Sunday, January 11, 2009

Things I Have Learned - Stefan Sagmeister



Buat pada fans Stefan Sagmesiter,
buku ini keren abis!
Isinya kompilasi porto dari Stefan.
Dan yang bikin menarik,
buku ini gak hanya kasih liat gambar,
tapi Stefan gak lupa menuliskan cerita, konsep, ide
dan pemikirannya di balik setiap karya.

A MUST HAVE buat para graphic designer,
dan orang iklan yang doyan hal-hal seru!

Advertising Next - Tom Himpe



Buat yang udah lama nyari buku kompilasi iklan-iklan non-conventional,
menurut gue buku ini bisa jadi menarik.

Kenapa?
Karena memuat 150 kampanye iklan ambient, online, dan sejenisnya yang telah memenangkan penghargaan iklan internasional.
Kenapa?
Karena di buku ini bukan sekedar gambar-gambar, tapi tertera sedikit penjelasan tentang studi kasusnya.
Kenapa?
Karena di buku ini juga ada salah satu karya JWT Indonesia.

Gue menemukan buku ini di Periplus, Plaza Indonesia.
TAPI,
sampulnya gak seperti ini. Isinya sama.

Harganya agak lumayan mahal.
TAPI
kalau buat ilmu jadinya pantas untuk dibela.

Pasti banyak contoh iklan yang kita udah pernah liat.
TAPI
lebih banyak yang belum. Dan jangan lupa, studi kasusnya itu tadi.

Selamat berburu!
(di Periplus Plaza Indonesia tinggal 1 copy)

Thursday, January 08, 2009

Tarif Freelancer

Setidaknya setiap bulan, ada 3 pertanyaan dari teman-teman freelancer soal harga. Dan pertanyaan standarnya adalah:

"Berapa sih standar-nya?"

Jawaban gue selalu sama. Dan makanya mungkin dengan gue posting di sini, bisa menghemat pulsa untuk sms atau telepon gue. Jawaban gue itu adalah:

"Tidak ada standarnya."

Lah terus gimana dong? Ya gak gimana-gimana. Inilah salah satu kemewahan freelancer. Setiap freelancer berhak untuk menilai dirinya masing-masing. Beda orang beda standar. Dan sekarang gue akan bercerita tentang bagaimana harga pula lah yang mematikan banyak freelancer, sehingga balik jadi karyawan lagi.

Dari awal gue menjadi freelancer, sekitar 3.5 tahun yang lalu, gue memutuskan bahwa sebelum gue bisa membuktikan bahwa gue berguna sebagai freelancer, maka gue gak akan ngecharge. Sebelum gue mampu memberikan lebih dari sekedar yang diminta, jangan harap gue minta harga.

Makanya kalau ada yang sebar-sebar bilang gue mahal, gue setengah mau ketawa dan terganggu juga. Tapi sudahlah. Biar Tuhan yang mengatur.

"Berapa, Glenn?" tanya salah seorang pemilik agency. Jawaban pertama gue selalu sama "terserah aja. Budget loe berapa? Gue nurut aja".
Di awal-awal memang terkesan membingungkan. Tapi seperti ada kode tak tertulis. Makin hari jumlah bayaran yang gue terima semakin sama.
Yang rendah menaikkan bayaran mereka dengan sendirinya.

Ada banyak freelancer yang tidak setuju dengan pemikiran dan gaya gue ini. Kata mereka kita harus bisa menghargai diri kita sendiri. Yah, terserah aja lah. Tiap orang boleh dong punya pemikirannya sendiri-sendiri.

Masalahnya banyak yang kemudian gagal jadi freelancer karena harga yang dipasang tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Nah loh! Klien kecewa dan freelancer itu tidak dipakai lagi.

Gue pernah tau seorang freelancer yang nge-charge 20 juta untuk kerjaan desain sederhana selama 3 hari. Gue juga pernah tau ada yang ngecharge 100 juta untuk pitch seminggu. Waktu awal-awal denger itu, iri juga sih. Pengen rasanya bisa terima uang sebanyak itu. Tapi... ya itu... percaya gak percaya, satu-satu dari mereka mulai berguguran. Akhirnya balik deh jadi karyawan lagi. Atau ya... menganggur.

Gue bukan bilang, menghargai karya sendiri itu salah. Tapi harus tau diri juga. Kalau nanti terbukti hasil kerjaan kita bisa membantu agency menang pitching. Kalau nanti ternyata kerjaan logo kita membantu klien semakin makmur dan logonya dipunji kolega mereka. Kalau nanti fakta mengatakan bahwa karya kita melebihi dari ekspektasi. Masak sih, harga kita gak naik dengan sendirinya?

Dan jangan lupa. Tuhan Maha Tau.

Ok, buat yang percaya sama gue begini cara menilainya.
Misalnya kamu dapet kerjaan selama seminggu. Dan untuk itu kamu dibayar 3 juta.
Kesannya kecil ya...

Tapi coba kamu liat lagi, dalam seminggu itu kamu ada kerjaan yang lain kah?
Kalau gak ada, kenapa gak diambil aja. 3 juta seminggu berarti 600 ribu setiap hari.
Besar juga kan?

Pikirin soal tagihan HP, listrik, air, yang bisa tercover dengan bayaran itu.
Ketimbang ditolak hanya demi mempertahankan idealisme gak mau dibayar murah?

Selalu coba balikan ke diri kita masing-masing. Cobalah untuk realistis dan tidak sombong. Selalu ingat di atas langit masih ada langit.

Dan, gak usah tengok kanan kiri. Si anu kok dibayar lebih mahal ya? Ya biarinin aja. Rezekinya dia. Kalau memang kita bagus, insya allah harga kita akan naik dengan sendirinya. Dan ketika itu lah, "gengsi" sesungguhnya dari seorang freelancer.

Lagi-lagi ini adalah yang gue lakukan.
Alhamdulillah selama 3.5 tahun ini, gue bisa bertahan.

