /><br />ke-9 wejangan sunyi inilah yang saya hendak bagikan kepada teman-teman. kali-kali ada gunanya. barangkali bisa bikin semangat. atau setidaknya, bisa buat baca-baca.<br /><br />1. ada tuhan di atas segalanya.<br />hidup ibu saya, sejauh ingatan saya, tak pernah mudah seperti saudara-saudara kami yang punya perusahaan besar. tapi ibu tak pernah hilang percaya diri. ibu selalu yakin kalau semua orang, punya mangkok-nya sendiri-sendiri. dan tuhan sudah mengaturnya dengan bijaksana.<br />kadang kita sering melupakan tuhan. padahal, rezeki dari tuhan. <br /><br />2. kasih lebih.<br />ibu saya selalu mengajarkan untuk selalu memberi lebih dari yang diminta. kalau ada pesanan yang punya sisa kain banyak, ibu selalu menyimpannya dengan hati-hati. ketika klien itu datang itu menawarkan untuk menjadikan sisa bahan untuk yang lain. sekedar blus atau bahkan sapu tangan. semua tanpa biaya.<br />kalau ada tagline pasti jadinya "kami memberi lebih!"<br /><br />3. minta bayaran lebih rendah dari seharusnya.<br />ibu punya banyak langganan. kualitas jahitannya, sudah diakui sama dengan tailor terkenal. tapi, ibu gak pernah minta bayaran yang sama. selalu lebih murah.<br />mungkin maksudnya, supaya punya nilai lebih. kualitas tailor, harga rumahan.<br /><br />4. jujur soal duit.<br />pernah suatu ketika seseorang mengirim bayaran dalam amplop. ternyata uang dalam amplop itu lebih dari yang seharusnya. kontan, klien itu ditelepon dan sisa uang dikembalikan. <br />lebih baik miskin daripada makan duit haram.<br />lebih baik pinjam duit orang daripada mencuri duit orang.<br /><br />5. tepat waktu.<br />namanya penjahit, ibu selalu menepati janjinya. selesai senin berarti senin. jam 3 berarti jam 3. tetangga kami dulu, seorang penjahit juga. dia hampir tak pernah menepati janjinya. padahal, jahitan celananya sangat bagus! sayang, klien-nya pun semakin hari semakin sedikit.<br />waktu itu adalah uang.<br />kalau tak mau waktu kita dibuang percuma jangan buang waktu orang lain.<br /><br />6. jangan cari musuh.<br />kembali ke tetangga itu tadi. walau seharusnya dia adalah kompetitor tapi ibu saya mengajaknya bekerja sama. pesanan ibu dibagi. karena kebetulan ibu tak pandai menjahit celana. ibu saya jadi manager yang mengatu jadwalnya. kekurangan ibu ditutupi, kekurangan dia disempurnakan.<br />sering kebencian akan musuh bikin kita jadi lemah. padahal kalau musuh diajak kerja sama bisa jadi menguatkan diri kita sendiri.<br /><br />di kemudian hari, saya menyadari kalau wejangan nomor 6 ini ada tertulis di sun tzu, art of war. bisa jadi, ibu saya sendiri tidak mengetahuinya.<br /><br />7. bikin sebisanya dari apa yang ada.<br />istilah inggrisnya, make a chicken salad out of chicken shit.<br />ada saatnya pesanan menurun. padahal uang sekolah saya tetap harus dibayar. ibu kreatif dalam arti sebenarnya. ia pun jualan es batu dan es mambo. bikin ikatan rambut dari kain perca. jualan handuk pengering tangan dan gagang kulkas. <br />bahkan sering, penghasilan sampingan ini melebihi penghasilan utamanya.<br /><br />8. lihat ke depan.<br />banyak yang pernah menyakiti hati ibu atau kami sekeluarga. tapi ibu, tak pernah bosan untuk selalu mengingatkan bahwa biar bagaimana pun juga, ia tetap ayah saya, ia tetap tante saya, ia tetap sahabat, ia tetap teman.<br />lihat ke depan, karena masa lalu itu milik masa lalu. kita bisa belajar daripadanya tapi bukan untuk hidup di masa lalu.<br /><br />9.jangan serakah.<br />terkadang, pesanan melebihi kemampuan ibu. kalau mau serakah, pasti semua diterima. tapi entah kenapa, ibu selalu membagi orderan. salah satunya ya ke tetangga yang merupakan kompetitor itu. saya, anaknya yang masih abg saat itu, geram dan gemas dibuatnya. dalam otak picik saya, kalau semua dikerjakan sendiri, kami bisa jadi lebih cepat kaya.<br />padahal, bukan kaya diraih. ibu bisa sakit dan malah keluar uang.<br /><br />mungkin ada 90 wejangan yang tak pernah terucapkan. 900! bahkan 9000! tapi mungkin bukan seberapa banyak yang terucapkan yang penting. tapi seberapa banyak yang kita bisa laksanakan.glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-47430590310416166822007-07-30T09:33:00.000-07:002007-07-31T09:02:56.356-07:00Borobudur<a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/JKTYogjakartaBorobuduratsunrise_b.