Sunday, October 26, 2008

Apa Kata Juri AAA 2008?


1 bronze untuk penulisan naskah iklan Masyarakat Peduli Pos Indonesia versi Surat Cinta.
Gak ada silver dan gold.
1 bronze untuk ilustrasi iklan Clue Magazine versi Jakarta Puzzle.
Gak ada silver dan gold.

Dengan hasil ini, menempatkan kita -gue, cecil, yuli, alia, darto, daniel-
di ranking 7 dari Top Ten Agency of The Year 2008 versi majalah Adoi.
Bersama dengan Bajigur.
Peningkatan dari 2 tahun sebelumnya yang ranking 8.
Padahal jumlah metal yang didapat tahun ini lebih sedikit.

Mungkin karena jumlah agency yang ikut tidak sebanyak 2 tahun lalu.
Toh gak pernah sedikitpun bermimpi untuk masuk 5 besar apalagi 3 besar.
Terlalu tinggi untuk seorang freelancer.

Di malam itu Yusca Ismail ngomong ke gue
"kalau yang lain masih mencari kebahagiaan,
kamu udah menemukan dan menciptakan kebahagiaan kamu sendiri ya..."

Tuhan Maha Pemurah. Alhamdulillah.

Terima kasih buat semua yang selama ini selalu ada di belakang kita.
Terutama bapak dan ibu angkat gue di dunia periklanan ini,
Budiman Hakim dan Jeanny Hardono.

DDB Indonesia yang ngasih gue kerjaan terus.
Tanpa pemasukan finansial dari mereka, gak mungkin bisa ikutan.

Buat semua mahasiswa yang selalu jadi inspirasi gue.

Dan di AAA kali ini, untuk pertama kalinya
gue terpaksa naik panggung.
Gak ada Cecil dan Juli yang buat dipaksa naik panggung. :)

Selamat buat semua yang menang!

Wednesday, October 22, 2008

Sesuatu Tentang Leica


Entah ada apa dengan Leica.

Sejak gue belajar fotografi di fakultas desain grafis, gue selalu memimpikan sebuah kamera Leica. Tapi harganya memang luar biasa fantastis.

Seperti contoh yang ada di gambar ini, harganya sekitar 50 jutaan. Buseeeeet, bisa buat DP mobil bahkan rumah.

Gue cuma ngerasa ada sebuah masa lalu di desainnya. Yang mengingatkan gue akan arti kata klasik, gaya, kualitas dan keabadian. Yang lain boleh datang dan pergi. Nikon dan Canon boleh berantem dan beradu keren. Tapi Leica tetap pada pendiriannya. Walau sudah dibeli Panasonic, buat gue, Leica selalu istimewa.

Sampai suatu hari, gue iseng-iseng ngisi tes imut di internet. Judul tes-nya If You Are A Brand. Tes ini akan mengidentifikasi kepribadian dengan brand yang sesuai. Dan benar saja, brand pertama yang sesuai dengan kepribadian gue adalah Leica.

Tes ini jadi mengingatkan gue akan impian masa kuliah. Saat itu gue masih lugu. Gak mengenal nilai Rp 50 juta. Saat itu semua masih gue anggap mungkin. Dan saat itu Leica seolah gampang dikejar. Tapi 15 tahun kemudian, sekarang, Leica malah tampak semakin jauh. Bahkan, ada suara kecil di hati gue yang berkata "walaupun uangnya ada, kayaknya gak pantes deh untuk beli Leica".

Untuk menghibur diri, gue seneng merenung. Dalam perenungan kali ini, ada sajak di kepala gue. Judulnya "Leica"

Leica

Leica, Leica on the wall,

tell me who is the greatest of them all?

Photos, photos on the wall,

show me the fairest of them all?

And Leica replied:

Nor the object, nor the subject.

Nor the composition, nor the gradiation.

Nor the photo, nor the lighting.

Nor the camera, nor the lenses.

Nor the photographer, nor the paper.

The story.

Let me be the pen for a storyteller,

not a camera for a photographer.

Use me not to take a sheet of photo.

Use me to take a sheet of life.

Keep me not in a sturdy bag.

Keep me in hand of time.

For I am Leica.

Sunday, October 19, 2008

3 Investasi Duniawi

Seorang temen deket gue pernah berkata,
ada 3 macam investasi duniawi yang bisa bikin
seseorang jadi paling hebat.

Yang pertama adalah UANG.
Jelaslah, kalau punya uang banyak, semua bisa dibeli, bisa dimiliki.
Dengan punya uang, semua orang akan tunduk sama kita.

Yang kedua adalah SENJATA.
Dengan punya senjata, maka dunia akan bertekuk lutut di depan kita.
Mereka akan membeli senjata dari kita dengan kesadaran
bahwa besar kemungkinan kita punya senjata yang lebih canggih dari yang kita jual.

Yang ketiga adalah ILMU
Orang pinter pasti dicari orang di seluruh dunia.
Ilmu yang di atas rata-rata akan membuat kita disegani.
Dengan ilmu kita bisa mempelajari dunia dan masa depan.
Dengan ilmu kita bisa bikin yang lain jadi merasa bodoh dan kecil.

Dari semuanya itu, yang pertama udah pasti gak bisa gue miliki.
Gue bukan dari keluarga kaya raya. Gue gak bisa korupsi.
Sebanyak-banyaknya uang yang gue terima dari hasil kerja gue,
gak mungkin bisa melebihi kekayaan keluarga Bakrie misalnya.
Apalagi dengan adanya resesi global seperti sekarang,
wah banyak orang jadi gila -beneran- karena uang.

Investasi yang kedua, lebih gak mungkin lagi.
Mau bikin senjata dari mana? Ngerti soal senjata aja enggak.

Satu-satunya investasi yang bisa gue kejar adalah ILMU.
Mungkin gue gak akan seberilmu Bill Gates,
tapi setidaknya gue bisa berusaha untuk selalu menambah ilmu.
Dengan gue punya ilmu, maka gue bisa menyebarkan ilmu
kepada semua orang yang menginginkannya.
Dan mengejar ilmu, gak perlu mahal, gak perlu uang.
Ilmu ada di mana-mana.
Tuhan Maha Pemurah.

Alhasil selama ini, gue selalu berusaha mengejar ILMU.

Sampai 3 minggu yang lalu.
Tiba-tiba perut gue melintir. Nyerinya minta ampun.
Gue muntah berkali-kali dan mulut gue terasa asam.
Karena lemas gak bisa berjalan, akhirnya gue selonjoran di lantai kamar mandi.
Dengan kepala di dudukan toilet.
Gue terus duduk di situ sambil mengingat-ingat,
langkah apa yang harus gue ambil dalam keadaan begini.

