Sunday, March 23, 2008

Untuk Apa Sempurna?

Sun Tzu Art of War, yang ditulis pada 512BC ini memang luar biasa. Melintasi ruang dan waktu berabad lamanya. Strategy perang yang dilandasi pada kehidupan manusia ini, menyampaikan kebenaran dan celah untuk menang bukan saja perang, tapi juga kehidupan.

Buku yang masih jadi pedoman banyak pelaku bisnis dunia ini, memberikan sebuah pedoman sederhana. Sebelum bisa memenangkan sebuah peperangan, pertarungan, perjuangan, perlawanan, pergulatan, ada dua hal yang sangat penting.

Pertama, kenali diri sendiri. Kedua, kenali lawan.

Dalam sebuah puisi barat yang saya sudah lupa siapa penulisnya dan apa judulnya, maklum puisi itu saya baca waktu saya masih kelas 2 SMP. Kalau sampai sekarang masih melekat di ingatan berarti kalimat itu memiliki kebenaran untuk saya., ada bait yang berkata:

"Tuhan ajari aku untuk semakin mengenal diri sendiri, karena mengenal diri sendiri adalah landasan pengetahuan."

Yang dalam interpretasi sederhana saya, sebelum kita bisa belajar tentang apapun, memahami makna kehidupan, mengerti segala hal dan lainnya, kita harus mengenal diri sendiri. Kedengarannya gampang, tapi bukankah ada pepatah yang bilang "buruk muka cermin dibelah."

Ketika kita mencoba mengenal diri sendiri, lebih sering kita melihat kerennya saja. Tapi begitu bagian buruknya, maka kita memilih untuk memalingkan muka atau berusaha untuk menutupinya. Menutupi dan bukan memperbaiki keburukan.

Buktinya, kalau ada sinetron atau film atau buku yang berusaha memaparkan realitas kehidupan orang Indonesia pasti langsung disembunyikan. Pramoedya, misteri SUPERSEMAR dan G30SPKI, misteri Mei 98 dan lainnya. Mungkin ini semua berawal dari pepatah Jawa: Ngono Yo Ngono Neng Ojo Ngono? Begitu ya begitu tapi jangan begitu.

Ada usaha untuk menutupi kebenaran. Untuk menampilkan hanya keindahan. Lebih baik indah tapi penuh tipu muslihat ketimbang kebenaran tapi buruk dilihat. Lebih baik tampil elok tapi perut lapar. Miskin di kantong tampil kaya di baju.

Saya jadi ingat, di suatu pagi Mbak Pargi pembantu kesayangan saya, pernah saya minta tolong untuk merapihkan kamar tidur tamu yang sudah saya jadikan gudang. Ketika pulang saya kagum bukan alang kepalang. Saya pun jadi makin sayang sama Mbak Pargi. Sampai kemudian seminggu berikutnya, saya hendak mencari barang di gudang itu. Alangkah terkejutnya saya, rupanya dibalik kerapihan itu semua tersimpan keberantakan yang luar biasa. Banyak barang-brang rongsokan yang harusnya sudah masuk ke tong sampah masih disimpan.

Ketimbang memilih untuk mengumpulkan barang-barang itu dan memperlihatkannya kepada saya untuk ditanyakan apakah harus dibuang atau disimpan, Mbak Pargi memilih untuk menyembunyikannya dibalik lukisan indah.

Pernah juga dalam sebuah presentasi pitching. Entah apa yang sedang merasuki saya, mendadak saya seolah memiliki ke-nekad-an untuk menyampaikan sejujurnya apa yang saya rasakan. Waktu itu meeting sedang panas karena klien menyatakan kalau pihak agency salah mempresentasikan visi dari brand. Saya kemudian bersuara "you are the owner of the brand. We are the agency. It's not agency's responsibility to tell you, your brand's vision. It's your brand. Not us, not them, but you. The future of the brand is in your hand. Agency can only share their thoughts and ideas on how can you reach your dream and vision for the brand.If you have no vision for the brand, how can you expect others to tell you?"

