Tuesday, August 30, 2005

Voces Inocentes

Image hosted by Photobucket.com

Judul itu berarti Innocent Voices. Film yang menceritakan tentang anak kecil
laki-laki di El Salvador sekitar pertengahan tahun 80an. Di usia 8-12 tahun
mereka dipaksa untuk memilih bergabung dengan tentara atau gerilyawan.

Chava nama salah satunya. Wajahnya mengingatkan kita pada Maradonna kecil.
Di tengah kekumuhan dan kemiskinan luar biasa
Chava hidup bersama seorang adik kecil dan seorang kakak perempuan.
Ibu mereka bekerja sebagai tukang jahit.

Tinggal bersama di rumah gubuk beratap seng.
Basah saat hujan dan hanya sinar matahari adalah lampu satu-satunya.
Desingan peluru dan meriam, datang bagai tamu tak undang.
Muram, kelam dan bau!

Chava hidup dalam ancaman jika suatu hari dirampas untuk dipaksa jadi tentara.
Sekolah dan gereja bukanlah lagi tempat yang aman untuk bersembunyi.
Jadilah mereka bersembunyi di atas genteng rumah mereka.
Berpuluh anak laki-laki terbaring terlentang di atas genteng seng.
Tiba-tiba kepedihan itu menjadi pemandangan yang puitis.

Di akhir cerita memang Chava lolos. Ia lari ke USA dan kembali bergabung bersama
keluarganya 8 tahun kemudian.

Film ini adalah film terbaik yang pernah gue tonton sejak Children of Heaven.
Mungkin loe akan berpikir kalau gue suka film-film itu karena menceritakan
tentang kemiskinan dan anak kecil. Gue gak akan menyangkal itu. Entah kenapa
kemiskinan membuat gue merasa kaya dan anak kecil mengingatkan gue
pada semangat untuk tetap hidup.

Kemiskinan itu menjadikan yang kaya tampak semakin kaya. Dan pengalaman masa
lalu gue yang miskin (bukan berarti sekarang udah kaya) mengajarkan banyak
keindahan hidup. Bahwa hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk meraih
keinginan, impian dan harapan. Dan dalam perjuangan itulah akan kita temukan
arti hidup sebenarnya.

Inget film-film Walt Disney? Kenapa hati kita tertawa dan menangis? Padahal tidak ada
yang nyata di film-film itu. Bener-bener kekanakan.
Gue pikir karena memang di dalam diri kita ada anak
kecil yang menanti untuk ditemukan. Ada anak kecil yang ingin dimanja, ditepuk-tepuk
pantatnya sebelum bobo, ingin dimengerti, ingin dipahami...

Dan ketika keduanya bergabung dalam satu film, bisa dipastikan,
kita seperti berkaca untuk kemudian melihat kelebihan sebelum
menyesali kekurangan. Mengingatkan kita untuk tidak putus asa
karena masih banyak yang lebih lemah dan berkekurangan dibanding kita.

Apalagi yang bisa kita harapkan dari pulang noton
dengan mata sembab tapi hati ringan?
Masih salah gue menjadi seorang melankolis?
Ah... nonton aja sendiri!

Buat Orang Iklan

Tolong jangan sebut gue
orang iklan, insan periklanan
apalagi praktisi periklanan.

Malu-maluin aja!

Untuk saat ini sebutan itu
bikin gue kayak bukan manusia.
Kayak orang planet.

Gue gak perlu dipuja-puji,
gak perlu disanjung-sanjung.
Apalagi maksa jadi temen.

Gak ada gunanya!

Cuma yang tulus yang gue mau tau.
Yang jujur dan mau kerja keras,
yang gue mau kenal dan temenan.

Turunin kepala loe
kalau mau ngomong sama gue.
Gak usah ngedongak gitu.

Kayak si pongah aja!

Kalau mau belajar,
baiklah kita berdiri sama tinggi
duduk sama rendah.

Loe gak akan gue hormatin
hanya karena loe lebih tua,
lebih kaya, apalagi lebih dewa.

Orang sama-sama makan nasi!

Kalau mau maju,
kita maju sama-sama.
Maju sendiri itu cuma mimpi.

Loe kira hanya karena piala loe
lebih banyak dari gue,
terus gue bakal nurut?

Orang kebetulan aja kok gede kepala!

Iya... kebetulan...
tahun ini menang
tahun depan gak jelas!

Tolong jangan sebut gue
orang iklan, insan periklanan
apalagi praktisi periklanan.

Sunday, August 28, 2005

Masih Pengen Jadi Anak Kreatif?