Hape jauh dari genggaman. Untuk berjalan mengambil gue gak kuat.
Akhirnya gue mengingat, pesan seorang guru yoga: atur napas.
Benar juga, sakit sedikit berkurang.
Sampai akhirnya gue kuat juga untuk mengambil hape.

Ternyata temen gue kurang kasih info.
Ada satu lagi investasi yang gak kalah pentingnya. KESEHATAN.
Gue sadar selama ini gue sering gak memperhatikan kesehatan.
Makan gak teratur, ngerokok terus, kurang minum air putih,
tidur kurang, kurang makan buah dan sayuran, dan semuanya
yang bikin badan gue tersiksa.
Sampai akhirnya berontak.

Sekarang, jadi ada dua investasi yang akan gue kejar. ILMU dan KESEHATAN.
Dan gue menemukan, kalau KESEHATAN lebih penting dari ILMU.
Apa gunanya berilmu kalau gak sehat? Kalau sakit-sakitan?
Tapi kalau sehat bisa terus mencari ilmu.

Tuesday, October 14, 2008

Nasi Goreng



Gue sering bertanya dalam hati gue sendiri, agency seperti apa sih yang ideal itu? Kreatif seperti apa yang ideal? CD seperti apa yang ideal? Hidup seperti apa yang ideal? Dan semuanya yang mempertanyakan dan menginginkan kondisi yang ideal.

Ideal di sini dalam artian semua adalah yang terbaik. Misalnya kebayang gak betapa serunya kalau dalam semua agency ada CD terbaik, client service terbaik, planner terbaik, pokoknya yang terbaik yang ada di negeri ini. Pasti iklan yang dihasilkan adalah iklan yang terbaik pula dong. Ya dong ah!

Tapi kenyataan sering berkata lain. Gue belum pernah menemukan situasi ter seperti di atas. Kalaupun ada yang mendekati, iklan yang dihasilkan boleh dibilang ya agak jauh dari dari terbaik.

Sebaliknya, sering gue menemukan iklan-iklan yang seru, keren, lucu, dan terbaik menurut gue pada saat itu, dibuat dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan. CD-nya sering ngilang-ngilang, brief-nya gak jelas, klien-nya resek. Kok bisa ya?

Kali ini, lagi-lagi Tuhan seperti memberikan jawaban persis ketika gue makan siang nasi goreng bersama klien di sebuah hotel mewah di kawasan Dharmawangsa.

Menurut gue, nasi goreng paling enak adalah nasi goreng yang sering gue beli di pinggir jalan. Entah kenapa, rasanya pas, gak terlalu manis, gak terlalu asin. Nasinya pulen, bukan yang lengket-lengket benyek. Pokoknya puas!

Tapi gue selalu gagal kalau pesen nasi goreng di restoran mahal atau di hotel seperti sekarang ini. Nasinya benyek, kadang kemanisan, lauk sandingannya sering gak seirama seperti sate, pokoknya menyedihkan. Padahal harganya bisa 15 kali lebih mahal dari nasi goreng pinggir jalan.

Kalau dipikir-pikir, nasi goreng di hotel sering dibuat dari bahan terbaik. Beras terbaik, minyak goreng bersih, ayam yang empuk, daun bawang hidroponik, pokoknya semua yang ter-ter.

Kok bisa gak enak?

Sementara nasi goreng pinggir jalan, wajannya saja jelas sudah beda jauh. Minyak gorengnya, wah bisa keliatan dari tingkat kejernihannya yang rendah. Ayam yang disuir-suir juga terlihat sudah kering.

Kok bisa enak?

Walau makan siang gue agak bikin sedih (gue sering ngerasa sedih kalau makan nasi goreng, spageti atau masakan cina gak enak-red) tapi alhamdulillah hari ini gue belajar sesuatu.

Yang pasti sejak hari itu gue gak percaya lagi dengan istilah "garbage in garbage out".

SIMPLE

Di dunia iklan, kita sering mendengar kata ini.

"Iklannya keren.... simpleeeeee banget gitu loh!"

"Strategynya kurang simple deh..."

"Iklan ini menang karena simple..."

Bertahun-tahun di dunia iklan, gue punya pertanyaan, apa sih padanan bahasa indonesia kata: simple?

Karena simple itu bukan sederhana atau bersahaja. Sederhana atau bersahaja itu lebih ke humble. Ia sangat bersahaja jadi she is very humble. Bukan she is very simple.

Buat gue kata simple itu bermakna tidak berlebih tidak kurang. Pas. Simple itu juga bermakna apa adanya. Tapi juga tidak menjadi simplistik, yang dalam bahasa indonesianya, menggampangkan.

Gue sering denger "nih ide gue, keren kan... simple gitu loh." Dalam hati gue berkata ah ini mah bukan simple, tapi simplistik. Ngegampangin. Menyederhanakan masalah. Simple itu tidak begitu.

Apakah bahasa Indonesia untuk simple adalah simpel?

Sunday, October 05, 2008

Kreatif dalam Sekotak Rokok

Gue sering ditanya oleh temen dan bertanya pada diri gue sendiri, "apa sih kreatif menurut gue?"

Selama ini gue selalu kesulitan dalam menjelaskannya.

Kalau kata orang Tuhan memberikan jawaban melalui tanda-tanda di sekitar kita, kali ini jawaban itu sepertinya ada di kotak rokok.

Kita semua pasti pernah ngeliat bagaimana Lucky Strike keluar dengan ide-ide kreatif dalam kotak rokoknya. Yang buka dari samping lah, yang ada lingkaran bolongnya lah, ada bisa diteken dari bawah, bahkan ada yang bentuknya seperti pocket camera.

Benar-benar menarik dan menghibur.

Satunya lagi adalah kotak rokok Dunhill Menthol. Namanya Freshness Seal. Lapisan aluminium yang biasanya ditarik robek dan kemudian dibuang, berinovasi menjadi lapisan aluminium yang bisa dibuka tutup ulang dengan perekat. Jadi bagian atas aluminium itu selalu tertutup rapat.

Seperti kita ketahui, rasa menthol pada rokok ada pada bagian puntungnya, dan atau di aluminium seal nya. Dengan adanya Freshness Seal ini, rasa menthol jadi lebih tahan lama dan rokok itu sendiri jadi lebih awet. Gak gampang lembab.

Lucky Strike dan Dunhill Menthol, dua-duanya sama-sama kreatif. Lucky Strike bermain di arena yang menghibur. Sementara Dunhill Menthol bermain di arena yang fungsional.

Menurut gue, arti kreatif sesungguhnya ada di Dunhill Menthol.