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />While God waits for His temple to be built of love,<br />men bring stones. - Rabindranath Tagore<br /><br /><br /><br /><span style="font-style:italic;">Tagore himself visited Japan several times, and Japanese haiku were translated into Bengali by Tagore early in the 20th century. However, Kalyan Dasgupta writes in 2001 that to this day, haiku as a literary expression does not seem to evoke much more than a queer reaction among the general reading public in either West Bengal or Bangladesh.<br /><br />And so, when he published Jaapaani Haaiku (Calcutta: 2000)--a Bengali anthology of Japanese haiku--Dasgupta felt the need to describe for his readers "what the Japanese have sought from haiku," including "elegance" and "simplicity." Such information on how to receive haiku is essential if one wishes to import the form to a non-Japanese language and culture.<br /><br />The title of this poem, ‘Fireflies’, comes from the first verse of the bilingual ‘Lekhan’ (1926)—‘My fancies are fireflies. . .’ It consists of 256 epigrams and short verses and shares structural similarity with Tagore’s other notable epigrammatic poem, ‘Stray Birds’. These poems resemble the sayings of a wise man rather than poetry. The possibility of the influence of Japanese Haiku can be suggested. The compact style conveys memorable poetic expressions with great force and intensity. The brevity and crispness of these verses combined with the wit and wisdom contained in them make these poems extremely delightful and reader friendly. The Bengali version of some these poems are also to be found in ‘Sphulinga’ (1946) apart from ‘Lekhan’.<br /><br />The beautiful promenade on the shore of lake Balaton was named after Rabindranath Tagore (it was called Kolos promenade, then Deák promenade previously). The world-famous Hindu poet heart disease was treated here in 1926. He completed the ‘Fireflies’ during this stay in Balatonfüred. After his recovery he planted a lime-tree in the health-park. This act was motivated by an old Indian legend saying that if the tree takes root, its planter will live long so that he or she can see the new sprouts. "If I am not present in this world any more, oh my tree, let your new leaves rustle in spring above those who roam about; the poet loved you until his death." - wrote the poet. In fact, Tagore lived for another 17 years after having planted the tree. A Hindu grove has been created around the memorial tree and statue of the poet in the past decades. Several presidents of the Indian Republic including Indira Gandhi saluted the memory of Tagore by planting trees. </span>glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-65454951668441290812007-07-23T00:54:00.000-07:002007-07-23T01:00:03.817-07:00Di Sela-sela Nyari DuitGue menyempatkan diri untuk baca-baca buku. Kadang-kadang ada aja yang minta saran untuk beli buku. Gue suka bingung juga, karena gue sendiri kalau ke toko buku ya pasti bingung mau beli yang mana. Buka satu-satu baca sedikit-sedikit untuk cari tau isi bukunya, baru dibeli.<br /><br />Nah kali ini gue mau kasih resensi buku-buku yang menurut gue bagus dan pantas untuk dibeli.<br /><br /><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/068483934201.LZZZZZZZ.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />1. Gitanjali - Rabindranath Tagore<br /><br />Buku ini adalah salau satu masterpiece dunia dan pernah memenangkan hadiah Nobel di tahun 1913 untuk literatur. Ditulis oleh Tagore yang banyak dipengaruhi oleh Gandhi di mana kemerdekaan berpikir menjadi begitu penting.<br />W.B. Yeats 1865-1939, penulis puisi besar dari Irish dan pemenang hadiah Nobelmengatakan bahwa puisi dan pemikiran Tagore "This work has stirred my blood as nothing for years..."<br />Tagore dalam Gitanjali menekankan pentingnya kemerdekaan dan pembauran ide dan nilai (dari berbagai bangsa) untuk lahirnya dunia baru yang lebih luas dan saling menghargai.