Sunday, May 08, 2005

Jalan-jalan Ke Masa Lalu

Image hosted by Photobucket.com

Tau toko es krim Ragusa yang deket Mesjid Istiqlal kan?
Nah di sanalah gue, DanRem, Sita, Rio dan Yuli
nongkrong malam minggu kemaren.

Ada dua pengamen yang lagi menjajakan jasanya.
Tapi dicuekin banyak orang.
Pun kalau ada yang minta lagu, lagunya gak sesuai sama suasananya.
Dewa lah, Peterpan lah, Padi lah...

Pas mereka sampe di meja kita,
buru-buru kita pesen lagu yang menurut kita sesuai.
Mengalunlah Bengawan Solo, Widuri, Sepanjang Jalan Kenangan,
St. Carolus, Di bawah Sinar Bulan Purnama dan Teluk Bayur.

Walau pengamennya gak terlalu jago nyanyi.
lagu-lagu itu tetap membawa senyum di bibir.
Rasanya kayak lagi muter tape antik di rumah kakek
atau bahkan bokap nyokap kita.

Bener-bener unik dan beda dari kebiasaan malam minggu.
Plaza Indonesia, EX, Plaza Senayan dan Citos.

Ada sesuatu tentang masa lalu.
Yang bikin kita jadi ngerasa lebih damai.
Bikin kita jadi ngerasa tenang dan ada sentuhan lucunya.
Malah kadang bikin kita nangis.

Padahal waktu dulu bokap gue muterin lagu
Sepanjang Jalan Kenangan terus menerus,
gue sebel dan bosen.
Apalagi lagu Widuri.

Tapi sekarang, lagu-lagu itu
punya sentuhan yang luar biasa.
Bahkan DanRem bilang, kalau sekarang
ada iklan dengan lagu demikian bisa
jadi lebih menonjol.

Masa lalu bisa jadi memang sudah berlalu.
Tapi bukankah ketika kita jalan menuju matahari,
ada bayangan yang selalu mengikuti kita?
Bayangan masa lalu itu pula yang kita genggam dan bawa bersama kita.
Bahkan bisa memberi ransum bagi kita di hari kini.

Salah satunya, ya ini tadi.
Di tengah kejenuhan dengan kekinian,
masa lalu jadi semacam oasis yang menyegarkan.
Setidaknya memberi semangat untuk
menjalani hidup kita di masa kini.

Sepanjang jalan kenangan,
kita selalu bergandeng tangan.
Sepanajang jalan kenangan,
kau peluk diriku mesra.
Hujan yang rintik-rintik,
di awal bulan itu
menambah indahnya malam syahdu.

6 comments:

rangga said...

uhmmm, glenn... Ragusa itu deket Istiqlal...bukan Al-Azhar...

Yang deket Al-Azhar itu roto bakar Eddy... hehehe

Tapi gua juga kalo kesana selalu dapet lagu2 lama... dan gua seneng banget, menikmati es krim soda, makan roti cubit atau otak2 dan dengerin lagu2 mak babe gua... hehehe...

blast from the past...

kesana lagi yuks kapan2... kangen es krim soda.

muzakir said...

hebat ya itu tempat. Sudah ada dari taun 1932.

ewink said...

Oom Glenn,

Salam kenal. Saya suka banget baca tulisannya oom Glenn di milis CCI. tambah kagum lagi baca tulisan-tulisan di blog-nya. Jadi salam kenal aja.

Kalo soal tempat-tempat dari masa lalu, mungkin karena bukan asli Jakarta jadi saya agak kurang bisa menghayati tempat yang dicritakan. Tetapi tetap, tulisan itu menggiring saya untuk tenggelam dalam kenangan akan kota kelahiran saya , Bandung. Terima kasih untuk ajakan mengenang masa lalu ini.

EwinK

Diki Satya said...

mumpung temanya lagi masa lalu, gua nitip nyanyi ya..

"tersenyum dianya padaku
manis... manis... manis..
..Alangkah senang hatikuuu..
bila kau dekat dengankuuu..."
Manis dan Sayang by Koes Ploes.

tengkyuuuuu

Vida Nugroho said...

Secara umum waktu terbagi tiga. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat. Kita sudah tidak berdaya dengan masa lalu. Tapi banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita pun sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit didapat, takut tidak mendapat jodoh, dan lainnya. Masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini.

Sayangnya, kita banyak merusak hari ini dengan masa lalu. Dulu gelap sekarang putus asa, sehingga kita tidak mendapat apapun. Dulu berlumur utang, sekarang tidak bangkit, tentu utang tidak kan terlunasi. Masa lalu kita bisa berubah drastis dengan masa kini. Begitu pun dengan masa datang. Sungguh heran melihat orang yang punya cita-cita tapi tidak melakukan apapun pada hari ini. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Maka mana mungkin kita bisa memanen bila kita malas menanam benih. Karena itu, siapa pun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.

Maka sehebat apapun cita-cita di masa depan, taruhannya adalah masa kini. Pada saat sekarang kita duduk santai, tidak mau bekerja, dan pada saat yang sama orang lain bekerja keras, menempa diri, menimba ilmu, mengasah diri, dan memperkuat ibadahnya. Maka, suatu saat nanti akan bertemu rezeki yang harus diperebutkan oleh dua orang. Yang satu dengan ilmu. Yang satu dengan pengalaman. Yang satu dengan wawasan. Dan yang satu lagi dengan kebodohan. Siapakah yang akan mendapatkan rezeki tersebut?

kok bahasannya jadi begini sih hehehehe salam kenal glenn!!

k winarta said...

Glenn, Masa lalu itu akan semakin jelas tampak ketika malam-malam sendirian. Apalagi saat acara trans tv hampir selesai, dan lagu "tanah air" diputar... sekeliling menjadi tampak asing. Masa lalu itu terasa baru kemarin. Belum lama rasanya waktu belajar mengenal warna-warna, belepotan cat ketika ikut-ikutan les lukis, tercebur kali saat main sepeda dan masih seabreg kenangan yang tak kan tergantikan oleh apapun.

Mengingat masa lalu kadang bisa membuat aku hopeless. Aku ingin banget merasakan segalanya seperti masa lalu, walau itu mustahil. Atau memang sesuatu akan lebih indah ketika sudah menjadi masa lalu? entahlah. Menurut kamu gimana glenn?