Bisa jadi gue salah. Bisa jadi gue bener. Semua pemikiran ini hanya perjalanan aja. Kalau suatu hari gue berhenti merokok, mungkin itu kreativitas yang lebih sesungguhnya.

Saturday, October 04, 2008

KE-LEBARAN DARI PEDRO!



Dari jauh hari gue udah rencana mau menghabiskan liburan lebaran dengan nonton dvd. Akhirnya satu set dvd film-film karya Pedro Almodovar ini jadi kado lebaran gue. Walau memang menguras kocek, tapi gak sedikit pun gue ngerasa rugi. Inspirasi tentang kemanusiaan yang Insya Allah membuat gue jadi ngelihat sekitar dengan ke-lebaran baru dan lebih positif.

Sekarang gue ngerti kenapa banyak temen bilang "loe mesti nonton Almodovar, Ozu dan Abbas Kiarostami. Loe banget deh!"

Walau sampai sekarang gue gak tau apa itu yang "gue banget deh", tapi memang film-film Almodovar bikin gue terbuai persis kayak anak kecil didongengin. Bukan untuk pengantar tidur. Tapi pembuka mata. Dan di saat mata gue terbuka itu, gue jadi makin sadar kalau gue ternyata kecil banget, seperseribu kutu.

Serunya, ketika gue ngerasa kecil-banget-hampir-gak-keliatan itu, gue bahagia banget. Yang di dalam rasanya jadi tentram.

Favorit gue pribadi ada dua film, Talk To Her dan Bad Education.

Tuesday, September 30, 2008

Laporan Liburan Lebaran











1.MOVIES 101 - Hosted By Professor Richard Brown

DVD ini berisikan interview-interveiw dengan para sutradara dan bintang film dunia. 35 tahun yang lalu, interview Movies 101 adalah salah satu bagian dari kursus film terkenal di NYU Film Course.

Ada banyak cerita menarik dan penting yang keluar dari interview yang dipandu dengan sangat santai. Sebutlah bagaimana Martin Scorcese bercerita tentang salah satu kaleng film The Last Temptation yang terekspos dengan tidak sengaja tapi malah memberikan efek tersendiri. Atau kecintaan Whoopi Goldberg pada film Star Trek, dan kehidupan masa lalunya sampai akhirnya dinobatkan sebagai salah satu figur yang paling terkenal di dunia menurut majalah People. Geroge Clooney, yes girls, George Clooney... the sexy George Clooney! Jennifer Aniston, Sigourney Weaver, Susan Sarandon, Willem Dafoe dan banyak lagi.

2. PERSEPOLIS - Marjane Satrapi

Didasari oleh kisah nyata Marjane yang memang sudah terkenal sebelumnya, film ini tampak digarap dengan penuh empati dan humor yang menyentuh tombol kemanusiaan untuk kemudian meninggalkan kedamaian tersendiri di dalam hati.

Cerita singkatnya adalah Marjane yang sejak kecil doyan segala hal yang berbau politik karena dia bercita-cita menjadi seorang nabi. Kemudian sesudah perang di Iran, vokalitas Marjane memaksa orang tuanya untuk mengirimnya ke Vienna. Ketimbang ditangkap dan diperkosa. Di Vienna, Marjane sempat jatuh cinta 2 kali. Patah hati yang kedua membuatnya benar-benar terpuruk sampai terkena bronchitis.

Marjane pulang ke Iran. Sampai di sana Marjane jatuh cinta lagi pada seorang pria Iran yang kemudian mengajaknya menikah. Semata karena alasan supaya bisa bergandengan tangan di depan umum. Tentu saja pernikahan ini berlangsung singkat. Dalam tangisnya di rumah sang nenek, sang nenek hanya menjawab "oh cerai... kirain ada yang meninggal!"

Luar biasa! Film ini langsung masuk ke dalam daftar film favorit saya.

3. MARC JACOBS & LOUIS VUITTON

Film dokumentari tentang perancang busana paling panas belakangan ini, Marc Jacobs. Yang selain memiliki label dengan namanya sendiri, juga merupakan desainer untuk Louis Vuitton. Merek tas klasik legendaris dari Paris.

Pada film ini diceritakan tentang kehidupan Marc yang serba mewah namun dipenuhi dengan semangat, kecintaan pada profesi serta tentunya kesibukan yang luar biasa. Mempersiapkan fashion show yang dihadiri oleh banyak tokoh dunia tentu bukan hal sederhana. Atau Anna Wintour yang sengaja datang sehari sebelum fashion show hanya untuk melihat koleksi secara dekat. Kehadiran Anna tentunya akan menjadi salah satu penentu apakah fashion show kali ini akan mendapat publikasi baik atau buruk.

Diceritakan pula bagaimana Marc bertemu dengan salah seorang seniman Jepang yang tergila-gila pada motif polka dots. Untuk kemudian diadaptasi dan dikembangkan untuk berikutnya dapat dilihat dalam bentuk tas berlabel Louis Vuitton, ditenteng oleh peragawati berlenggak-lenggok di atas catwalk.

Saya pribadi tidak pernah terlalu kagum pada karya Marc. Tapi setelah menyaksikan film ini, saya jadi semakin paham akan arti kerja keras.

4. HELVETICA

Siapa bisa mengira kalau hal yang selama ini tampak kecil dan sederhana bernama font,bisa menjadi sebuah film dokumenter yang menarik. Film ini bercerita tentang sejarah, interview dengan para desainer grafis, perkembangan dan masa depan font bernama Helvetica.

Dimulai dari kenyataan bahwa Helvetica adalah font yang paling banyak dipakai di seluruh dunia, disusul dengan sejarah font ini. Cucu pencipta font ini berbicara langsung menceritakannya. Sampai pro dan kontra antara desainer yang cinta mati sampai yang sebel abis, semua tersaji ringan dan informatif.

Tahukah, kalau sebuah huruf berwarna hitam di atas bidang putih, bisa dilihat sebagai bidang putih yang membentuk huruf itu! Dari situ lah keseimbangan dihasilkan pada font Helvetica. Seimbang, mantap dan tanpa pretensi. Itulah esensi font Helvetica yang sangat fleksibel untuk diaplikasi pada berbagai materi.

Jujur saja, tanpa ketertarikan dengan dunia grafis, film ini tidak akan jadi menarik.