<br /><br />Where the mind is without fear<br />and the head is held high;<br />Where knowledge is free;<br />Where the world has not been broken up<br />into fragments by narrow domestic walls;<br />Where words come out from the depth of truth;<br />Where tireless striving stretches its arms towards perfection;<br />Where the clear stream of reason has no lost its way<br />into the dreary desert sand of dead habit;<br />Where the mid is lead forward by thee into ever-widening thought and action ---<br />Into that heaven of freedom, my Father,<br />let my country awake.<br /><br />Idola baru gue: Rabindranath Tagore.<br />Harganya: Rp 76.000,- di Kinokuniya<br /><br /><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/41igW7MWBtL.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />2. The Dip - Seth Godin<br /><br />Secara mengejutkan Godin kali ini menelurkan coffee-table book. Dan isinya buka soal teori-teori marketing seperti biasanya, tapi seperti tagline di judulnya "A little book that teaches you when to quit (and when to stick)<br /><br />Sedari kecil, kita selalu diajarkan untuk tidak pernah menyerah. Tapi di buku ini, Godin mengatakan bahwa banyak orang-orang besar dan pemenang dunia, menyerah dan kalah sebelumnya. Tapi semua tergantung dari keadaannya dan bagaimana kita bisa membaca situasi. Seperti kata orang "you do not have to win all but pick your battle!"<br /><br />Godin membaginya dalam 3 keadaan, The Dip, The Cul-De-Sac dan The Cliff. The Dip adalah keadaan di mana kita tidak boleh menyerah, The Cul-De-Sac seperti namanya, jalan buntu, yang berarti saatnya untuk menyerah dan The Cliff yang menawarkan kita untuk sedikit nekad dan berani meloncat.<br /><br />Lumayan menyegarkan di tengah terpaan kerjaan yang bikin kita bingung 'mesti ngapain ya?'<br />Harganya Rp 129.000,- di Aksara<br /><br /><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/9781844035632.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />3. 1001 Paintings You Must See Before You Die - Geoff Dyer/Stephen Farthing<br /><br />Salah satu cita-cita dalam hidup gue adalah pengen mengembara keliling dunia dan melihat lukisan-lukisan kelas dunia dengan mata kepala gue sendiri. Monalisa, Sunflower, The Last Supper, Sistine Madonna dan lainnya.<br /><br />Bukan pesimis, tapi sepertinya cita-cita itu hanya milik para milyarder. Selain biaya transportasi akomodasi, tak semua lukisan dunia itu bisa dilihat oleh orang biasa. Ada banyak yang sudah menjadi koleksi pribadi bangsawan dan taipan dunia. Pun bisa dilihat di museum, seringkali karya agung dunia itu direstorasi dan disimpan dalam lemari besi.<br /><br />Buku ini benar-benar menghibur! Tak hanya lukisan, tapi juga sedikit cerita tentang pelukisnya dan mengapa lukisan itu menjadi begitu istimewa dalam perjalanan seni dunia. Perjalanan dimulai dari Pra-1400 sampai 1900-an.<br /><br />Tebal dan menurut gue, setiap Art Director harus punya buku ini. Akan membuka pikiran dan cakrawala baru. Bagaimana para pelukis dunia berkomunikasi.<br />Harganya Rp 274.000,- di Aksara<br /><br /><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/41n3xVWksrL._SS500_.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />4. What Would Buddha Do? dan What Would Buddha Do at Work?- Franz Metcalf<br /><br />Agama Buddha, adalah salah satu agama yang menarik perhatian gue. Entah kenapa, bagi gue, Buddha itu adalah puisi. Kepelikan dunia menjadi begitu sederhana dan jernih. Kadang gue sering tercampur baur dengan Haiku dan Zen.<br /><br />Sampai akhirnya gue menemukan buku ini. Di dalamnya berisikan pertanyaan-pertanyaan seperti What would Buddha do about matterial possesion? What would Buddha do about women's right? What would Buddha do about angry clients? What would Buddha do about lazy employee? What would Buddha do about affair at works? Dan ratusan pertanyaan-pertanyaan relevan dan sehari-hari yang dijawab dengan sangat sederhana tapi dalam.<br /><br />Franz Metcalf meramu jawaban-jawaban dari kitab-kitab dan interpretasinya. Menarik untuk dijadiin hadiah untuk karyawan atau boss.<br />Harganya seratusan lebih, ada di Kinokuniya dan Etnobook.<br /><br /><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/sacred_east.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />5. The Sacred East - General Editor C. Scott Littleton<br /><br />Seperti yang gue tulis di atas, gue sering bingung membedakan antara Buddha, Hindhu, dan Konghucu. Haiku itu Buddha atau Hindhu sih? Zen?