Ruangan sunyi senyap sesaat. Sampai President Director yang juga pemilik perusahaan raksasa itu meangguk-angguk dan kemudian meeting pun berakhir dengan dingin. Hasilnya jelas, agency kami pun kalah. Alasannya apalagi. Creative Directornya keras kepala.

Bayaran saya sebagai freelancer pun melayang dan saya menyesal. Menyesal karena menyampaikan apa yang menurut saya benar dengan sejujurnya. Menyesal karena saya tidak mentaati falsafah Jawa "Ngono Yo Ngono Neng Ojo Ngono". Menyesal karena besar kemungkinan apa yang saya sampaikan itu tidak masuk akal dan salah besar.

Dalam kesedihan itu saya pun curhat dengan seorang CD orang Malaysia yang saya hormati. Saya berpikir bahwa dia akan memarahi dan kemudian menasehati saya untuk tidak melakukannya di kemudian hari. Secara mengejutkan dia berkata "tell nothing but the truth. The truth on how you feel. You might be wrong, but hey, nothing is right or wrong. If you only be honest and truthfull to yourself and others, some will hate you but those who respect you will respect you forever."

Belum puas, saya berkeluh kesah lagi. Kali ini dengan CD lokal yang sangat saya hormati. Sontak dia berkata "ah loe sih! Yang loe omongin tuh bener aja, tapi kan belum jadi klien. Kalau masih pitching manis manis aja dulu. Nanti kalau udah dapet, baru deh pelan pelan tuh loe omongin pendapat loe." Prinsipnya sama dengan Mbak Pargi yang sedang membersihkan gudang.

Saya tidak ingin membandingkan mana yang benar dan mana yang salah. Keduanya pasti punya alasan dan pengalaman masing masing sehingga mereka bisa berpendapat demikian. Tapi yang hendak saya pertanyakan, bagaimana mungkin kita mengetahui siapa kita sebenarnya kalau banyak kenyataan ditutupi? Kalau hanya keindahan dan kesempurnaan yang ditampilkan. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia. Satu satunya yang sempurna adalah ketidak sempurnaan itu sendiri.

Bunga di taman, setiap kelopaknya tidak ada yang sama. Sayap kupu-kupu tidak ada yang persis simetris. Bahkan tubuh manusia tidak ada yang sempurna. Bahkan operasi plastik tidak pernah ada yang sukses. Selalu terlihat aneh hasilnya. Mungkin Sang Pencipta hendak berkata "Kuciptakan manusia dan sekitarnya sempurna karena ketidak sempurnaan supaya mereka berkembang dan terus mencari arti kesempurnaan bagi mereka sendiri."

Kalau pas lagi jalan-jalan di EX banyak anak muda pasangan sedang pacaran. Mungkin akan terdengar sinis, tapi setiap kali saya melihat pasangan yang sempurna (yang laki necis tampan dan wangi, yang perempuan rambut tertata rapih, warna baju terkoordinasi, tas dan sepatu senada, dan lain-lain) saya selalu berpikir pasti ada yang tidak beres dalam hubungan mereka. Masing masing seolah sedang menjaga sikap agar mereka sempurna di depan pasangan masing-masing. Agar mereka tampil tanpa cacat cela, dengan harapan cinta mereka semakin tumbuh berkembang sampai ke pelaminan. Nanti kalau udah menikah, baru keluar aslinya.

Saya pernah membaca sebuah quote lagi
"Teratai terindah tumbuh dari lumpur yang kotor." Interpretasi saya, untuk menjadi tumbuh dan berkembang hanya dengan dan dari ketidaksempurnaan.

3 comments:

Anonymous said...

om,om maap ni ya om..
tapi masa aku kurang setuju deh om kalo om masin nyantolin PKI setelah G30S, soalnya kata guru aku itu ternyta belum tentu PKI yang berbuat lho om, sumpe de ;)

mister::G said...

Tuhan menghajarku dengan keras, tapi Dia tidak membawaku kepada maut (renungan Paskah kemarin)

Eddo said...

If practice makes perfect but nobody is perfect, so why should practice? :)