It's ONLY Facebook!

Suatu hari gue menerima message di tembok Facebook dari seorang teman lama. Teman gue ini, terkenal pandai, cerdas, pemikir ulung, terkenal dan kaya raya. Pokoknya kombinasi seimbang antara brain, beauty and behavious! Gue bangga banget bisa temenan sama dia.

Isi message itu adalah:

"BUSET temen loe sampe 1200 an lebih! Emang loe kenal semua?"

Message di wall itu gue cuekin karena gue merasa message tersebut hanya sekedar untuk menyapa gue aja.

Gue cuma bales:

"WOI! Apa kabar loe?"

Gak dibales.

Akhirnya di pameran Citra Pariwara kemaren, kebetulan gue dan dia papasan lagi. Dengan spontan gue menyapa cium pipi kanan dan kiri sambil setengah berteriak:

"Woiii apa kabar sayuuuur"

Eh gak disangka gak diduga, pertanyaan pertama dia tetap sama:

"Emang temen loe di Facebook sampe ribuan gitu?!"

Kali ini nadanya agak sedikit sinis dan melecehkan. Seperti biasa, gue paling bisa mengontrol serangan seperti ini. Dengan santai gue menjawab:

"Ah ya enggak laaaah itu kan banyak mahasiswa. Lagian banyak kok kenalan baru di situ. Ya gue sih enggak apa-apa lah. Seneng-seneng aja!"

Dengan wajah setengah nyinyir dia berkata lagi:

"Menurut gue itu ego booster (agak lupa kata-kata persisnya -red) loh kayak gituan!"

Karena gue merasa diskusi seperti ini gak penting, akhirnya gue merespons dengan tertawa aja. Diringin pertanyaan "eh gimana menurut loe nih iklan-iklan?" Pembicaraan pun beralih. PUGH! Lega juga.

Sampai suatu saat kita mengadakan pesta perpisahan. Dia akan hijrah ke luar negeri. Pesta perpisahan itu dihadiri oleh beberapa teman lama gue di kantor yang lama. Di tengah keseruan membahas masa lalu, tiba-tiba teman gue bertanya setengah berteriak sehingga seluruh teman mendengar:

"Eh Glenn, emang loe kenal semua sama temen loe yang ribuan itu di Facebook?"

Gue agak syok sedikit. Gue pikir udahan topiknya. Akhirnya gue tertawa aja. Sambil berkata:

"Ah itu kan cuma Facebook. Bukan Heartbook. Siapa yang ada di hati gue cuma gue yang tau kaaaan?"

Pugh lega lagi untuk kedua kalinya.

---

Dua hari ini gue agak rajin nulis dan upload di Facebook, Multiply, Blogspot gue. Dan dalam hitungan jam, lumayan banyak respons dari teman-teman lama yang bikin gue jadi inget lagi sama mereka. Dan yang lebih serunya, ada juga teman-teman "baru mulai kenalan" di Facebook yang sekalian komen sekalian ajak kenalan.

Gue seneng. Karena buat gue, bukan urusan kenal gak kenal. Bukan urusan teman atau bukan teman. Tapi Facebook semacam sarana untuk berhubungan dengan teman yang sudah kita kenal, dekat ataupun selintasan. Dan sarana untuk memulai hubungan pertemanan baru. Gak ada salahnya dengan itu semua kan?

Seandainya teman lama gue itu masih ada di sini, gue pengen bilang:

"Jangan terlalu serius lah. Buat gue, it's only Facebook!"

----

Dan hari ini, sebelum gue menulis postingan ini, seorang teman yang termasuk dalam gang Brain, Beauty dan Behaviour baru masuk ke dalam Facebook. Tulisannya berjudul:

What happened to the thousand masks of us in this Facebok?

Di tulisan ini, dia menyampaikan bahwa setiap orang memiliki "topeng" nya yang akan kita pilih untuk dipakai saat masuk dalam komunitas yang berbeda. Dan itulah sejatinya manusia. Keberadaan Facebook ini mengenyahkan itu semua karena Facebook membuka banyak hal tentang diri kita. Bagi dia ini menakutkan.

Tidak ada yang benar atau salah. Tapi gue jadi salah tingkah sendiri sekarang. Gue yang terlalu santai dalam menyikapi Facebook, atau mereka yang terlalu serius? Atau dua-duanya sah-sah aja? Lalu kenapa kalau gue santai, diserang 3 kali?

1 Corinthians 13:11

When I was a child, I spoke as a child, I felt as a child, I thought as a child.
Now that I have become a man, I have put away childish things.

Wednesday, January 07, 2009

Cinta Saat Ini

Semalam, gue ngobrolin soal cinta. Soal yang udah lama banget gak pernah jadi topik yang menarik perhatian gue selama ini. Ini semua bermula karena gue baru kenalan sama seorang teman baru. Dia pada intinya curhat soal pengalaman cintanya, lika-liku asmaranya, bahkan masa lalu kekasihnya!

Gue mendengarkan dengan asiknya. Bahkan di kepala gue tergambar storyboard yang menarik. Setiap katanya seperti dalang dan gue pasrah untuk masuk dalam cerita cinta teman baru ini. Cerita cinta yang hampir gak pernah jadi bagian hidup gue, benar-benar mengasyikkan untuk didengar.

Bahkan bagian terburuk cerita cinta sekalipun, tetap menarik buat gue.

Di tengah keasyikan itu, jantung gue kayak berdebar ketakutan. Gue takut banget kalau kata-kata itu akan keluar. Sumpah mati gue gak mau. Tapi memang sepertinya sudah menjadi aturan tak tertulis sebuah pertemanan untuk balik bercerita. Untuk membuka diri. Kata-kata itu adalah "kalau loe gimana?"