<br /><br />Nah di buku ini, semua dijelaskan lengkap dengan sejarahnya. Mulai dari arti setiap simbol sampai tata krama keagamaan. Menjawab keraguan adanya penyembahan berhala yang selama ini dijejalkan ke otak gue sejak SD. Sampai tentang maksud ritual keagamaan yang pada dasanya menjadikan manusia menjadi lebih baik dan menjaga hubungan rumah tangga.<br /><br />Menariknya, karena buku ini ditulis oleh orang barat, beberapa ide-ide besar yang selama ini seolah berasal dari barat ternyata telah merasuki perbendaharaan barat. Seperti Karma, meditasi dan kebangkitan.<br /><br />Harganya seratusan juga di Etnobookglenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-84949923909164974892007-06-27T03:15:00.000-07:002007-06-27T03:32:55.993-07:00Percakapan Di Sebuah Cafex:<br />sumpah mati gue bosen kerja! capek... enak ya loe, freelancer...<br />g:<br />"ya cobain aja jadi freelancer..."<br />x:<br />"ya loe enak, single... gue kan ada anak bini"<br />g:<br />"emang apa hubungannya?"<br />x:<br />"iya kan gue butuh steady income"<br />g:<br />"emang kalau freelancer gak punya steady income? kalau karyawan gak mungkin dipecat?"<br />x:<br />"problemnya adalah, loe nggak pernah ngerasain punya tanggungan keluarga... ya seenggak-enggaknya kalau karyawan tiap bulan kan dapet duit"<br />g:<br />"ok... tapi sekarang kalau loe gak enjoy kerjaan loe, terus loe stress, sampe di rumah marah-marah. loe gak pernah pulang. gak ada waktu buat keluarga. keluarga loe juga gak enjoy kan?<br />x:<br />"iya sih... tapi loe tau sendiri lah, apa-apa mahal, uang sekolah anak gue aja 3 juta sebulan"<br />g:<br />"ah gila, anak loe sekolah di mana emang?"<br />x:<br />"tiiiit (sebuah nama sekolah elit)"<br />g:<br />"ya udah gak usah sekolah di situ... tarakanita gitu kan gak semahal itu... kanisius..."<br />x:<br />"iya tapi gue pengen dong anak gue masuk sekolah internasional"<br />g:<br />"berarti itu maunya loe dong?"<br />x:<br />"iya lah... ambisi semua orang tua kan anaknya sekolah di sekolah terbaik?"<br />g:<br />"pastinya.... kan setiap orang tua pasti sayang sama anaknya"<br />x:<br />"iya lah"<br />g:<br />"kalau sayang berarti kerja harusnya bukan beban dong?"<br />x:<br />"iya sih..."<br />g:<br />"terus kenapa komplen meluluk sekarang?"<br />x:<br />"ah loe gak ngerti lah glenn! loe gak punya keluarga, loe bisa bebas, loe single"<br />g:<br />"ya udah loe cerai aja gimana?"<br />x:<br />"sialan! ajarin cara cerai dong, kayaknya menarik nih!"<br />g:<br />"hahaha, maksud gue gini, kan waktu loe dulu nikah, loe dah tau dong konsekwensinya? dan bahwa harga barang dan biaya hidup meningkat itu udah diprediksi sama jayabaya kan?"<br />x:<br />"iya... terus..."<br />g:<br />"iya kan berarti loe dah tau dong bahwa hidup berkeluarga itu memang susah hari begini. kecuali nanti pas udah tua, mungkin gantian gue yang susah gak ada yang ngurus."<br />x:<br />"ergh... belum tentu juga sih.... belum tentu anak gue bakal ngurus gue pas tua nanti..."<br />g:<br />"nah tumben loe pinter!"<br />x:<br />"hahahaha anjing loe!"<br />g:<br />"hehehe, udah ah, gue mau ke plaza indonesia dulu. mau ngelayout sambil makan di california pizza kitchen. loe mau ngapain?"<br />x:<br />"gue balik kantor. nanti jam 3 ada internal"<br />g:<br />"ok deh, have fun ya!"<br />x:<br />"ergh... kayaknya loe deh yang have fun ya!"<br />g:<br />"loe juga bisa kok!... bye..."<br />x:<br />"loe sih enak, single... sialan loe. jadi kepikiran cerai nih..."<br />g:<br />"hahahahahah bukan salah gue... bye"<br />x:<br />"bye"glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-10657525.post-39515323163583302842007-06-04T06:30:00.001-07:002007-06-04T06:45:19.421-07:00Kuis<a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v660/glenn_marsalim/P1020350.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"></a><br /><br />a. kamarnya kecil dan saya jadi diri sendiri<br />b. kamarnya kecil untuk saya jadi diri sendiri<br />c. kamarnya kecil makanya saya jadi diri sendiri<br /><br />jadi inget sama seseorang yang pernah bilang:<br />"surga itu ada di tempat tersembunyi bernama diri sendiri."glenn_marsalimhttp://www.blogger.com/profile/00289119157894996798noreply@blogger.com