Tuesday, October 14, 2008

Nasi Goreng



Gue sering bertanya dalam hati gue sendiri, agency seperti apa sih yang ideal itu? Kreatif seperti apa yang ideal? CD seperti apa yang ideal? Hidup seperti apa yang ideal? Dan semuanya yang mempertanyakan dan menginginkan kondisi yang ideal.

Ideal di sini dalam artian semua adalah yang terbaik. Misalnya kebayang gak betapa serunya kalau dalam semua agency ada CD terbaik, client service terbaik, planner terbaik, pokoknya yang terbaik yang ada di negeri ini. Pasti iklan yang dihasilkan adalah iklan yang terbaik pula dong. Ya dong ah!

Tapi kenyataan sering berkata lain. Gue belum pernah menemukan situasi ter seperti di atas. Kalaupun ada yang mendekati, iklan yang dihasilkan boleh dibilang ya agak jauh dari dari terbaik.

Sebaliknya, sering gue menemukan iklan-iklan yang seru, keren, lucu, dan terbaik menurut gue pada saat itu, dibuat dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan. CD-nya sering ngilang-ngilang, brief-nya gak jelas, klien-nya resek. Kok bisa ya?

Kali ini, lagi-lagi Tuhan seperti memberikan jawaban persis ketika gue makan siang nasi goreng bersama klien di sebuah hotel mewah di kawasan Dharmawangsa.

Menurut gue, nasi goreng paling enak adalah nasi goreng yang sering gue beli di pinggir jalan. Entah kenapa, rasanya pas, gak terlalu manis, gak terlalu asin. Nasinya pulen, bukan yang lengket-lengket benyek. Pokoknya puas!

Tapi gue selalu gagal kalau pesen nasi goreng di restoran mahal atau di hotel seperti sekarang ini. Nasinya benyek, kadang kemanisan, lauk sandingannya sering gak seirama seperti sate, pokoknya menyedihkan. Padahal harganya bisa 15 kali lebih mahal dari nasi goreng pinggir jalan.

Kalau dipikir-pikir, nasi goreng di hotel sering dibuat dari bahan terbaik. Beras terbaik, minyak goreng bersih, ayam yang empuk, daun bawang hidroponik, pokoknya semua yang ter-ter.

Kok bisa gak enak?

Sementara nasi goreng pinggir jalan, wajannya saja jelas sudah beda jauh. Minyak gorengnya, wah bisa keliatan dari tingkat kejernihannya yang rendah. Ayam yang disuir-suir juga terlihat sudah kering.

Kok bisa enak?

Walau makan siang gue agak bikin sedih (gue sering ngerasa sedih kalau makan nasi goreng, spageti atau masakan cina gak enak-red) tapi alhamdulillah hari ini gue belajar sesuatu.

Yang pasti sejak hari itu gue gak percaya lagi dengan istilah "garbage in garbage out".

3 comments:

playground said...

hehehhe... terima kasih mas glenn... tulisan ini membuat saya berpikir tentang kondisi ideal yang selalu kita dambakan tetapi tak kunjung tiba.

dan sebaliknya dengan sesuatu yang ada saja kita bisa terus menjadi lebih baik.

terima kasih mas... inspiring nih!

ree said...

liat lagi marc jacobs deh, itu ter-ter-an gak sih? gue gak jadi ke bandung, yuk nongton.

ngalor-ngidul said...

yaps! lagi2 menginspirasi.. :D

Toss Mas!hehehe
Miko.