Thursday, January 08, 2009

Tarif Freelancer

Setidaknya setiap bulan, ada 3 pertanyaan dari teman-teman freelancer soal harga. Dan pertanyaan standarnya adalah:

"Berapa sih standar-nya?"

Jawaban gue selalu sama. Dan makanya mungkin dengan gue posting di sini, bisa menghemat pulsa untuk sms atau telepon gue. Jawaban gue itu adalah:

"Tidak ada standarnya."

Lah terus gimana dong? Ya gak gimana-gimana. Inilah salah satu kemewahan freelancer. Setiap freelancer berhak untuk menilai dirinya masing-masing. Beda orang beda standar. Dan sekarang gue akan bercerita tentang bagaimana harga pula lah yang mematikan banyak freelancer, sehingga balik jadi karyawan lagi.

Dari awal gue menjadi freelancer, sekitar 3.5 tahun yang lalu, gue memutuskan bahwa sebelum gue bisa membuktikan bahwa gue berguna sebagai freelancer, maka gue gak akan ngecharge. Sebelum gue mampu memberikan lebih dari sekedar yang diminta, jangan harap gue minta harga.

Makanya kalau ada yang sebar-sebar bilang gue mahal, gue setengah mau ketawa dan terganggu juga. Tapi sudahlah. Biar Tuhan yang mengatur.

"Berapa, Glenn?" tanya salah seorang pemilik agency. Jawaban pertama gue selalu sama "terserah aja. Budget loe berapa? Gue nurut aja".
Di awal-awal memang terkesan membingungkan. Tapi seperti ada kode tak tertulis. Makin hari jumlah bayaran yang gue terima semakin sama.
Yang rendah menaikkan bayaran mereka dengan sendirinya.

Ada banyak freelancer yang tidak setuju dengan pemikiran dan gaya gue ini. Kata mereka kita harus bisa menghargai diri kita sendiri. Yah, terserah aja lah. Tiap orang boleh dong punya pemikirannya sendiri-sendiri.

Masalahnya banyak yang kemudian gagal jadi freelancer karena harga yang dipasang tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Nah loh! Klien kecewa dan freelancer itu tidak dipakai lagi.

Gue pernah tau seorang freelancer yang nge-charge 20 juta untuk kerjaan desain sederhana selama 3 hari. Gue juga pernah tau ada yang ngecharge 100 juta untuk pitch seminggu. Waktu awal-awal denger itu, iri juga sih. Pengen rasanya bisa terima uang sebanyak itu. Tapi... ya itu... percaya gak percaya, satu-satu dari mereka mulai berguguran. Akhirnya balik deh jadi karyawan lagi. Atau ya... menganggur.

Gue bukan bilang, menghargai karya sendiri itu salah. Tapi harus tau diri juga. Kalau nanti terbukti hasil kerjaan kita bisa membantu agency menang pitching. Kalau nanti ternyata kerjaan logo kita membantu klien semakin makmur dan logonya dipunji kolega mereka. Kalau nanti fakta mengatakan bahwa karya kita melebihi dari ekspektasi. Masak sih, harga kita gak naik dengan sendirinya?

Dan jangan lupa. Tuhan Maha Tau.

Ok, buat yang percaya sama gue begini cara menilainya.
Misalnya kamu dapet kerjaan selama seminggu. Dan untuk itu kamu dibayar 3 juta.
Kesannya kecil ya...

Tapi coba kamu liat lagi, dalam seminggu itu kamu ada kerjaan yang lain kah?
Kalau gak ada, kenapa gak diambil aja. 3 juta seminggu berarti 600 ribu setiap hari.
Besar juga kan?

Pikirin soal tagihan HP, listrik, air, yang bisa tercover dengan bayaran itu.
Ketimbang ditolak hanya demi mempertahankan idealisme gak mau dibayar murah?

Selalu coba balikan ke diri kita masing-masing. Cobalah untuk realistis dan tidak sombong. Selalu ingat di atas langit masih ada langit.

Dan, gak usah tengok kanan kiri. Si anu kok dibayar lebih mahal ya? Ya biarinin aja. Rezekinya dia. Kalau memang kita bagus, insya allah harga kita akan naik dengan sendirinya. Dan ketika itu lah, "gengsi" sesungguhnya dari seorang freelancer.

Lagi-lagi ini adalah yang gue lakukan.
Alhamdulillah selama 3.5 tahun ini, gue bisa bertahan.

3 comments:

Bubble-pinkz said...

setuju ama pemikirannya... apalagi kalo masih pemula kayak saya, masang harga tinggi2 ntar disangka ga tau diri... hahahahaha...

Anonymous said...

kadang manusia memperlakukan dirinya sendiri dengan tidak manusiawi... :)

hadza sabily said...

Thanks bro saran dan masukanya...