Monday, September 29, 2008

Lebaran Buat Gue



Tiap kali lebaran tiba, ada satu ritual yang selalu gue tunggu-tunggu: beliin Mbak Pargi baju lebaran.
Awalnya ritual ini, entah berapa tahun silam, pas mau lebaranan Mbak Pargi ngasih liat hasil buruan baju lebarannya dari pasar Blok M. Baju itu sederhana banget. Warnanya putih. Gue gak tega. Menurut pendapat gue pada saat itu, baju itu terlalu sederhana buat lebaran. Alhasil malam-malam, dengan kemampuan gue melay-out, dan kemampuan Mbak Pargi menjahit, baju putih itu kami sulap dengan tambahan manik-manik. Jreng jreng! Jadilah baju putih itu terlihat lebih mewah.

Sejak malam itu, gue berjanji sama diri gue sendiri, bahwa gue akan membelikan Mbak Pargi baju lebaran. Gak ada niat buat beramal atau apa, tapi semata biar gak repot lagi menjahit manik-manik di malam hari. Dan lagi, gak tau kenapa, gue happy banget kalau ngeliat Mbak Pargi mematut-matur baju lebaran dari gue. Mukanya tiba-tiba jadi bersinar.

Tahun ini, ditemenin sama Zamri, gue berbelanja baju baru. Dengan pesanan "kalau bisa warna merah tua ya mas, dan ukurannya M" kami berdua keliling mall. Sekali setahun masuk ke bagian baju perempuan, menarik juga.

Tuhan Maha Pemurah sama gue. Insya Allah selamanya. Rezeki lumayan ada sehingga gue bisa membelikan Mbak Pargi baju lebaran yang agak mewah. Dan waktu baju itu dicoba, wajah Mbak Pargi gak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bersinar kayak berlian! Apalagi ada bonus selendang bermanik-manik hasil sumbangan Zamri yang urunan.

Awal tahun ini, Mbak Pargi ditinggal kawin mantan pacarnya. Sampai sekarang, Mbak Pargi belum lagi menemukan jodoh barunya. Sementara dia merasa umur terus mengejarnya.

"Selendangnya bagus banget ya mas... bisa dipake buat ijab kabul nanti..." kata Mbak Pargi sambil bergaya-gaya di depan cermin.

Nyes... hati gue kayak diiris-iris. Bukan baju baru yang bisa bikin Mbak Pargi bahagia. Dia ingin jodoh. Sesuatu yang gak mungkin bisa gue atau makhluk manapun di dunia ini berikan. Akhirnya gue jawab:

"Yah nanti kalau ijab kabul ada lagi dong selendangnya... Yang lebih bagus..."

"Ah yang ini juga gak apa-apa mas... Yang penting kan cintanya!"

Jeb-jeb-jeb... dada gue dihunus sama belati lagi berkali-kali. Insya Allah, Mbak Pargi cepet ketemu jodoh. Liat deh foto-foto ini. Cantik ya Mbak Pargi! Lebih cantik lagi hatinya.

Minal Aidin Walfaidzin Mbak Pargi,

Minal Aidin Walfaidzin Teman-teman semua...

Semoga puasa menjadikan hati semakin cantik!

Wednesday, September 17, 2008

Pada Kamar Jam-Jaman

Setelah 2 kali, mencapai puncak kenikmatan,

pria bertubuh gempal berkumis itu,

masih memintanya untuk melayaninya lagi.

Ronde ketiga baru saja dimulai.

Karena ronde ketiga,

pria bertubuh gempal berkumis itu,

lebih lama untuk sampai ke puncak.

Dipuas-puaskannya semua,

sambil memejamkan mata

membayangkan Sarah Azhari.

Lupa akan bekas cinta di rumah,

dan hasil muntahan sperma 10 tahun yang lalu.

Ia terus mempompa gairah,

mumpung barang mulus dan muda

tergolek dan mengerang

penuh fantasi seperti di Vivid Video.

Diperintahkannya untuk tak melepas

sepatu tinggi berwarna merah,

supaya lebih mirip Asia Carera.

Gincu merah harus lebih tebal,

agar pas di puncak kenikmatan nanti

bisa menjadi kakus.

Keringat mengucur, mata terpejam erat,

pria bertubuh gempal berkumis itu,

memuntahkan cairan putih kental

di kakus bergincu merah tebal itu.

Pria bertubuh gempal berkumis itu,

terbaring terengah-engah.

Perlahan dikumpulkannya energi yang tersisa.

Segepok uang seratus ribuan,

dikeluarkan dari dompetnya.

Untuk kemudian dilempar ke lantai.

Dengan harapan untuk dipungut lembar per lembar.

Lagi-lagi untuk fantasi yang selama ini ditonton.

Badan mulus dan muda mulai merangkak.

Rambutnya basah oleh peluh

pria bertubuh gempal berkumis itu

bercampur peluhnya sendiri.

Setiap lembar diambil,

masih tanpa sehelai benangpun.

Setiap lembar diambil,

sambil mengenang rematik nenek di kampung.

Setiap lembar diambil,

hanya untuk anak haram buah hatinya,

yang meminta tas ransel

seperti yang dipakai Marshanda pada sebuah sinetron.

Setiap lembar diambil.

hingga lupa perih di puting payudaranya,

dan lecet pada vaginanya.

Sampai lah lembar uang terakhir.

Yang terbang dan mendarat di kaki kakus.

Ia ambil sambil dalam hatinya hendak berkata

"Alhamdulillah".

Belum lagi kata suci itu sempat diucapkan penuh.

Ia tersungkur.

Wajahnya pucat seperti cicak.

Kepalanya persis membentur kaki kakus.

Di luar, seorang muadzin sedang bersiap diri,

mengantar matahari untuk berpentas.

Tuesday, September 16, 2008

Gara-gara TVRI

Minggu siang itu panas.

Seorang anak kecil asik menyaksikan Ria Jenaka di TVRI.

Umurnya belum lagi 7 tahun.

Ia tertawa gelak menyaksikan Romo, Petruk dan Bagong bertingkah.

Ria Jenaka berakhir.

Berganti dengan acara konser musik klasik pimpinan Isbandi.

Anak kecil itu tak beranjak dari tempatnya.

Mulutnya yang tadi terbuka karena tertawa gelak,

sekarang terbuka menganga setengah tak percaya.

Menonton jari-jari bergerak di atas tuts piano dengan cepat.

Dengan dentingan irama yang menghanyutkan.

Sampai nada terakhir.

Anak kecil itu kemudian beranjak dari tempatnya.

Ia menghampiri ibunya yang sedang menjahit.

Ia sandarkan pundaknya ke paha ibunya.

Sebuah piano adalah permintaan yang terucap di bibirnya.

Sang ibu bingung.

Uang dari mana. Mau taruh di mana.

Di gubuk sepetak tempat mereka tinggal,

sebilah piano bisa memenuhi semua ruang.

Bukan ibu namanya kalau tak panjang ide.

