Tuesday, September 16, 2008

Gara-gara TVRI

Minggu siang itu panas.

Seorang anak kecil asik menyaksikan Ria Jenaka di TVRI.

Umurnya belum lagi 7 tahun.

Ia tertawa gelak menyaksikan Romo, Petruk dan Bagong bertingkah.

Ria Jenaka berakhir.

Berganti dengan acara konser musik klasik pimpinan Isbandi.

Anak kecil itu tak beranjak dari tempatnya.

Mulutnya yang tadi terbuka karena tertawa gelak,

sekarang terbuka menganga setengah tak percaya.

Menonton jari-jari bergerak di atas tuts piano dengan cepat.

Dengan dentingan irama yang menghanyutkan.

Sampai nada terakhir.

Anak kecil itu kemudian beranjak dari tempatnya.

Ia menghampiri ibunya yang sedang menjahit.

Ia sandarkan pundaknya ke paha ibunya.

Sebuah piano adalah permintaan yang terucap di bibirnya.

Sang ibu bingung.

Uang dari mana. Mau taruh di mana.

Di gubuk sepetak tempat mereka tinggal,

sebilah piano bisa memenuhi semua ruang.

Bukan ibu namanya kalau tak panjang ide.

Terburu-buru ibu itu pergi ke warung di ujung jalan.

Selembar karton manila dan spidol ia beli.

Dengan sisa uang belanja hari ini.

Sampai di rumah sang anak kecewa.

Tak ada piano di warung ujung jalan.

Sang ibu diam saja.

Digambarnya tuts piano dengan spidol di atas karton manila.

Sekelingking nasi diambil untuk melekatkan karton di atas meja.

Anak kecil itu dipanggil dengan lembut.

Untuk kemudian didudukkan di pangkuan ibu.

Setiap tuts piano yang disentuh oleh jari kecil,

nada yang sesuai keluar dari mulut sang ibu.

Anak kecil itu tergelak kembali.

Sebuah lagu diajarkan oleh ibu itu.

Dengan nada yang benar dan tepat.

Dengan susunan jari yang sesuai dengan piano asli.

Matahari menyinari mereka dari celah liang atap.

1 comment:

ree said...

lo itu nulis ini abis lihat kejadian bener apa gak sih? atau ngarang indah sampai seindah ini???!!