Friday, March 25, 2005

Kehidupan Sebagai Tumbal Sebuah Pengakuan

Bukan advertisingnya yang penting,
tapi uangnya.
Bukan agencynya yang penting
tapi kerjaannya.
Bukan kerjaannya yang penting
tapi awardsnya.
Dan bukan awardsnya yang penting
tapi pengakuan.

Pengakuan bahwa kita sanggup bikin copy yang keren.
Bikin lay out yang canggih.

Pengakuan bahwa kita diterima dan pantas
diperhitungkan di hutan rimba periklanan ini.

Pengakuan bahwa kita orang iklan.

Pengakuan itu emang penting.
Karena dengan pengakuan,
kita bisa berharap hidup lebih enak.
Seperti kemudahan diterima di agency baru.
Punya kekuatan pasang harga lebih tinggi.
Dan sejuta harapan lainnya.

Tapi di sisi yang lain, pengakuan itu gak sudi datang dengan sendirinya.
Dia menuntut lebih banyak dari yang kita kira.
Dia menuntut 90% dari kehidupan kita.
Karena bukan kita sendiri yang mencari pengakuan.
Ada ratusan ribu orang iklan yang sedang mencari pengakuan.
Otomatis, kita harus bisa kerja dan belajar lebih keras dari yang lain.
Kalau yang lain kerja dari jam 8 pagi sampai 10 malam,
maka demi pengakuan, kita harus kerja dari jam 6 pagi sampai 12 malam.
Kalau yang lain bikin 15 scam ads per hari.
Maka kita harus bikin 30 scam ads per detik.

Dalam perjalanan mencari pengakuan itu,
godaan yang melencengkan tujuan utama emang gede banget.

Ada yang lebih tertarik pil ekstasi dan dugem orang iklan.
Sehingga bukan pengakuan sebagai orang iklan yang didapat,
tapi sekedar pengakuan sebagai anak dugem orang iklan.

Ada yang lebih tertarik perkembangan dunia mode.
Pengakuan yang didapat adalah fashionista orang iklan.

Ada yang lebih tertarik musik dan lebih pengen jadi musisi.
Sehingga jadilah dia band-nya orang iklan.
Naik panggung Citra Pariwara bukan untuk ambil piala,
tapi untuk manggung.

Ada juga yang lebih tertarik dengan duitnya
ketimbang iklannya itu sendiri.
Jadilah Ia orang bisnisnya orang iklan.

Ada yang lebih tertarik mengurus keluarga dan punya anak.
Jadilah Ia emak-emaknya orang iklan.
Ada yang lebih tertarik dengan cowok/cewek kerennya orang iklan.
jadilah Ia cabo/gigolo orang iklan.

Dan banyak lagi lah!

Setuju, kalau semua itu adalah pilihan.
Tapi seperti layaknya ilmu satu pesan dalam satu iklan,
demikian pula dalam kehidupan kita.
Hanya bisa ada satu yang bisa kita raih
untuk satu kurun waktu dalam satu kehidupan kita.

Kita sering mendengar orang iklan ribut
pengen dapet pengakuan.
Pengen menang awards.
Segala cara udah dilakukan.
Kalau bisa pake ke orang pinter segala.

Padalah pertanyaannya sederhana sebenarnya,
sudah berapa persen dari kehidupan kita
yang kita berikan untuk dunia iklan?

2 comments:

muzakir said...

gue masuk kategori apa ya? mabok enggak, modis jauh, dugem jarang banget, nyari cewe gagal mulu. cuma duit yang paling deket. hehehe. kalo soal kerja keras, gue emang suka minder sama bapak glenn ini.

bucin said...

true! i'll be glad if i can be half of glenn.