Dengan kepala kosong dan tanpa niat apapun gue pun bercerita soal cerita cinta gue. Cerita yang begitu asing buat gue. Cerita yang dimulai sekitar 10 tahun silam ketika gue memutuskan bahwa lebih baik sendiri. Karena dengan sendiri, gue bisa lebih bebas untuk menjalani hidup. Lebih bebas untuk menjadi diri sendiri. Dan gue bisa dengan maksimal menjalani pekerjaan gue. Bersosialisasi. Semua tanpa batasan.

Sampai akhirnya dua tahun yang lalu, gue membuat sebuah teori berdasarkan pengalaman hidup gue. Banyak kenalan, rekan, klien, teman, teman dekat, yang ketika ia masih single saat usia mulai bertmnbah (40 tahun ke atas), berubah. Entah mengapa, mereka jadi begitu sinis terhadap kehidupan. Pahit, terhadap banyak hal. Semua hal di dunia ini salah dan kurang. Dan hanya dia lah yang paling benar dan sejati. Hanya dia yang tau segala hal. Yang lain itu bodoh. Yang lain itu dangkal.

Alih-alih bertambah bijaksana, gue melihat kegetiran hidup yang sepi.

Saya 35 tahun. Masih ada 5 tahun untuk berubah. Untuk ancang-ancang agar tidak jadi bagian dari itu semua.

"Coba deh mulai membagi hidup kamu dengan yang lain. Karena dengan berbagi kamu bisa lebih menikmati dan menghargai hidup" kata seorang ibu angkat ke gue ketika gue menceritakan kegelisahan gue ini. "Glenn gak mau jadi kayak gitu kalau tua nanti. I want to grow old graciously. Glenn pengen lebih bijaksana" begitu kata gue.

Dengan saran itu gue mulai mencoba membagi kehidupan gue dengan yang kurang beruntung. Yatim piatu, anak putus sekolah, pengemis dan lain-lain. Mengajar di sana-sini kalau pas bisa. Secara teratur mendermakan sebagian penghasilan. Ternyata, kebaikan lain yang gue dapat. Kali ini gue berani jadi saksi:

"The more you give, the more you get!"

Entah siapa yang pernah bilang begitu. Tapi itu benar-benar terjadi. Rezeki, rahmat, anugerah, seolah tak pernah berhenti mengalir dari Tuhan. Dan lidah seperti gak pernah cukup untuk bilang Alhamdulillah.

Dua tahun berjalan, namanya manusia, gak pernah ada puasnya. Gue merasa gue tetap perlu teman hidup. Teman untuk berbagi hidup gue. Gue gak perlu untuk jatuh cinta sama dia. Tapi gue perlu untuk bisa berbagi hidup gue dengannya.

Demikian gue mengakhiri cerita cinta gue.

Gue gak lagi cari orang untuk jatuh cinta.

Tapi gue lagi cari orang untuk berbagi hidup gue.

Itu lebih dari cukup untuk gue.

Saat ini.

Friday, January 02, 2009

Terima Kasih, Amerika



Tahun 2008 baru saja menyelesaikan tugasnya. Tahun 2009 baru terima serah jabatan. Seperti di setiap awal tahun, banyak dari kita yang melakukan 2 hal. Melihat ke tahun kemaren, dan mempersiapkan tahun yang akan datang.

Melihat ke tahun 2008, adalah tahun yang penuh dengan pembelajaran. Banyak kejadian yang membuat gue mengubah cara pandang terhadap kehidupan ini. Meluaskan perpektif tentang banyak hal. Dan kebetulan 2 pelajaran besar itu berawal dari ruang kelas bernama Amerika.

1. Barrack Obama

Ketika lingkungan sekitar gue bergembira, gue ada pertanyaan dalam hati "emang yakin ya dia ini bakal ok? hehehehe". Tapi ada satu hal yang gue pelajari. Pelajaran itu adalah tentang mimpi. Tentang harapan. Tentang cita-cita.

Semua bisa terjadi. Semua mungkin. Semua bisa. Selama ada keinginan kuat, ada kerja keras, ada keringat dan air mata, insya allah semua itu mungkin.

Semenjak saat itu gue berkata dalam hati, mulai saat ini, kalau ada satu manusia di muka bumi ini yang berkata atau berniat mematahkan impian dan cita-cita, maka manusia itu tidak berhak untuk hidup dekat dengan kehidupan. Karena kehidupan adalah soal impian, harapan dan cita-cita. Lawan dari ketiga hal itu, membujuk pada kematian.

2. Krisis Global

Gue inget banget di awal-awal krisis global ini mulai marak, seorang teman menulis di multiply "BE AFRAID". Saat itu tulisan itu gue lawan dengan ngototnya. Mau takut apa? Takut miskin? Takut lapar? Takut dipecat? Bukankah hidup kita sepenuhnya milik Tuhan? Dan kita hanya menjalankannya dengan sebaik-baiknya?

Kalau ngomong hidup susah, semenjak gue lahir di Indonesia, hidup memang tak pernah terlalu mudah dan nyaman. Cari uang susah, fasilitas negara buruk, jaminan masa depan rendah, dan lainnya.

Sesudahnya teman gue meralat maksud "BE AFRAID" nya itu. Yang dimaksudkan adalah agar kita lebih mawas. Lebih hati-hati dalam berbelanja. Lebih irit. OK deh... "udah dari dulu Yas... loe aja yang hedon! Heheheh!"

Tapi satu hal yang luar biasa yang gue pelajari dari krisis yang dimulai dari Amerika ini. Negara Adi Daya. Maha segalanya ada di Amerika. Pelajaran itu adalah soal, kemungkinan. Semua itu mungkin terjadi. Siapa bisa mengira bahwa krisis ekonomi ini bisa terjadi di Amerika.

Di negara yang dipenuhi dengan orang pandai, cerdas, intelek, bagaimana mungkin krisis sebesar ini tidak bisa diatasi dengan cepat? Di negara yang serba penuh persiapan, cenderung parno, dan bahkan sibuk mengingatkan negara lain untuk bersiap-siap, kok bisa tidak mengantisipasi krisis sebesar ini?

