Wednesday, March 23, 2005

Nyawa Dibayar Nyawa

6 mobil kijang berwarna biru tua
keluar dari rumah tahanan Surabaya.
Sesaat setelah meninggalkan gerbang,
6 mobil itu berpencar ke 6 arah berbeda.

Image hosted by Photobucket.com

Di salah satu mobil itu,
ada Ibu Astini, 51 asal Wonorejo.
Tak ada yang tahu apakah
matanya sedang tertutup
atau mungkin Ia sedang menangis.
Yang pasti, Ibu Astini dihantar
menuju tempat eksekusi hukum mati-nya.

Hutang sebesar Rp 20.000,-
itulah yang membuatnya naik pitam
dan melakukan mutilasi.
Bukan hanya sekali, tapi enam kali.

Tindakan di luar akal sehat ini
terungkap ketika ditemukan
kepala salah seorang korban
di selokan.

"Cucuku mati, dipotong-potong.
Wong di kuburannya cuma ada kepalanya.
Ya dia harus dihukum mati!
Nyawa dibayar nyawa..."
kata salah seorang nenek korban.

Seteleh grasi ditolak Ibu Megawati,
Astini harus mendekam selama 8 tahun di penjara.
Bukan menanti kebebasan tapi kematian.
Penantian yang panjang dan penuh tekanan.

Selama penantian di penjara itu,
Ibu Astini bertobat dan berdoa kepada Tuhannya.
Tuhan memang Maha Penyayang.
Astini diberi kesempatan untuk bertemu
cucu-nya serta kedua anaknya
yang selama ini merantau.

Selama penantian itu pula,
Astini menjadi pusat perhatian media masa.
Tak kurang Nursyahbani Kantjasungkana
menyempatkan diri untuk menemuinya.
Dalam pertemuan itu
Ibu Astini menangis sejadi-jadinya.

Bagi Ibu Astini, semakin lama eksekusi dilakukan,
semakin lama pula penderitaannya.
Pihak keluarga melakukan berbagai cara
agar eksekusi segera dilakukan.
Menyelesaikan nyawa Ibu Astini secepatnya
dihayati lebih manusiawi
ketimbang membiarkan perempuan tua itu
meringkuk di penjara menanti ajal.

Dua minggu sebelum eksekusi dilakukan,
pihak keluarga terus menerus mengunjunginya.
Memberikan kekuatan bagi batin dan moral.
Mereka berdoa bersama.
Bahkan seluruh narapidana di rumah tahanan Surabaya
ikut berdoa agar Tuhan mengampuni dosa dan
menerima Ibu Astini di sisiNya.

6 senjata laras panjang mengarah ke jantung Ibu Astini.
3 diantaranya bermuatan peluru
yang siap menembak Ibu Astini yang ditutup matanya.
Setelah aba-aba diberikan,
tembakan membahana memenuhi langit malam.
Beberapa saat kemudian
sebuah tembakan terdengar lagi.
Tembakan terakhir berasal dari pistol
yang ditembakan langsung ke kepala Ibu Astini.

Tuntas sudah penantian panjang itu.
Nyawa Ibu Astini diambil oleh sesama manusia.
Hukuman yang dianggap undang-undang
setimpal dengan tindakan kejahatannya.

Di luar gedung eksekusi, polisi berjaga-jaga.
Keluarga korban berkumpul sambil
berteriak-teriak "Nyawa dibayar nyawa!"
Tatapan dendam dan kepuasan
terpancar jelas di wajah mereka.

Memang Ibu Astini secara biadab
memembunuh sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Uang sebesar Rp 20.000,- cukup menjadi alasan baginya.
Uang yang bagi kita bisa habis sekali makan siang.
Membeli 2 bungkus rokok.
Atau sekedar terselip di celana jins.

Jika suatu saat nanti ada kesempatan untuk
berbincang-bincang dengan Ibu Astini,
ingin rasanya mencari tau apa alasan
dibalik semua tindakannya itu.
Bukankah itu yang terpenting?

Bisa jadi himpitan keuangan yang memang
bisa membuat orang melakukan tindakan
di luar akal sehat.
Seperti korupsi.

Ibu Astini telah menyelesaikan tanggung jawabnya.
Nyawa dibayar nyawa.
Bagaimana dengan penjahat korupsi?
Ribuan nyawa bisa melayang
karena tindakan korupsi.
Bukankah seharusnya
nyawa dibayar nyawa pula?

4 comments:

sume said...

saat akal sehat tidak berpihak kepada nya, saat itu pula dia bisa menjadi tidak manusiawi lagi..

1 nyawa sebanding dgn 1 nyawa..
begitu katanya..
saat dendam mengisi hati seseorang,
berat kata maaf untuk terucap, untuk menghapus luka.

padahal...
yang sudah mati..ya sudah
..mati.

hera said...

gak tau juga ya kalo gue jadi anak/kerabat korban. tapi gue juga gak setuju hukuman mati, barbar euy.
setiap dari kita dan negara juga bertanggung jawab buat seseorang jadi "jahat".
everybody deserves a second chance. dan tidak ada satupun dari kita yg tau kalo seseorang itu bener2 bersalah atau gak.
ntar kayak film In The Name of The Father. udah lama2 dipenjara dan disiksa, ternyata dia gak salah. gimana kalo dah keburu dihukum mati? aduh, i talk too much :)

rossie said...

Tekanan seringkali membuat logika jadi tak bermakna.

Gw setuju dg sume, manusia bisa jadi tidak manusiawi jika telah kehilangan akal sehat.

Dan kadangkala tekanan juga bisa membuat seseorang kehilangan jati diri...

bucin said...

Di setiap peraturan selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan.

Para koruptor sangat mengerti betul masalah itu.

Apakah nyawa mereka (para koruptor) pantas untuk direnggut? Sangat pantas. Apakah ada hukum yang mengatur demikian? Sayangnya nggak ada.

Jadi... biarlah peradilan massa yang menentukan.

Qeqeqeqeqe.....