Saturday, October 01, 2005

Mencari yang Baru

Citra Pariwara 2005,
seperti sebelum-sebelumnya selalu mengundang kontroversi.
Kali ini, banyaknya iklan-iklan finalis, pemenang
bahkan best of the best, mirip dengan iklan-iklan yang pernah tayang.
Forest WWF, mirip dengan Masyarakat Transparansi Indonesia tahun 99.
Swanten, mirip dengan iklan Yellow Box, pemenang Adfest.
Terus... satu lagi, iklan pembersih kaca, mirip iklan Ajax dari DYR Dubai.

Mas Gandhi kita, dengan keanggunan raja-raja Jawa,
mengungkapkan kekesalannya akan banyaknya iklan scam yang menang.
Menurutnya, iklan-iklan scam itu merusak Citra Pariwara sendiri
karena jadi tidak berdampak pada bisnis nyata.
Juri asing, Linda Locke, yang semula menjadi tumpuan harapan
kualitas CP tahun ini, ternyata mengecewakan.

Selain itu ada Oom BH yang menilai bahwa penjurian kali ini aneh.
Adanya juri asing di tengah juri-juri junior
menjadikan penilaian menjadi aneh dan tidak berimbang.
Banyak iklan yang menurutnya tidak pantas untuk menang.
Bahkan menjadi finalis sekalipun.
Alhasil di malam CP, Oom satu ini lebih suka jualan buku barunya.

Gue sendiri di malam CP itu lebih memilih untuk diam.
Bahkan ketika seorang teman wartawan mendatangi
untuk menanyakan pendapat gue tentang hasil CP,
gue cuma bilang "Ono noh... tanya yang ono aja noh!"
Sambil menunjuk ke arah Mbak Jeanny
yang lagi duduk di tengah ratusan umat iklan malam itu.
"Gue mah pengangguran. Gak menjual kalau masuk majalah loe!" Gue menyambung.
Wartawan itu pun pergi.

Mengapa gue memilih untuk diam?
1. Semenjak gue memutuskan untuk jadi freelancer,
CP otomatis jadi gak ada pengaruhnya untuk gue.
Apalagi sejak dibuangnya kategori individual 3 tahun lalu.

2. Bukankah kegembiraan menang CP hari begini hanya bertahan
selama semalam? Besokannya, ya... balik normal lagi.
Gak ada yang peduli dan gak ngaruh apa-apa.

3. Melihat finalis dan peserta kali ini,
gue merasa kreatifitas iklan Indonesia sekarang
lagi kehabisan darah.
Seperti orang yang sudah berlari jauh
dan hampir kehabisan nafas.
Tidak ada yang baru. Tidak ada yang segar.
Semua iklan mengingatkan kita pada iklan lain.
Semua iklan tampak memiliki pola gambar-besar-logo-kanan-kecil-di-bawah

Kalau gitu loe lagi putus asa Glenn?
Enggak! Enggak banget!
Justru gue lagi semangat-semangatnya.
Menjadi seorang freelancer memberikan ruang yang luas
daripada karyawan. Baik secara filosofis maupun lateral.

Sistem periklanan memiliki kelebihan dan kekurangan.
Sistem mengajarkan kita akan cara berpikir
kreatif dengan lebih terstruktur
sehingga bisa menjawab brief dengan lebih baik.
Kekurangannya... kita menjadi kesulitan
ketika harus menghadirkan pemikiran kreatif yang baru.
Bagaimana mungkin menghadirkan sesuatu yang baru
kalau apa yang masuk ke dalam otak kita isinya itu lagi itu lagi?
Partisi kantor, tembok berposter, pintu lift dengan musik di dalamnya,
tangga, macintosh, PC bajakan, reels...

Menjadi seorang freelancer juga banyak kelebihan dan kekurangan.
Kelebihannya, kita bisa berpikir, bertindak dan mengambil
keputusan dengan bebas. Tanpa kekangan siapapun.
Tapi, itu juga bisa jadi kekurangan.
Kurangnya tekanan dan kekangan bisa bikin kita jadi kreatif
yang pemalas. Dibutuhkan disiplin tingkat militer
untuk bisa jadi freelancer jempolan.
Atur waktu sendiri. Atur uang sendiri.
Dan, atur niat sendiri, atur semangat sendiri.

Di tengah tingginya angka PHK di dunia iklan sekarang,
pilihan menjadi freelancer jelas menjadi pilihan yang lebih visibel.
Daya tampung di perusahaan sedang menciut drastis.
Gue seneng kalau banyak freelancer.
Persaingan jadi lebih sengit dan buat gue
itu lebih menyenangkan. Jalan sepi yang gue baru pilih 6 bulan lalu,
sebentar lagi akan lebih ramai.

Apa yang bisa kita harapkan dari kenyataan ini?
Kalau CP ada kategori individual, maka freelancer akan boleh ikut.
Dan kalau freelancer boleh ikut,
bisa jadi, usaha CP untuk mencari yang baru,
bisa terwujud.

Gue sempat bilang pada seorang teman:
"gue jadi makin seneng jadi freelancer."
Teman itu kemudian menjawab:
"ah loe lagi membohongi diri sendiri!"
Gue diam aja.

Salam Pariwara.

8 comments:

bucin said...

... dan lu cuma ketawa saat gw bilang "gw disorientasi"... :)

glenn_marsalim said...

karena memang lucu cin...
disorientasi kan kalau ada orientasi-nya dulu. nah orientasi loe apa aja gue gak tau kok ya tiba-tiba disorientasi?

Ganesha Tamzil said...

Semua manusia indonesia secara tak sadar adalah plagiat. Gw aja ngakuin itu. Perkembangan ide di kepala kita akan hanya berjalan di titik yg sama, selama hidup dan unsur2nya pun tidak berubah. Karena miond set manusia kita hanyalah award, yg kebetulan adanya di luar negeri, yg kebetulan lagi semuanya berformat visual+copy, yg kebetulan dominasi visualnya begitu2 melulu, yg kebetulan juga butuh pemikiran berlipat untuk bisa mengerti iklan itu. Coba saja, manusia indonesia berpikir bahwa award itu adalah : senyum target audience, tepukan terimakasih sebuah brand pada punggung kita, dan.. diri kita sendiri di depan cermin sedang menikmati produk dari brand yang kita usung sendiri..

Mister G said...

Udahlah Glenn, CP dan sebangsanya itu cuma urusan duniawi. People could be heart but no one got killed. (Gokil mungkin iya)

bucin said...

lu gak nanya sih orientasi gw apa, malah ngetawain

glenn_marsalim said...

gak ada alasan buat gue nanya orientasi loe cin... kalau mau juga loe yang ngasih tau.

bucin said...

orientasi gw kan elo glenn :p

:::..Obed..::: said...

kalo mencari darah segar, kenapa mas Glenn tidak menghimpun pendapat menyetujui kategori individual masuk CP?...saya pasti setuju!