Terburu-buru ibu itu pergi ke warung di ujung jalan.

Selembar karton manila dan spidol ia beli.

Dengan sisa uang belanja hari ini.

Sampai di rumah sang anak kecewa.

Tak ada piano di warung ujung jalan.

Sang ibu diam saja.

Digambarnya tuts piano dengan spidol di atas karton manila.

Sekelingking nasi diambil untuk melekatkan karton di atas meja.

Anak kecil itu dipanggil dengan lembut.

Untuk kemudian didudukkan di pangkuan ibu.

Setiap tuts piano yang disentuh oleh jari kecil,

nada yang sesuai keluar dari mulut sang ibu.

Anak kecil itu tergelak kembali.

Sebuah lagu diajarkan oleh ibu itu.

Dengan nada yang benar dan tepat.

Dengan susunan jari yang sesuai dengan piano asli.

Matahari menyinari mereka dari celah liang atap.

Thursday, September 11, 2008

Storyboard Imajinasi

Pagi ini gue ke bank. Ada banyak urusan perbankan dan asuransi yang keteteran. Alhamdulillah pagi ini ada waktu.

Ketika sedang berada di counter mengurus satu persatu kebutuhan perbankan gue, tiba-tiba terdengar suara dari belakang menyela "maaf ya pak, ini tolong ibu ini diurus dulu... maaf ya pak... maaf." Gue menengok ke arah suara itu yang dari seragamnya kelihatan punya kedudukan lebih tinggi. Sementara di sebelahnya, seorang ibu agak gemuk masih mengenakan daster, dengan rambut acak-acakan, menggenggam tissue sambil sesekali mengusap matanya. Gue buru-buru berkata "Oh iya gak apa-apa... silakan... silakan."

Tanpa ba-bi-bu ibu itu setengah berteriak ke arah customer service "mbak saya lagi musibah... uang saya dibobol lewat e-banking". Matanya terus mengeluarkan air mata. Wajahnya tampak pasrah dan kesal. Di belakangnya berdiri anak perempuannya menemani.

Gue berusaha untuk melihat ke arah lain. Sambil sesekali melihat ke arah wajah ibu tersebut. Di kepala gue storyboard pun mulai digambar...

Sepertinya ibu adalah seorang pengusaha rumahan. Mungkin dia punya usaha konveksi di rumah. Dari usaha konveksi itulah dia membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan dengan susah payah. Niatnya punya uang lebih supaya di hari Lebaran bisa merayakan dengan sedikit kemewahan.

Jalan-jalan ke Ancol, beli baju baru, kirim uang ke orang tua, beli makanan, bersilaturahmi sambil membawa buah tangan dan ribuan impian indah buat berlebaran nanti. Kebetulan semalam, mantan suami ibu ini ingin pinjam uang. Ibu ini menyanggupi dengan mengirimkan uang melalui e-banking.

Tapi apa daya, malang tak dapat ditolak, pagi harinya ibu ini menemukan tabungannya tersisa Rp 25.000,- yang merupakan limit terendah tabungan. Semua nya terkuras habis. Lututnya gemetar dan hatinya perih. Ingin teriak tak tau menyalahkan siapa. Ingin menangis tapi sadar tak akan mengembalikan uang yang hilang.

Dengan mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa, bersama sang putri berangkat ke bank. Walau tau, bank tak bisa berbuat banyak, tapi usaha tetap harus dicoba. Demi semua impian, demi semua kerja keras selama setahun.

Langsung deh... mata gue mulai agak dingin dan dada gue mulai panas. Sebelum beranjak gue cuma bisa berkata "tabah ya bu...". Ibu itu tampak sedikit terkejut untuk kemudian mengangguk sambil berkata kecil "terima kasih..."

Sesudah keluar gue mikir, gila ya gue... Kan yang tadi cuma ada di storyboard di kepala gue doang. Gue yang menciptakan cerita tadi. Yang bisa jadi melencong jauh dari kenyataan. Tapi entah kenapa gue yakin banget sama cerita itu, sampai-sampai larut terbawa emosi.

Di luar bank gue jadi pengen ketawa sendiri tapi masih pengen nangis juga. Hahaha serba salah. Banyak karyawan kantoran lalu lalang, melihat gue. Entah apa storyboard di kepala mereka melihat gue begini....

Tuesday, September 09, 2008

Tao Te Ching Lao-Tzu - Stephen Addiss & Stanley Lombardo.


Karena keseringan mendapat komen "loe itu Tao banget!"
Padahal gue gak ngerti artinya. Gue gak tau apa itu Tao.

Kemarin gue ke Gramedia, dan menemukan buku ini:
Tao Te Ching Lao-Tzu yang diterjemahkan oleh Stephen Addiss & Stanley Lombardo.
Halaman demi halaman gue baca tanpa sabar.
Tiap halaman jadi kayak cermin.
Gue jadi bisa ngaca dan banyak pertanyaan dalam hidup gue yang terjawab tanpa dijawab.
Termasuk soal misteri apakah ide itu.
Soal kreativitas. Soal pekerjaan.
Soal berkarya. Soal menghadapi klien dan rekan kerja.
Bahkan juga soal layout.

Jauh jauh jauh lebih bermakna ketimbang Cutting Edge-nya Aitchison:)

Berikut cuplikannya:

Knowing others is intelligent.
Knowing yourself is enlightened.

Conquering others takes force.
Conquering yourself is true strength.

Knowing what is enough is wealth.
Forging ahead shows inner resolve.

Tiba-tiba jadi banyak ide di otak gue yang kecil ini.
Misalnya ya, MISALNYA... mungkin bagus kali ya
kalau ada iklan kartu kredit platinum/black buat orang kaya raya
dengan positioning:

XYZ Platinum Card,
for those who can say "enough".

Ada banyak tagline, dan ribuan ide bisa keluar kan?
Jauh lebih dalam dan inspiring ketimbang yang sering gue terima seperti

XYZ Platinum Card.
for those who has everything.

Beneran... ini buku bagus.

Saturday, September 06, 2008

What's Next?

Minggu lalu, gue dapet imel dari pemimpin redaksi salah satu harian nasional. Isi emailnya kurang lebih meminta gue untuk menulis artikel. Tema yang diberikan adalah "What's Next?"

Tema itu diberikan karena ceritanya, artikel ini akan dimuat untuk menyambut Tahun Baru 2009. Harian ini mengumpulkan berbagai artikel dari berbagai bidang untuk menyampaikan pandangan, visi, harapan dan tentunya sedikit ramalah tentang masa depan dunia yang digeluti masing-masing.