Karena semua mungkin terjadi, maka semua manusia sama. Tak perlu kagum dengan orang pandai, tak perlu hina dengan orang bodoh. Yang pintar bisa jatuh yang bodoh bisa naik. Tak perlu mengidolakan orang kaya, tak perlu mengecilkan orang miskin. Karena yang kaya bisa jatuh miskin di 5 detik ke depan dan di detik yang sama yang miskin bisa jadi kaya.

Semenjak saat ini pula semua adalah teman. Mari kita berjalan bersama. Tak perlu lah berjalan di depan atau di belakang. Kamu tak lebih dan tak kurang dari siapapun di dunia ini. Yang sedang di atas tak perlu membusungkan dada. Yang di bawah tak perlu menunduk. Semua ada perannya. Semua saling membutuhkan. Dan semua berputar.

---

Menjelang akhir tahun seperti biasa gue mempersiapkan sms ucapan. Dan tahun ini, gue mengambil quote dari Woody Allen seperti yang ada di tulisan gue sebelumnya.

"If you want to make God laugh, tell Him your plans" - Woody Allen

Ada banyak sekali reply yang menarik, lucu dan dalam seperti:

"I will coz God loves to laugh...:-)"

"I only have pasrah"

"Thank God I don't have any beside wishes"

"Hahahaha that's why i never have plans. Just go with the flow..."

Dan masih banyak lagi. Tapi ad satu reply yang sangat manis dan ketika gue membacanya bulu kuduk gue berdiri sebentar, dan mata gue terasa agak panas:

"I do not have plans, glenn. But i have wishes, hope and dreams that surely will make God so proud of me."

Thursday, January 01, 2009

Selamat Tahun Baru 209

dari kemeriahan jakarta menyambut tahun baru 2009.







silakan klik:
http://glennmarsalim.multiply.com/photos/album/91/Malam_Tahun_Baru_2009_-_Jakarta_Ane_Emang_Gak_Ade_Matinye?replies_read=1
untuk foto-foto yang lain.

Tuesday, December 30, 2008

Resolusi 2009

Sesaat sebelum gue pengen menuliskan resolusi buat tahun 2009,
gue menemukan sebuah quote yang membuat gue tersenyum dalam hati
dan akhirnya gak jadi bikin resolusi apa-apa.

"If you want to make God laugh, tell Him your plans." - Woody Allen -

Selamat Tahun Baru 2009

Tuesday, December 16, 2008

Little Drummer Boy

Ini adalah lagu Natal yang gak pernah gagal bikin gue pengen nangis.

Sering ada mahasiswa nanya ada gak salah satu contoh copy yang baik. Maka gue harus bilang lirik ini adalah satunya. Dengan kata-kata sederhana, tidak berpura-pura, tapi punya makna yang dalam. Tentang kesedehanaan, kejujuran, ketulusan, cinta, dan semua yang bisa menjadikan pembacanya menjadi manusia yang lebih baik.

Kata-kata yang membuka katup-katup imajinasi untuk terbang liar. Sehingga ketika mendarat kembali, ada kedamaian yang tersisa.

Little Drummer Boy

Come they told me, pa rum pum pum pum
A new born King to see, pa rum pum pum pum
Our finest gifts we bring, pa rum pum pum pum
To lay before the King, pa rum pum pum pum,
rum pum pum pum, rum pum pum pum,

So to honor Him, pa rum pum pum pum,
When we come.

Little Baby, pa rum pum pum pum
I am a poor boy too, pa rum pum pum pum
I have no gift to bring, pa rum pum pum pum
That's fit to give the King, pa rum pum pum pum,
rum pum pum pum, rum pum pum pum,

Shall I play for you, pa rum pum pum pum,
On my drum?

Mary nodded, pa rum pum pum pum
The ox and lamb kept time, pa rum pum pum pum
I played my drum for Him, pa rum pum pum pum
I played my best for Him, pa rum pum pum pum,
rum pum pum pum, rum pum pum pum,

Then He smiled at me, pa rum pum pum pum
Me and my drum.

The words and music to the Christmas song Little Drummer Boy was composed by Katherine K. Davis, Henry Onorati and Harry Simeone in 1958. The lyrics of Little Drummer Boy consist of no less than 21 rum pum pum pum' - a major part of the song and therefore presenting an apparently easy task for the lyricist! However, Little Drummer Boy has been a huge hit for several artists. The most notable rendition was created by the most unlikely combination of Bing Crosby and David Bowie. This version of Little Drummer Boy was a massive hot for the artists and was in fact Bing Crosby's most successful recording since the legendary White Christmas.

Friday, November 21, 2008

Emosional Vs Fungsional

Tuhan Maha Dahsyat!

Manusia diciptakan dengan begitu sempurna. Dengan pikiran dan perasaan.

Tapi mengapa orang iklan dan marketing, membedakan komunikasi dalam 2 hal.

Komunikasi yang emosional, dan komunikasi yang fungsional?

Bukankah keduanya saling membutuhkan dan berhubungan?

Hampir semua produk/brand yang sukses di dunia,

bisa memenuhi keduanya dengan baik.

Ipod, inovasi terbesar abad ini, memenuhi keduanya.

Secara emosi, gaya, keren, dll. Secara fungsi, praktis, gampang, suaranya bagus dll.

Dan, hampir semua keputusan yang berakibat buruk,

disebabkan karena hanya menggunakan salah satu.

Keputusan emosional semata atau fungsional semata.

Jatuh cinta karena emosional semata, bisa kacau nantinya.

Cinta gak bisa bikin perut kenyang. Perut lapar bikin otak gak bekerja.

Jatuh cinta karena fungsional semata, bisa hancur juga.

Perasaan hilang. Bercinta jadi kewajiban. Semua jadi hambar.

Demikian juga dengan bekerja, persahabatan, dan keputusan lainnya.

