Thursday, February 10, 2011

From The Past into The Present for The Future



Desember 2010, gue sedang membersihkan portofolio yang sudah berdebu setinggi 3 meter.
Beberapa dengan sangat menyesal harus gue buang.
Entah karena memang sudah rusak atau
memang gue anggap sudah tidak relevan dengan masa sekarang.
Dunia periklanan bergerak secepat 30 detik saja.

Ketika itu memang gue sedang merencanakan untuk meninggalkan dunia advertising.
Perasaan dan insting gue mengatakan, sekarang waktu yang tepat untuk cabut.
Di tengah debu2 beterbangan itulah, gue terus berpikir "mau ngapain ya?"
Gue bukan orang yang suka dengan rencana yang mapan.
Entah kenapa, gue percaya alam punya rencana yang lebih baik
sebaik apapun rencana gue.

Di saat itu pula, gue menemukan sebuah kemasan kue yang gue bikin tahun 2003.
Wkatu itu yang bikin kue-nya adalah Bara Pattiradjawane.
Gue yang bikin desain kemasannya.
Regina dan Digna yang marketing.
Kami bekerjasama mengeluarkan produk baru dengan brand "The Sweeters"
*sekarang malu deh:)*

Pemikiran dibalik itu sangat sederhana.
Gue suka sama packaging. Dan gue percaya Indonesia punya banyak produk yang bagus.
Tapi kemasan kita, menurut gue, bukan hanya gak bagus tapi juga gak berkembang.
Daripada berisik komplen sana-sini,
mending kita coba bikin sendiri.

Penjualan saat itu sangat membesarkan hati.
Sambutan di luar dugaan.
Bahkan sempat diliput oleh majalah Cosmopolitan.
Sayangnya, setelah itu proyek ini terhenti.
Gue sibuk, semua sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ketika melihat itu, masih ada yang gue kenang.
Kepuasan dan kebahagiaan ketika mengerjakannya.
Kebahagiaan saat calon pembeli melihat kemasan-nya yang cantik.
Kebahagiaan saat pembeli mencicipi kue-nya dan puas.

Dengan "Love Bites" di tangan,
pikiran gue melayang ke 8 tahun yang lalu.
Waktu itu umur gue belum lagi kepala "3".
Note: Sekarang umur gue kepala "1".

Berhenti sampai di situ.
Tapi gue mulai terpikir untuk berpikir.

---

Twitter. Bisa dibilang mengisi hari-hari gue.
Apalagi gue sering sendirian.
Otomatis berteman di Twitter menjadi begitu menyenangkan.
Gue banyak menemukan teman baru di Twitter.
Salah satunya adalah Natalia Tanyadji.

Nat, panggilan akrabnya, adalah "tukang kue".
Mewarisi bakat dari ibunya, Nat punya bisnis kue dan es krim
yang sudah kodang dengan label 'MAMA'.
Dan tentunya kami sering curhat.

Untuk mengalihkan perhatian kami masing-masing,
entah seperti dibisikin peri, keluarlah sebuah ide
"eh bikin brand baru yuk! loe bikin kukisnya, gue bikin packagingnya.
brand-nya "RedSofa" aja!"
Catatan: RedSofa adalah nama "check-in" point gue di Foursquare.
Entah bagaimana awalnya, yang pasti RedSofa menjadi lumayan terkenal.
Tidak sedikit yang mengira, RedSofa adalah cafe, tempat nongkrong bahkan tempat nonton :)

Ajakan itu mendapat sambutan.
Dengan target untuk dipasarkan menjelang Valentine 2011,
kami berdua mulai bekerja.
Nat di dapurnya, gue di depan komputer.
Dan dengan pertolongan banyak tangan tak terlihat,
29 Januari 2011, RedSofa ChocoLove diluncurkan.

Sambutannya boleh dibilang lumayan.
Untuk sebuah brand baru, dan dengan dukungan teman-teman yang baik hati,
ada penjualan lah setiap hari.
Gue sempet ngomong
"Nat, ini yang beli karena kasian sama kita kali ya!"

Dalam proses memasarkan ini,
gue pun menemukan keseruan baru.
Dan benar saja, gue mulai bisa melepaskan dunia advertising.
Beberapa tawaran proyek iklan
dengan sangat terpaksa gue tolak.
Padahal gue butuh duitnya juga.

Tapi gue berpikir, kalau semua gue ambil,
maka waktu gue akan habis.
Dan gue akan tergulung dalam gelombang yang sama.
Sekali niat, pantang mundur.

---

Apakah ini akan jadi masa depan gue kemudian?
Gak ada yang pernah tau.
Gue gak berniat ke peramal untuk cari tau.
Karena gue terlalu menikmati kejutan-kejutan yang bisa terjadi setiap hari.

Mulai dari pesanan korporat dari brand perhiasan terkenal,
sampai interview dengan The Jakarta Globe.
http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/the-dapur-mama-story-sweet-tooth-turns-into-big-business/421869

Dari 2003 ke 2011.
Dari Love Bites ke ChocoLove
Dari The Sweeeters ke RedSofa
Dari Bara Pattiradjawane ke Natalia Tanyadji
Dari dunia periklanan ke kita lihat saja nanti... *siul-siul*

2 comments:

Irmajanti Muliadi said...

Dear Glenn,
Sukses tidak diukur dari berapa banyak kukis yang terjual, melainkan dari "rasa" dalam hati yang berbisik : "I'm doing the right thing.."
Sisanya ..so help me God lah..

aline putri said...

hahaha... akhirnya mas gleen nulis lagi di blog, setelah sekian lama keasyikan nge-twit. hihihihi... salut dech mas brani ngambil keputusan untuk meninggalkan dunia advertising, setelah malang melintang sekian lama...=)