Wednesday, February 11, 2009

Anak Kreatif Iklan VS Dian Sastro

Belakangan ini, entah karena mengejar sebelum PEMILU, kerjaan datang bertubi-tubi. Semua harus selesai sebelum bulan Maret berakhir.

Otomatis kehidupan gue pun berubah drastis. Bayangkan, semenjak matahari 2009 terbit, setiap hari gue harus menghasilkan setidaknya 7 - 10 storylines iklan. Non-stop, 24/7, Senin ketemu Senin. Ditambah banyaknya iklan yang menuntut untuk gue bikin layout sendiri, nulis sendiri, sampe nempel board nya juga sendiri.

Saat menjalaninya jelas banget, gue sering mengalami kecemasan luar biasa. Jantung gue mendadak terasa berdetak lebih cepat, maag kambug, jerawat mulai berdatangan. Bahkan sampai gue menulis ini, maag gue masih cenut-cenut.

Tapi, diantara kekacauan dan kegelisahan di atas, rupanya ada pelajaran tersembunyi yang membuka mata dan pikiran gue. Pelajaran itu, untuk saat ini gue sebut DETACHMENT. Maksudnya apa, proses pencarian ide sampai mengeksekusinya, akan jauh-jauh lebih mudah dan lebih baik hasilnya kalau, gue tidak menyelipkan ambisi pribadi diantaranya. Gak ada personal suka atau tidak suka. Gaya gue atau bukan gaya gue. Tapi benar-benar pasrah pada brief yang sudah disepakati.

Dari kepasrahan itu, gue jadi lebih setia pada konsumen, pada brand. Seorang kreatif pernah membaca storyline gue dan berkata "ih kok gini amat storynya? norak banget!" Gue berusaha menjelaskan bahwa yang norak, menurut dia, itu lah yang dibutuhkan saat ini. Bukan soal apakah gue suka atau gak suka.

Apakah gue suka dengan hasilnya? Bisa jadi enggak.

Apakah gue puas dengan hasilnya? Bisa jadi iya.

Wah bisa jadi asal-asalan dong? Ya enggak. Jauh dari asal-asalan. Malah justru ini lah cara dimana merek dan konsumen menjadi yang terutama. Menjadi satu-satunya.

Seseorang pernah berkata bahwa Dian Sastro telah "lewat" masanya. Ia tak lagi gemilang. Bahkan kecantikannya yang masih jelas terpancar, tak bisa lagi mendongkrak namanya. Usut punya usut, diperkirakan adalah Dian semenjak AADC dan Pasir Berbisik, tidak lagi "pasrah" pada sutradara. Ia mulai memikirkan untuk menonjolkan keartisan dan ciri khas pribadinya. Ia tidak lagi setia pada perannya. Bahkan di beberapa kejadian, ia berani melawan kehendak sutradara.

Saat keinginan pribadi ditonjolkan, maka semua termasuk pribadi itu sendiri akan runtuh. Dengan sendirinya. Secara alami.

Kalau diandai-andaikan, kreatif di dunia iklan itu adalah penari.

Dan brief itu adalah lagu yang mengiringinya.

Kita boleh membantu penciptaan lagu itu,

tapi tak bisa menentukan lagu itu.

Dan ketika lagu itu diputar,

kita pun harus pasrah.

Bukan lagu yang mengiringi kita,

tapi kita yang menarikan lagu.

4 comments:

ngalor-ngidul said...

Yes Mas Glenn....beneeer banget!

Sejak terjun di dunia iklan, gw jg belajar 'pasrah' dan mempertebal mental 'tahan banting'.

Dua itu yg terutama buat gw. Dengan tetap menghasilkan yang paling maximal, tentunya. hehehe

:D

*Jangan lupa tidur ya, Mas Glenn...hehehe

iman brotoseno said...

keren glenn...
betoolllll.

Irmajanti Muliadi said...

Banyak job, banyak duit dong...
Good for you, Glenn.
When you can dance to a song, eventually you become the song.
k2lien.

muhammad taufiqurrakhman said...

enlightening!!!
yang terpenting ternyata bagaimana berdansa dansi dengan musik apapun...
head banging disatu waktu, waltz dilain waktu...