Seberapa sering kita melihat iklan yang begitu emosional,

tapi tidak menggerakkan kita untuk membeli?

Seberapa sering kita melihat iklan yang begitu fungsional,

tapi tidak menggetarkan kita untuk mencintai brand-nya?

Dengan pemahaman ini,

mulai saat ini, gue tidak lagi percaya iklan/komunikasi harus dibagi 2.

Emosional atau fungsional.

Tapi harus keduanya.

Harus seimbang.

Karena seperti itulah Tuhan menciptakan kita lengkap adanya.

Jadi, kalau ada orang iklan/marketing yang bilang

kalau komunikasi harus dibedakan emosional dan fungsional, jangan percaya.

Karena orang iklan/marketing yang berkata demikian,

sedang berusaha menjadi lebih dari hebat Tuhan.

:)

Sunday, October 26, 2008

Apa Kata Juri AAA 2008?


1 bronze untuk penulisan naskah iklan Masyarakat Peduli Pos Indonesia versi Surat Cinta.
Gak ada silver dan gold.
1 bronze untuk ilustrasi iklan Clue Magazine versi Jakarta Puzzle.
Gak ada silver dan gold.

Dengan hasil ini, menempatkan kita -gue, cecil, yuli, alia, darto, daniel-
di ranking 7 dari Top Ten Agency of The Year 2008 versi majalah Adoi.
Bersama dengan Bajigur.
Peningkatan dari 2 tahun sebelumnya yang ranking 8.
Padahal jumlah metal yang didapat tahun ini lebih sedikit.

Mungkin karena jumlah agency yang ikut tidak sebanyak 2 tahun lalu.
Toh gak pernah sedikitpun bermimpi untuk masuk 5 besar apalagi 3 besar.
Terlalu tinggi untuk seorang freelancer.

Di malam itu Yusca Ismail ngomong ke gue
"kalau yang lain masih mencari kebahagiaan,
kamu udah menemukan dan menciptakan kebahagiaan kamu sendiri ya..."

Tuhan Maha Pemurah. Alhamdulillah.

Terima kasih buat semua yang selama ini selalu ada di belakang kita.
Terutama bapak dan ibu angkat gue di dunia periklanan ini,
Budiman Hakim dan Jeanny Hardono.

DDB Indonesia yang ngasih gue kerjaan terus.
Tanpa pemasukan finansial dari mereka, gak mungkin bisa ikutan.

Buat semua mahasiswa yang selalu jadi inspirasi gue.

Dan di AAA kali ini, untuk pertama kalinya
gue terpaksa naik panggung.
Gak ada Cecil dan Juli yang buat dipaksa naik panggung. :)

Selamat buat semua yang menang!

Wednesday, October 22, 2008

Sesuatu Tentang Leica


Entah ada apa dengan Leica.

Sejak gue belajar fotografi di fakultas desain grafis, gue selalu memimpikan sebuah kamera Leica. Tapi harganya memang luar biasa fantastis.

Seperti contoh yang ada di gambar ini, harganya sekitar 50 jutaan. Buseeeeet, bisa buat DP mobil bahkan rumah.

Gue cuma ngerasa ada sebuah masa lalu di desainnya. Yang mengingatkan gue akan arti kata klasik, gaya, kualitas dan keabadian. Yang lain boleh datang dan pergi. Nikon dan Canon boleh berantem dan beradu keren. Tapi Leica tetap pada pendiriannya. Walau sudah dibeli Panasonic, buat gue, Leica selalu istimewa.

Sampai suatu hari, gue iseng-iseng ngisi tes imut di internet. Judul tes-nya If You Are A Brand. Tes ini akan mengidentifikasi kepribadian dengan brand yang sesuai. Dan benar saja, brand pertama yang sesuai dengan kepribadian gue adalah Leica.

Tes ini jadi mengingatkan gue akan impian masa kuliah. Saat itu gue masih lugu. Gak mengenal nilai Rp 50 juta. Saat itu semua masih gue anggap mungkin. Dan saat itu Leica seolah gampang dikejar. Tapi 15 tahun kemudian, sekarang, Leica malah tampak semakin jauh. Bahkan, ada suara kecil di hati gue yang berkata "walaupun uangnya ada, kayaknya gak pantes deh untuk beli Leica".

Untuk menghibur diri, gue seneng merenung. Dalam perenungan kali ini, ada sajak di kepala gue. Judulnya "Leica"

Leica

Leica, Leica on the wall,

tell me who is the greatest of them all?

Photos, photos on the wall,

show me the fairest of them all?

And Leica replied:

Nor the object, nor the subject.

Nor the composition, nor the gradiation.

Nor the photo, nor the lighting.

Nor the camera, nor the lenses.

Nor the photographer, nor the paper.

The story.

Let me be the pen for a storyteller,

not a camera for a photographer.

Use me not to take a sheet of photo.

Use me to take a sheet of life.

Keep me not in a sturdy bag.

Keep me in hand of time.

For I am Leica.

Sunday, October 19, 2008

3 Investasi Duniawi

Seorang temen deket gue pernah berkata,
ada 3 macam investasi duniawi yang bisa bikin
seseorang jadi paling hebat.

Yang pertama adalah UANG.
Jelaslah, kalau punya uang banyak, semua bisa dibeli, bisa dimiliki.
Dengan punya uang, semua orang akan tunduk sama kita.

Yang kedua adalah SENJATA.
Dengan punya senjata, maka dunia akan bertekuk lutut di depan kita.
Mereka akan membeli senjata dari kita dengan kesadaran
bahwa besar kemungkinan kita punya senjata yang lebih canggih dari yang kita jual.

Yang ketiga adalah ILMU
Orang pinter pasti dicari orang di seluruh dunia.
Ilmu yang di atas rata-rata akan membuat kita disegani.
Dengan ilmu kita bisa mempelajari dunia dan masa depan.
Dengan ilmu kita bisa bikin yang lain jadi merasa bodoh dan kecil.

