
Dengan berbagai alasan, saya sering mendapat pertanyaan "iklan yang baik itu yang kayak apa sih?" Selama ini saya tidak pernah bisa memberikan jawaban yang memuaskan diri saya sendiri. Kalau mau jawab bahwa iklan yang baik adalah iklan yang ada ide-nya, kok saya kurang sreg. Ada ide tapi kalau gak menyentuh tombol-tombol hati, buat apa? Kemudian kalau saya jawab, iklan yang baik adalah iklan yang menyentuh perasaan, kok juga kurang sesuai.
Saya pun terus menerus mencoba mencari jawabannya. Karena saya yakin, setiap orang boleh punya definisinya sendiri-sendiri akan iklan yang baik.
Tuhan memang Maha Pemurah. Seorang teman dari Malaysia mengirimkan DVD. Salah satunya adalah Tokyo Story. Arahan Yasujiro Ozu. Dibuat tahun 1953, dengan cerita yang sangat sederhana. Sepasang kakek nenek mengunjungi anak-anaknya di Tokyo. Sesampainya di Tokyo anak-anaknya terlalu sibuk untuk menemani mereka. Karenanya, sepasang manusia rapuh itu pun dikirim ke spa! Di spa itu lah mereka merasa begitu tidak diinginkan dan memutuskan untuk pulang balik ke kampung halamannya. Sesampainya di kampung, sang nenek meninggal dunia.
Jangan berharap spesial efek, kamera pun tidak bergerak. Dari awal sampai akhir film, hampir tidak ada intonasi ucapan yang berlebihan. Dan dengan sensitivitas kelas dewa, Ozu menampilkan sisi sisi kemanusiaan tanpa niat untuk menggurui melainkan berbagi. Dari awal sampai akhir film, perlahan-lahan diri saya dilucuti tanpa ampun. Beberapa kali saya melihat diri saya sendiri di film itu melalui berbagai karakter. Dan saya pun merelakan diri untuk jatuh cinta tanpa syarat.

Bagaimana sebuah film yang dibuat pada tahun 1953, 20 tahun sebelum kelahiran saya, bisa begitu menyentuh dan relevan? Bisa jadi, karena film ini bagaikan cermin bening yang memantulkan diri setiap yang menyaksikannya. Begitu bening sampai borok dan tahi lalat terlihat jelas. Jelas, pemahaman akan manusia dan kemanusiaan adalah syarat mutlak untuk membuat film seperti ini. Tanpa itu, saya yakin film ini tidak akan masuk dalam 1 dari 10 film terbaik dunia.
Dan menurut saya, iklan harus belajar dari film. Iklan yang baik adalah iklan yang merupakan cerminan masyarakatnya. Cerminan pendapat, kata hati, pikiran dan perasaan yang melihat iklan tersebut. Dengan begitu, merek yang diiklankan akan melekat di hati. "Nah iya.. hahaha itu gue banget tuh... bener bener!" Kurang lebih seperti itulah harusnya ekspresi orang yang menyaksikan iklan kita.
Beberapa kali saya menyaksikan iklan di tv dan print di Indonesia, yang membuat saya merasa terasing. Membuat saya merasa bahwa ikan itu tidak dibuat untuk saya. Bahkan tidak jarang, saya merasa dikecilkan oleh iklan tersebut.
Bukan tidak mungkin jawaban saya akan berubah suatu saat, tapi untuk saat ini dengan yakin saya akan menjawab, iklan yang baik adalah iklan yang menjadi cermin. Dan saya semakin yakin bahwa iklan harus belajar dari film. Akan lebih menarik mendengar cerita Ozu ketika beliau mencari ide untuk filmnya ketimbang pandapat orang iklan terkemuka sekelas David Droga sekalipun. Mengapa? Karena terbukti Ozu lebih memahami manusia dan kemanusiaan yang merupakan nyawa dari iklan.
Sebelum saya kebanyakan omong dan ceramah, coba deh beli DVD Tokyo Story. Mungkin, mungkin setelah menyaksikannya sendiri Anda akan setuju dengan pendapat saya.