Sunday, May 01, 2005

Janji Joni, Sebuah Semangat

Image hosted by Photobucket.com

Gue nyiapin sekarton besar pop corn
dan segelas besar Coca-cola sebelum nonton Janji Joni.
Ini gue lakukan karena temen gue yang selama ini
sepaham dalam memberikan penilaian akan segala hal,
sedikit ragu-ragu.

"Ya, jangan ngarep banyak, film Indonesia geto loooh"
begitu bunyi sms dari dia.
Gue bales
"Kalau jelek, reputasi loe jadi taruhannya..."
Dia jawab lagi
"Habis... Habislah!"
Gue bales lagi
"Loe punya waktu satu jam untuk membatalkan rekomendasi loe."
Dia jawab gue
"Gue tetep pada pendirian gue. Tontonlah. It's a good alternatif."
Gue bales
"I love you."

Di awal, gue sempet terpukau dengan keluwesan dan keluguan
film ini dikemas. Bagaimana film yang kita tonton bisa mempengaruhi hidup kita.
Dan bahwa roll film itu dirolling dari satu bioskop ke bioskop yang lain.
Untuk hal kedua ini, bukan hal baru buat gue.
Karena kakek gue, mantan pemilik bioskop di sebuah pulau terpencil di Indonesia.

Bau Arisan buat gue satu-satunya hal yang menganggu di film ini.
Potret gay yang menurut gue melecehkan dan gak sesuai kenyataan.
Komedi satir dan guyonan metropolis ada di setiap 15 menit.
Dan tentunya setiap kali gue berusaha untuk berpikir logis dan sok kritis,
segera gue inget sama sms temen gue sebelum nonton:
"Ya, jangan ngarep banyak, film Indonesia geto loooh!"

Tapi gue harus akui, bahwa gue tetep senyum menikmati film ini.
Dan gue tetep bisa mengambil 'moral of the story',
bahwa kerjaan apapun yang kita lakukan,
tidak bisa diukur semata dengan materi
tapi dengan kepuasan dan kebanggaan.

Godaan ketika kita menekuni pekerjaan kita banyak banget.
Seperti ketika Joni ditawarin jadi bintang film (kaya dan terkenal)
atau Joni dibukakan kesempatan untuk jadi pemain drum (kaya dan terkenal),
tapi Joni memilih untuk tetap melanjutkan tugasnya mengantar film.
Pekerjaan sederhana yang diyakini sangat berarti.
Untuk dirinya dan untuk orang lain.
Menurut Joni, pekerjaannya begitu penting karena kalau Ia telat semenit saja,
begitu banyak orang akan kehilangan bagian akhir sebuah film.

Pesan yang menurut gue agak basi tapi masih relevan.
Buat gue pribadi misalnya.
Tawaran kerja yang bisa bikin gue cepet kaya,
beberapa minggu ini mengganggu pikiran gue.
Karena dengan menerima tawaran itu,
ada idealisme gue yang harus dikorbanin.

"Kalau Joni bisa hidup dengan semangatnya,
masak gue harus ngalah?" Begitu pikir gue dalam hati.
Alhasil, bener kata Joko Anwar.
Film mempengaruhi orang.
Dan film-nya udah mempengaruhi keputusan gue
untuk tetep di jalur ideal yang gue yakini.

Mungkin tanpa nonton film ini pun,
gue akan mengambil keputusan ini.
Tapi setidaknya Janji Joni memberikan gue sesuatu yang berarti,
sebuah semangat.

Dan enggak. Pop corn dan Coca-cola gue gak abis.
Bukan karena film-nya bagus. Filmnya masih Indonesia banget.
Tapi gue keburu kenyang sama semangat untuk bikin film ini.

5 comments:

enda said...

hehe gue cukup beruntung nonton pelem JJ diundang directornya di bkk pas baru beres ngerjain sound-nya di bkk :)

[bryan!] said...

ajak-ajak ya bung, kalo mau bikin film.

dinadonk said...

g udah nonton film Glenn.. buat gue better dari 2 film Indo sebelumnya!
terus jalan ceritanya byk yang `dipaksakan` flownya...
arisan tetap karya teh Nia yang paling the best lah!

Inco Harper said...

Gradingnya ancur banget!!!

erwan said...

setuju...pak......
spirit janji joni langsung nonjok.....bhooookkkkkk......