Dari semuanya itu, yang pertama udah pasti gak bisa gue miliki.
Gue bukan dari keluarga kaya raya. Gue gak bisa korupsi.
Sebanyak-banyaknya uang yang gue terima dari hasil kerja gue,
gak mungkin bisa melebihi kekayaan keluarga Bakrie misalnya.
Apalagi dengan adanya resesi global seperti sekarang,
wah banyak orang jadi gila -beneran- karena uang.

Investasi yang kedua, lebih gak mungkin lagi.
Mau bikin senjata dari mana? Ngerti soal senjata aja enggak.

Satu-satunya investasi yang bisa gue kejar adalah ILMU.
Mungkin gue gak akan seberilmu Bill Gates,
tapi setidaknya gue bisa berusaha untuk selalu menambah ilmu.
Dengan gue punya ilmu, maka gue bisa menyebarkan ilmu
kepada semua orang yang menginginkannya.
Dan mengejar ilmu, gak perlu mahal, gak perlu uang.
Ilmu ada di mana-mana.
Tuhan Maha Pemurah.

Alhasil selama ini, gue selalu berusaha mengejar ILMU.

Sampai 3 minggu yang lalu.
Tiba-tiba perut gue melintir. Nyerinya minta ampun.
Gue muntah berkali-kali dan mulut gue terasa asam.
Karena lemas gak bisa berjalan, akhirnya gue selonjoran di lantai kamar mandi.
Dengan kepala di dudukan toilet.
Gue terus duduk di situ sambil mengingat-ingat,
langkah apa yang harus gue ambil dalam keadaan begini.

Hape jauh dari genggaman. Untuk berjalan mengambil gue gak kuat.
Akhirnya gue mengingat, pesan seorang guru yoga: atur napas.
Benar juga, sakit sedikit berkurang.
Sampai akhirnya gue kuat juga untuk mengambil hape.

Ternyata temen gue kurang kasih info.
Ada satu lagi investasi yang gak kalah pentingnya. KESEHATAN.
Gue sadar selama ini gue sering gak memperhatikan kesehatan.
Makan gak teratur, ngerokok terus, kurang minum air putih,
tidur kurang, kurang makan buah dan sayuran, dan semuanya
yang bikin badan gue tersiksa.
Sampai akhirnya berontak.

Sekarang, jadi ada dua investasi yang akan gue kejar. ILMU dan KESEHATAN.
Dan gue menemukan, kalau KESEHATAN lebih penting dari ILMU.
Apa gunanya berilmu kalau gak sehat? Kalau sakit-sakitan?
Tapi kalau sehat bisa terus mencari ilmu.

Tuesday, October 14, 2008

Nasi Goreng



Gue sering bertanya dalam hati gue sendiri, agency seperti apa sih yang ideal itu? Kreatif seperti apa yang ideal? CD seperti apa yang ideal? Hidup seperti apa yang ideal? Dan semuanya yang mempertanyakan dan menginginkan kondisi yang ideal.

Ideal di sini dalam artian semua adalah yang terbaik. Misalnya kebayang gak betapa serunya kalau dalam semua agency ada CD terbaik, client service terbaik, planner terbaik, pokoknya yang terbaik yang ada di negeri ini. Pasti iklan yang dihasilkan adalah iklan yang terbaik pula dong. Ya dong ah!

Tapi kenyataan sering berkata lain. Gue belum pernah menemukan situasi ter seperti di atas. Kalaupun ada yang mendekati, iklan yang dihasilkan boleh dibilang ya agak jauh dari dari terbaik.

Sebaliknya, sering gue menemukan iklan-iklan yang seru, keren, lucu, dan terbaik menurut gue pada saat itu, dibuat dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan. CD-nya sering ngilang-ngilang, brief-nya gak jelas, klien-nya resek. Kok bisa ya?

Kali ini, lagi-lagi Tuhan seperti memberikan jawaban persis ketika gue makan siang nasi goreng bersama klien di sebuah hotel mewah di kawasan Dharmawangsa.

Menurut gue, nasi goreng paling enak adalah nasi goreng yang sering gue beli di pinggir jalan. Entah kenapa, rasanya pas, gak terlalu manis, gak terlalu asin. Nasinya pulen, bukan yang lengket-lengket benyek. Pokoknya puas!

Tapi gue selalu gagal kalau pesen nasi goreng di restoran mahal atau di hotel seperti sekarang ini. Nasinya benyek, kadang kemanisan, lauk sandingannya sering gak seirama seperti sate, pokoknya menyedihkan. Padahal harganya bisa 15 kali lebih mahal dari nasi goreng pinggir jalan.

Kalau dipikir-pikir, nasi goreng di hotel sering dibuat dari bahan terbaik. Beras terbaik, minyak goreng bersih, ayam yang empuk, daun bawang hidroponik, pokoknya semua yang ter-ter.

Kok bisa gak enak?

Sementara nasi goreng pinggir jalan, wajannya saja jelas sudah beda jauh. Minyak gorengnya, wah bisa keliatan dari tingkat kejernihannya yang rendah. Ayam yang disuir-suir juga terlihat sudah kering.

Kok bisa enak?

Walau makan siang gue agak bikin sedih (gue sering ngerasa sedih kalau makan nasi goreng, spageti atau masakan cina gak enak-red) tapi alhamdulillah hari ini gue belajar sesuatu.

Yang pasti sejak hari itu gue gak percaya lagi dengan istilah "garbage in garbage out".

SIMPLE

Di dunia iklan, kita sering mendengar kata ini.

"Iklannya keren.... simpleeeeee banget gitu loh!"

"Strategynya kurang simple deh..."

"Iklan ini menang karena simple..."

Bertahun-tahun di dunia iklan, gue punya pertanyaan, apa sih padanan bahasa indonesia kata: simple?