Seperti biasa, banyak pertanyaan di benak gue. Kenapa gue ya? Mau nulis apa ya? Tau apa gue soal dunia iklan? Apalagi mau ngeramal segala? Visi? Visi apa? Masa depan dunia iklan? Masa depan sendiri aja gak tau? Ini apa sih maksudnya? Dan ribuan pertanyaan lainnnya.

Dan sampailah gue pada sore hari ini. Saat yang lain lagi buka puasa gue ngelamun. What's Next? Dalam lamunan ini tiba-tiba gue teringat sama lagu yang pernah diajarkan nyokap waktu gue kecil. Judul lagunya Que Sera Sera - Doris Day. Liriknya seperti ini:

When I was just a little boy
I asked my mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Now I have children of my own
They ask their father, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Lagu sederhana yang selama ini selalu bermain di kepala gue. Terutama kalau pikiran lagi buntu. Gak tau mesti ngapain. Gak yakin sama segala hal. Dan seperti mantra, lagu ini bisa bikin gue lebih pasrah. Dan herannya ketika pasrah, banyak jalan keluar mulai terbuka.

Dan akhirnya, gue pun membalas imel pemimpin redaksi itu. Dengan bahasa inggris yang pas-pasan, berikut isinya:

What's Next?

Who am i to tell others, What's Next? if i am not even sure about tomorrow?

If I can tell you What's Next? i will be such a powerful man.

More powerful than God, which i am not at all.

Why do we need to know about What's Next?

Life is more interesting if we can live day by day,

If we can live our life so the fullest like there is no tomorrow.

The answer to that question, is not in my hand.

I believe, every one of us have and will have to have their own answer to that question.

And i would like to encourage, everyone to find their own answer.

And if, by any chance, there is any advertising professional out there

who can tell you What's Next?,

i can tell you right now, that advertising fellow is either lying -which we are good at- or playing God.

Yours,

Glenn Marsalim

Sunday, August 31, 2008

Malam Sebelum Bulan Suci

Hari ini, Minggu 31/08/2008
gue mendapat telepon dan sms yang meminta gue
untuk menghapus postingan ini.
glenn

Friday, August 29, 2008

Gak Ribetnya Jadi Freelancer

DI RUMAH

a: Mbak... nanti sekalian masakin makan siang ya...
b: Oh iya... lah mas glenn gak kerja?
a: Nanti jam 2 an berangkatnya
b: Oh gitu, lah sekarang mas mau ngapain?
a: Mau tidur.

DI AGENCY I

a: Eh ya ati-ati aja lah sama tuh CD.. entar ide loe diaku-akuin ide dia
b: Oh gue sih gak apa-apa
a: Kok gak apa-apa?
b: Ah emang gue dibayar buat ngasih ide
a: Iya tapi kan lama-lama bete juga
b: Selama-lamanya, kan gue cuma sebulan di sini

DI AGENCY II

a: Gue sih suka banget sama ide loe
b: Wah thanks ya... Ada tapinya gak?
a: Kalau idenya sih enggak, tapi klien bo
b: Klien tuh suka resek
a: Reseknya gimana?
b: Yah gitu... suka sok tau dan kreatif pasti dimaki-maki pas meeting
a: Oh ya gak masalah sih buat gue
b: Kok gak masalah sih? Malu kan
a: Kan gue gak ikutan meeting...

DI AGENCY III

a: Eh glenn, besok loe ke kantor jam berapa?
b: Jam 3 lah
a: Sampe jam berapa?
b: Jam 5 an gitu gue dah mesti jalan
a: Oh OK!
b: Loe mau gue ikutan review ya?
a: Iya...
b: Jam 4.30 ya?
a: OK!
b: Kalau gak keburu, imel-imelan aja ya...
a: OK!

DI MALL

a: Weits!!! Boss asik bener siang siang gini malah ngafe...
b: Yoi nih, lagi nunggu anak agency mau ketemuan..
a: Oh ok, jam berapa?
b: Sekarang sih mestinya... Eh bentar... (angkat telepon)

b: Ah sial gak jadi meeting lagi
a: Yah terus loe ngapain dong sekarang?
b: Hm... gak tau... Nonton kali, abis itu ke gym. Loe?
a: Gue balik kantor bo... Jam 2 nanti ada review.

DI DEPAN KLIEN

a: Yah kalau menurut saya sih, ini yang paling baik pak...
b: Iya sih... tapi boleh gak revisi dikit aja...
a: Boleh dong... selama gak ngerubah konsep ya pak...
b: Wah agak ngerubah sih nih...
a: Yah kalau ngerubah berarti kerja dari awal lagi dong
b: Sepertinya sih begitu
a: Bayarannya gimana?
b: Yah kita sih pengennya dipaketin aja lah...
a: Oh gitu...
b: Iya... gimana Mas Glenn?
a: Ehm... gak jadi ada deh pak, gak apa apa
b: Aduh sayang sekali... terus ini gimana dong yang udah Mas Glenn bikin?
a: Buat bapak aja lah... Gratis

DI DEPAN MESIN ATM

(telepon)
a: Halo, pak... saya kok belum terima transferan yang buat kerjaan 3 bulan lalu ya?
a: Oh gitu... oh gitu...
a: Iya sih nih... belum masuk...
a: Udah... udah saya kasih ke orang finance
a: OK... OK... hari ini ya?
a: Gimana? Tungguin aja? Maksudnya?
a: Oh bapak transfer langsung sekarang?
a: Oh ok ok... makasih Pak

Thursday, August 28, 2008

Ribetnya Jadi Freelancer

DI TELEPON

A: Selamat siang Mbak, saya bisa bicara dengan Pak Fikri?
B: Baik, ini dengan siapa?
A: Saya Glenn
B: Dari perusahaan apa?
A: Oh saya freelancer, mbak.
B: Oh dari PT Freelancer?

DI MALL

A: Mas kartu kreditnya mas...
Bisa langsung dapet Platinum kalau udah punya gold.
B: Oh boleh juga tuh... Apa aja syaratnya?
A: Gampang mas, cuma tinggal fotokopi kartu kredit dan KTP
B: OK OK
Duduklah gue di stand itu...
Mengisi formulir dengan rapih sampai ke bagian perusahaan tempat bekerja.
B: Mas ini gimana ya... saya kerja sendiri, freelancer mas...
A: Oh punya perusahaan sendiri?
B: Bukan mas, pekerja lepasan. Gak punya perusahaan
A: Tapi punya slip gaji kan?
B: Ergh... enggak mas...
A: Wah... susah juga ya mas...
B: Tadi gak bilang perlu slip gaji...