Karena simple itu bukan sederhana atau bersahaja. Sederhana atau bersahaja itu lebih ke humble. Ia sangat bersahaja jadi she is very humble. Bukan she is very simple.

Buat gue kata simple itu bermakna tidak berlebih tidak kurang. Pas. Simple itu juga bermakna apa adanya. Tapi juga tidak menjadi simplistik, yang dalam bahasa indonesianya, menggampangkan.

Gue sering denger "nih ide gue, keren kan... simple gitu loh." Dalam hati gue berkata ah ini mah bukan simple, tapi simplistik. Ngegampangin. Menyederhanakan masalah. Simple itu tidak begitu.

Apakah bahasa Indonesia untuk simple adalah simpel?

Sunday, October 05, 2008

Kreatif dalam Sekotak Rokok

Gue sering ditanya oleh temen dan bertanya pada diri gue sendiri, "apa sih kreatif menurut gue?"

Selama ini gue selalu kesulitan dalam menjelaskannya.

Kalau kata orang Tuhan memberikan jawaban melalui tanda-tanda di sekitar kita, kali ini jawaban itu sepertinya ada di kotak rokok.

Kita semua pasti pernah ngeliat bagaimana Lucky Strike keluar dengan ide-ide kreatif dalam kotak rokoknya. Yang buka dari samping lah, yang ada lingkaran bolongnya lah, ada bisa diteken dari bawah, bahkan ada yang bentuknya seperti pocket camera.

Benar-benar menarik dan menghibur.

Satunya lagi adalah kotak rokok Dunhill Menthol. Namanya Freshness Seal. Lapisan aluminium yang biasanya ditarik robek dan kemudian dibuang, berinovasi menjadi lapisan aluminium yang bisa dibuka tutup ulang dengan perekat. Jadi bagian atas aluminium itu selalu tertutup rapat.

Seperti kita ketahui, rasa menthol pada rokok ada pada bagian puntungnya, dan atau di aluminium seal nya. Dengan adanya Freshness Seal ini, rasa menthol jadi lebih tahan lama dan rokok itu sendiri jadi lebih awet. Gak gampang lembab.

Lucky Strike dan Dunhill Menthol, dua-duanya sama-sama kreatif. Lucky Strike bermain di arena yang menghibur. Sementara Dunhill Menthol bermain di arena yang fungsional.

Menurut gue, arti kreatif sesungguhnya ada di Dunhill Menthol.

Bisa jadi gue salah. Bisa jadi gue bener. Semua pemikiran ini hanya perjalanan aja. Kalau suatu hari gue berhenti merokok, mungkin itu kreativitas yang lebih sesungguhnya.

Saturday, October 04, 2008

KE-LEBARAN DARI PEDRO!



Dari jauh hari gue udah rencana mau menghabiskan liburan lebaran dengan nonton dvd. Akhirnya satu set dvd film-film karya Pedro Almodovar ini jadi kado lebaran gue. Walau memang menguras kocek, tapi gak sedikit pun gue ngerasa rugi. Inspirasi tentang kemanusiaan yang Insya Allah membuat gue jadi ngelihat sekitar dengan ke-lebaran baru dan lebih positif.

Sekarang gue ngerti kenapa banyak temen bilang "loe mesti nonton Almodovar, Ozu dan Abbas Kiarostami. Loe banget deh!"

Walau sampai sekarang gue gak tau apa itu yang "gue banget deh", tapi memang film-film Almodovar bikin gue terbuai persis kayak anak kecil didongengin. Bukan untuk pengantar tidur. Tapi pembuka mata. Dan di saat mata gue terbuka itu, gue jadi makin sadar kalau gue ternyata kecil banget, seperseribu kutu.

Serunya, ketika gue ngerasa kecil-banget-hampir-gak-keliatan itu, gue bahagia banget. Yang di dalam rasanya jadi tentram.

Favorit gue pribadi ada dua film, Talk To Her dan Bad Education.

Tuesday, September 30, 2008

Laporan Liburan Lebaran











1.MOVIES 101 - Hosted By Professor Richard Brown

DVD ini berisikan interview-interveiw dengan para sutradara dan bintang film dunia. 35 tahun yang lalu, interview Movies 101 adalah salah satu bagian dari kursus film terkenal di NYU Film Course.

Ada banyak cerita menarik dan penting yang keluar dari interview yang dipandu dengan sangat santai. Sebutlah bagaimana Martin Scorcese bercerita tentang salah satu kaleng film The Last Temptation yang terekspos dengan tidak sengaja tapi malah memberikan efek tersendiri. Atau kecintaan Whoopi Goldberg pada film Star Trek, dan kehidupan masa lalunya sampai akhirnya dinobatkan sebagai salah satu figur yang paling terkenal di dunia menurut majalah People. Geroge Clooney, yes girls, George Clooney... the sexy George Clooney! Jennifer Aniston, Sigourney Weaver, Susan Sarandon, Willem Dafoe dan banyak lagi.

2. PERSEPOLIS - Marjane Satrapi

Didasari oleh kisah nyata Marjane yang memang sudah terkenal sebelumnya, film ini tampak digarap dengan penuh empati dan humor yang menyentuh tombol kemanusiaan untuk kemudian meninggalkan kedamaian tersendiri di dalam hati.

Cerita singkatnya adalah Marjane yang sejak kecil doyan segala hal yang berbau politik karena dia bercita-cita menjadi seorang nabi. Kemudian sesudah perang di Iran, vokalitas Marjane memaksa orang tuanya untuk mengirimnya ke Vienna. Ketimbang ditangkap dan diperkosa. Di Vienna, Marjane sempat jatuh cinta 2 kali. Patah hati yang kedua membuatnya benar-benar terpuruk sampai terkena bronchitis.

Marjane pulang ke Iran. Sampai di sana Marjane jatuh cinta lagi pada seorang pria Iran yang kemudian mengajaknya menikah. Semata karena alasan supaya bisa bergandengan tangan di depan umum. Tentu saja pernikahan ini berlangsung singkat. Dalam tangisnya di rumah sang nenek, sang nenek hanya menjawab "oh cerai... kirain ada yang meninggal!"