DI BANK

A: Mbak, pengen tanya kalau mau kredit rumah itu syaratnya apa aja ya?
B: Lagi gampang nih mas... KTP, Kartu Keluarga, dan surat keterangan karyawan dari perusahaan tempat mas kerja...
A: Wah saya freelancer, mbak... Kerja sendiri
B: Oh kalau punya perusahaan sendiri...
A: Enggak mbak, bukan punya perusahaan sendiri, saya freelancer. Gak ada perusahaan...
B: Wah gimana ya... hm... Nanti saya tanya ke supervisor, mas-nya saya hubungi ya...

DI KANTOR PAJAK

A: Siang mas, saya pengen ngurus pajak saya nih...
B: Oh boleh boleh, gimana mas...
A: Kan nomor NPWP saya itu saya dapet sebagai karyawan, sekarang saya pekerja lepasan, freelancer, nah itu pengen saya urus
B: Ergh, freelancer itu apa ya mas?
A: Iya saya kerja sendiri mas...
B: Oh punya perusahaan sendiri?
A: Enggak mas, saya kerja sendiri... Gak punya perusahaan.
B: Oh gitu, freelancer bidang apa ya mas?
A: Iklan mas, saya bikin iklan.
B: Oh bikin iklan, yang di mana mas?
A: Di mana-mana mas, tv, majalah dan lain lain.
B: Oh gitu... temen saya juga sama mas... Kayak biro reklame gitu ya?
A: Iya, tapi saya gak punya perusahaan sendiri
B: Oh jadi ini dari NPWP karyawan, mas pengen ubah jadi freelancer.. Gitu?
A: Iya, kan beda mas pajaknya segala
B: Waduh, itu saya juga belum tau tuh mas...
A: Wah kalau bapak gak tau saya gimana ya?

DI PAMERAN

A: Mas, ini saya mau loading... saya peserta pameran
B: Oh ok, dari perusahaan apa mas?
A: Gak dari perusahaan mas... Saya Glenn Marsalim
B: Oh PT Glenn ya?

DI PESAWAT TERBANG

A: Abis ngapain mas, di Bali?
B: Oh abis jadi juri mas...
A: Juri lomba apa mas?
B: Lomba iklan, mas
A: Oh lomba iklan... yang biasa di billboard itu ya mas?
B: Ya semuanya lah, mas...
A: Oh gitu, mas nya kerja di bidang iklan juga?
B: Iya mas...
A: Di perusahaan mana mas, kali-kali bisa kerja sama
B: Saya freelancer, mas... Kerja sendiri
A: Oh kerja sendiri... Enak dong ya
B: Yah ada enaknya ada gak nya lah mas... Sama sama aja.
A: Kalau freelancer itu gak dibayar ya mas?
B: Dibayar lah mas...
A: Oh saya kira FREE loh!

Saturday, August 16, 2008

Kompas, 16 Agustus 2008, Halaman 26







Adalah hari bersejarah buat kami
kalau bener iklan Indofood ini menjiplak iklan
Tropicana Slim yang kami buat November 2006.

Mirip semirip miripnya.... Bahkan angle-nya juga mirip.
Kami yakin ini adalah sebuah kebetulan aja.
Gak mungkin lah ada yang berani ngejiplak untuk merek sebesar Indofood.

Kalaupun benar menjiplak, ya bangga aja...
Seperti kata orang:
"Imitation is the highest flattery"

Terakhir,
MERDEKA! HIDUP INDONESIA!


NOTE:
19 Agustus 2008

hi semua
barusan dapat telepon dari agency yang bikin indofood.
dan benar juga dugaan aku, ini kebetulan aja.
mereka sebenarnya bikin ada 3 versi.
ada yang wayang ini, ada yang cenderawasih dan ada apa lagi gitu.
jadi semuanya ini kebetulan semata.
bener juga kata orang
there is nothing new under the sun!

demikian semua jelas.
walau glenn gak jadi GR deh.... hehehehe


ini surat dari agency-nya:

Ceriteranya begini:- Indofood secara corporate ingin menyampaikan bahwa mereka menggunakan bahan-bahan terbaik dari Indonesia, mengolahnya dan memberikan nilai tambah, dan memberikan kembali ke Indonesis dalam bentuk produk-produk makanan dan pengolah makanan.- Untuk itu mereka menggunakan beberapa ikon Indonesia yang terbuat dari konfigurasi produk makanan yang saat ini dipasang di pintu-pintu lift kantor pusat Indofood.- Yang telah dipasang saat ini adalah konfigurasi Jam Gadang (untuk mewakili Indonesia barat), Gatotkaca (untuk mewakili Jawa/Indonesia Tengah) dan Cenderawasih (mewakili Indonesia Timur).Visual visual tersebut dibuat di awal tahun 2008 tanpa para pembuatnya melihat iklan Tropicana Slim.- Menjelang perayaaan Hari Kemerdekaan RI diputuskan memilih salah satu dari visual tersebut untuk menjadi visual iklan ucapan selamat hari ulang tahun kemerdekaan karena konsepnya pas : yang terbaik dari Indonesia, diolah oleh bangsa Indonesia, untuk Indonesia. Dan akhirnya dipilih yang visual Gatotkaca, karena di antara ketiga visual yang ada di visual Gatotkaca ini melekat unsur kepahlawanan dan keperkasaan..- Maka jadilah iklan kemerdekaan yang sangat kebetulan mirip iklan Tropikana Slim dalam ide eksekusinya, sementara ide komunikasinya berbeda (yang ini adalah ucapan selamat ulang tahun)*
Berikut visual-visual yang lain dari seri ini.

* Copy berbunyi :Semestinya kita bersyukur atas anugerah budaya yang adi dan hasil bumi berlimpah dari pertiwi dengan mencintainya, memberinya nilai tambah serta mempersembahkan kembali pada pertiwi.Yang terbaik dari Indonesia, diolah oleh putera-puteri Indonesia, untuk kejayaan Indonesia.Dirgahayu Indonesia!

Friday, August 15, 2008

Dari Penjurian Adoi Advertising Awards 2008


Sebelum penjurian dimulai, seperti biasa semua anggota juri dan ketua juri Yasmin Ahmad mendapatkan briefing singkat dari Ham Singh, bos-nya Adoi. Dan setelah semua sepakat, kami pun digiring memasuki ruangan yang bernama The Filmore. Di ruangan itu terbentanglah seratusan entry print, outdoor, DM dan lain-lain, kecuali tvc dan web.

Ini juga saat pertama kali gue bisa melihat-lihat banyak iklan baru buatan Indonesia. Maklum kalau gue agak gak update. 5 bulan terakhir ini gue memang agak autis. Terlalu sibuk dengan kerjaan sehari-hari.