Luar biasa! Film ini langsung masuk ke dalam daftar film favorit saya.

3. MARC JACOBS & LOUIS VUITTON

Film dokumentari tentang perancang busana paling panas belakangan ini, Marc Jacobs. Yang selain memiliki label dengan namanya sendiri, juga merupakan desainer untuk Louis Vuitton. Merek tas klasik legendaris dari Paris.

Pada film ini diceritakan tentang kehidupan Marc yang serba mewah namun dipenuhi dengan semangat, kecintaan pada profesi serta tentunya kesibukan yang luar biasa. Mempersiapkan fashion show yang dihadiri oleh banyak tokoh dunia tentu bukan hal sederhana. Atau Anna Wintour yang sengaja datang sehari sebelum fashion show hanya untuk melihat koleksi secara dekat. Kehadiran Anna tentunya akan menjadi salah satu penentu apakah fashion show kali ini akan mendapat publikasi baik atau buruk.

Diceritakan pula bagaimana Marc bertemu dengan salah seorang seniman Jepang yang tergila-gila pada motif polka dots. Untuk kemudian diadaptasi dan dikembangkan untuk berikutnya dapat dilihat dalam bentuk tas berlabel Louis Vuitton, ditenteng oleh peragawati berlenggak-lenggok di atas catwalk.

Saya pribadi tidak pernah terlalu kagum pada karya Marc. Tapi setelah menyaksikan film ini, saya jadi semakin paham akan arti kerja keras.

4. HELVETICA

Siapa bisa mengira kalau hal yang selama ini tampak kecil dan sederhana bernama font,bisa menjadi sebuah film dokumenter yang menarik. Film ini bercerita tentang sejarah, interview dengan para desainer grafis, perkembangan dan masa depan font bernama Helvetica.

Dimulai dari kenyataan bahwa Helvetica adalah font yang paling banyak dipakai di seluruh dunia, disusul dengan sejarah font ini. Cucu pencipta font ini berbicara langsung menceritakannya. Sampai pro dan kontra antara desainer yang cinta mati sampai yang sebel abis, semua tersaji ringan dan informatif.

Tahukah, kalau sebuah huruf berwarna hitam di atas bidang putih, bisa dilihat sebagai bidang putih yang membentuk huruf itu! Dari situ lah keseimbangan dihasilkan pada font Helvetica. Seimbang, mantap dan tanpa pretensi. Itulah esensi font Helvetica yang sangat fleksibel untuk diaplikasi pada berbagai materi.

Jujur saja, tanpa ketertarikan dengan dunia grafis, film ini tidak akan jadi menarik.

Monday, September 29, 2008

Lebaran Buat Gue



Tiap kali lebaran tiba, ada satu ritual yang selalu gue tunggu-tunggu: beliin Mbak Pargi baju lebaran.
Awalnya ritual ini, entah berapa tahun silam, pas mau lebaranan Mbak Pargi ngasih liat hasil buruan baju lebarannya dari pasar Blok M. Baju itu sederhana banget. Warnanya putih. Gue gak tega. Menurut pendapat gue pada saat itu, baju itu terlalu sederhana buat lebaran. Alhasil malam-malam, dengan kemampuan gue melay-out, dan kemampuan Mbak Pargi menjahit, baju putih itu kami sulap dengan tambahan manik-manik. Jreng jreng! Jadilah baju putih itu terlihat lebih mewah.

Sejak malam itu, gue berjanji sama diri gue sendiri, bahwa gue akan membelikan Mbak Pargi baju lebaran. Gak ada niat buat beramal atau apa, tapi semata biar gak repot lagi menjahit manik-manik di malam hari. Dan lagi, gak tau kenapa, gue happy banget kalau ngeliat Mbak Pargi mematut-matur baju lebaran dari gue. Mukanya tiba-tiba jadi bersinar.

Tahun ini, ditemenin sama Zamri, gue berbelanja baju baru. Dengan pesanan "kalau bisa warna merah tua ya mas, dan ukurannya M" kami berdua keliling mall. Sekali setahun masuk ke bagian baju perempuan, menarik juga.

Tuhan Maha Pemurah sama gue. Insya Allah selamanya. Rezeki lumayan ada sehingga gue bisa membelikan Mbak Pargi baju lebaran yang agak mewah. Dan waktu baju itu dicoba, wajah Mbak Pargi gak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bersinar kayak berlian! Apalagi ada bonus selendang bermanik-manik hasil sumbangan Zamri yang urunan.

Awal tahun ini, Mbak Pargi ditinggal kawin mantan pacarnya. Sampai sekarang, Mbak Pargi belum lagi menemukan jodoh barunya. Sementara dia merasa umur terus mengejarnya.

"Selendangnya bagus banget ya mas... bisa dipake buat ijab kabul nanti..." kata Mbak Pargi sambil bergaya-gaya di depan cermin.

Nyes... hati gue kayak diiris-iris. Bukan baju baru yang bisa bikin Mbak Pargi bahagia. Dia ingin jodoh. Sesuatu yang gak mungkin bisa gue atau makhluk manapun di dunia ini berikan. Akhirnya gue jawab:

"Yah nanti kalau ijab kabul ada lagi dong selendangnya... Yang lebih bagus..."

"Ah yang ini juga gak apa-apa mas... Yang penting kan cintanya!"

Jeb-jeb-jeb... dada gue dihunus sama belati lagi berkali-kali. Insya Allah, Mbak Pargi cepet ketemu jodoh. Liat deh foto-foto ini. Cantik ya Mbak Pargi! Lebih cantik lagi hatinya.

Minal Aidin Walfaidzin Mbak Pargi,

Minal Aidin Walfaidzin Teman-teman semua...

Semoga puasa menjadikan hati semakin cantik!