Kali ini benar-benar gue gak memikirkan iklan punya siapa yang akan menang. Gue cuma berharap supaya iklan-iklan yang masuk bisa membuat gue sebagai satu-satunya juri Indonesia, bangga. Gak usah semua lah, 70% entry yang bagus aja udah cukup.

Ruangan The Filmore pagi itu, jadi terasa begitu dingin. Badan gue mendadak menggigil. Gue beneran pengen nangis rasanya. Bukan hanya karena kualitas entry yang menurut gue jauh dari harapan, tapi sekedar mounting yang kacau bialau.

Seketika gue memikirkan apa yang ada di kepala juri-juri internasional itu? Juri-juri yang udah memenangkan banyak penghargaan internasional. Sebutlah Juggy Ramakrishnan pemenang Gold, Yellow Pencil untuk copywriting, Adrian Miller dengan 8 piala di Cannes barusan, Yasmin Ahmad yang tahun ini berjaya di hampir semua lomba iklan dengan Tan Hong Ming-nya. Siapa tak kenal Graham Kelly!

"Kenapa loe nek?" tanya seorang panitya yang mungkin menangkap kegelisahan di wajah gue. "Gue malu banget Yun... kok jelek-jeleeeeek.... Ini udah semua atau belum sih?" tanya gue lagi. "Udah, cinta... emang segini aja kok!"

Akhirnya gue memutuskan untuk keluar ruangan sebentar untuk merokok. Ketika itu Yasmin Ahmad ikut keluar. Kami merokok bersama. Kemudian Yasmin berkata

"there are 4 to 5 pieces that i like. but are you ok?"

"not really lah... entries do not look good... i am so embarrased..." jawab saya

"no... no... don't be... even in Spikes, even Cannes the first round is always looking bad..." kata Yasmin lagi.

OK, gue yang memang gak punya pengalaman banyak menjadi juri, jadi terhibur dengan jawaban itu. Apalagi Graham Kelly juga bilang ke gue "entries are getting better and better!"

Sampai akhirnya sampailah ke bagian yang paling mendebarkan. Pembagian metal. Semua, semua kekhawatiran gue pelan-pelan jadi kenyataan. Ada banyak komentar juri-juri yang bikin gue sedikit malu, tersinggung, marah, kesel, kecewa dan semuanya yang bikin gue, dan ke-Indonesiaan gue terusik. Gue cuma bisa tersenyum kecut. Ada salah satu iklan yang gue sendiri juga gak ngerti maksudnya, dikomentarin "are these people living in the same planet?"

Bener juga, setelah masuk ke ronde dua dan tiga, pelan-pelan kerjaan mulai terseleksi menyisakan yang terbaik. Debat para juri, diselingi guyonan ringan bikin suasana jadi sedikit menyenangkan. Pede gue mulai bangkit pelan-pelan. Dan memang, iklan-iklan di tahap ini mulai terlihat "bersinar".

Golding... SIlvering... Bronzing...Finalizing... mulai terdengar menggema di The Filmore. Catatan: imbuhan -ing itu ada karena rupanya di India, tidak mengenal akhiran -ing. Kata shock mereka mengerti, tapi begitu shocking mereka mulai tidak mengerti. Hehehe!

Penjurian itu pun berakhir. Gue gak sabar pengen cepet-cepet pulang. Ada banyak sekali pelajaran yang gue dapat dan pengen gue share ke temen-temen deket. Ada banyak ide-ide baru yang gak sabar untuk diwujudkan.

Di pesawat yang membawa gue pulang gue sempat berpikir, ada banyak peluang dan potensi buat Indonesia untuk meningkatkan kualitas kerjaan iklan kita. Bukan untuk menang Gold di Cannes, Adfest, dan lainnya. Tapi untuk membuat iklan yang benar-benar membuat kita bangga sebagai orang Indonesia. Iklan yang ketika disandingkan dengan iklan dari negara lain, memiliki karakter yang kuat dan khas.

Pengalaman ini benar-benar berarti. Saatnya untuk berkarya lagi. Toh lomba iklan akan ada terus setiap tahun. Kita-nya aja yang mesti semakin baik setiap tahun. Insya Allah

Saturday, August 09, 2008

Turis Jepang di Pameran Ekonomi Kreatif 2008

Hari Sabtu ini, gue dan teman-teman berniat mengunjungi stand Pameran Ekonomi Kreatif Indonesia Bisa 2008 di Alun-Alun Grand Indonesia.

Sejak pembukaan belum sempet mampir sama sekali. Untung juga sempetin mampir karena ada beberapa poster yang melorot.

Pas lagi bener-benerin sekumpulan turis macanegara mampir dan melihat-lihat stand gue. Kesempatan ini gue pakai untuk ngobrol-ngobrol sekedar cari masukan. Mereka juga kebingungan kayaknya mau kasih masukan apa. Hehehe.

Terus tiba-tiba ada 3 turis Jepang setengah berteriak pas melihat poster Indonesia Dangerously Beautiful versi Issa Kobayashi. Mereka berbicara cepat dalam bahasa Jepang yang gak gue mengerti. Sampai salah seorang diantara mereka menjelaskan:

"In Japan, the young generation do not know Haiku or Issa Kobayashi anymore. And in Indonesia you remind us again. Kawai!"

Dipuji seperti itu, gue cuma bisa bilang "Thank you, thank you, arigato..." Gue cuma bisa senyum liat tingkah mereka yang lagi foto-foto di depan poster itu. Kemudian mereka mengajak gue foto bareng. Ada-ada aja turis Jepang ya...

Kemudian salah seorang diantara turis Jepang itu seorang bapak paruh baya berkata:

"But I want to know. You are chinese, right..."

"Yes Chinese Indonesian, Indonesian Chinese..." jawab gue.

"Why no Chinese proverb or quotes?" tanyanya lagi.

Dhuar! Kepala gue sempet berpikir cepat menjawab pertanyaan ini. Sampai akhirnya gue cuma bilang

"I think there is no travel warning in China"

"Ooooooh oh... OK! OK!" Pria itu mengangguk-angguk seolah setuju sambil menunduk-nunduk khas orang Jepang. Sementara gue sendiri gak yakin dengan jawaban gue. Ampun. Inilah akibatnya kalau kurang riset pas mau bikin iklan.

Setelah mereka meninggalkan booth, gue sempet berpikir. Dibalik pertanyaan orang tua itu, ada pesan lain yang hendak disampaikan. Menurut gue, dia pengen bilang "anak muda, hargailah dirimu, siapa dirimu, kekayaan budayamu. Dan kalau hendak menyentil orang lain, sentil-lah dirimu sendiri dulu dan juga."

Gue cuma bisa bilang dalam hati lagi "Arigato..."