Jadi anak kreatif itu,
harus selalu siap untuk dinilai.

Pertama oleh keluarga.
Dinilai apakah kerjaan kamu bisa menghidupi dirimu sendiri.

Kedua oleh sesama AD, CW dan CD
Dinilai apakah ide kamu benar dan pintar.

Ketiga oleh Account Service.
Dinilai apakah karya kamu sesuai strategi.

Keempat oleh klien.
Dinilai apakah iklan kamu bisa berfungsi sesuai keinginan mereka.

Kelima oleh masyarakat.
Dinilai apakah iklan kamu menyenangkan atau menyebalkan.

Keenam oleh sesama orang iklan.
Dinilai apakah karya kamu kreatif atau tidak.

Ketujuh oleh juri local awards.
Dinilai apakah karya kamu sesuai standar emas, perak, perunggu, finalis atau tidak sama sekali.

Kedelapan oleh juri international awards.
Dinilai apakah karya kamu terbaik di dunia atau tidak.

Kesembilan oleh generasi lebih muda.
Dinilai apakah kamu pantas disebut sebagai insan periklanan yang baik.

Kesepuluh oleh diri kita sendiri.
Dinilai apakah kita pantas menyebut diri sendiri orang kreatif.

PLUS SATU, oleh Tuhan.
Dinilai apakah yang kita lakukan berguna untuk orang lain.

Masih pengen jadi anak kreatif?

Image hosted by Photobucket.com

Thursday, August 25, 2005

DOSA

Kenapa harus berlari
kalau pijakan
berputar seiring bumi?

Kenapa harus berjalan
kalau ujung jalan
adalah garis horisontal maya?

Kenapa harus merangkak
kalau akhirnya
akan tidur juga selamanya?

Kenapa harus dilahirkan
kalau di hari kiamat
ditelan bumi?

Kenapa harus bernapas
kalau akhirnya
jantung akan berhenti?

Sunday, August 21, 2005

Stay Hungry, Stay Foolish - Steve Jobs

'You've got to find what you love,' Jobs says


This is the text of the Commencement address by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, delivered on June 12, 2005.


I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I retuned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.

I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.

This was the closest I've been to facing death, and I hope its the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma — which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Thank you all very much.

Saturday, August 20, 2005

Juri Terbaik

Menghakimi itu, gak enak. Gak gue banget!
Kalau menilai, gue bisa melakukan itu.
Karena itu udah job desk sehari-hari.
Dan gue kadang-kadang menikmatinya.

Tapi untuk menghakimi?
Gue ngerasa gue gak punya hak untuk melakukan itu.
Padahal kekuasaan untuk menghakimi
udah diberikan kepada gue.
dan belakangan gue ketahui,
banyak yang pengen memiliki kekuasaan itu.

Dalam sebuah sinetron karya Asrul Sani,
sekitar tahun 80an akhir, ada cerita
dimana seorang tentara sedang dihakimi
oleh malaikat di Surga.

"Saya membunuh orang itu karena saya diperintahkan
oleh panglima perang. Dan kalau saya tidak membunuhnya,
maka panglima akan memecat atau bahkan membunuh saya!'

"Tapi orang yang kau bunuh tidak bersalah!"

"Ah! Seandainya para malaikat agung ada bersama
saya dan panglima perang pada waktu itu. Untuk memberitahukan
mana yang salah dan benar. Tentu pembunuhan itu tidak akan terjadi."

"Tentara, kami ada bersamamu pada saat itu.
Walau kami tidak terlihat. Tapi kami bersuara! Kami mengemukakan pendapat.
Tapi mengapa suara kami tidak kau dengarkan?"

"Karena kalian bukan panglima perang yang akan memecat
dan membunuh saya kalau saya tidak membunuh orang itu."

Kebenaran dan kebenaran yang diadu.
Suara terbanyak akan menentukan
mana kebenaran yang sesungguhnya
dan mana kebenaran yang merupakan kesalahan terselubung.
Padahal, bukan kesalahan yang sedang diselubungi,
tapi kebenaran yang lain.

Untuk siang itu, sepuluh hakim duduk mengelilingi
meja hijau dalam artian sesungguhnya.

Walau gue sering dimarahin karena kebanyakan mikir,
apa daya, gue berpikir keras
ketika penghakiman itu sedang berlangsung.

Gue berpikir, kenyataan bahwa melepas antata
karya dan pencipta, bukan tugas yang mudah.
Menghakimi makanannya atau kokinya?
Kalau makanannya saja, bisa jadi
makanan enak karena kebetulah sesuai selera yang makan.
Kalau kokinya saja, bukti apa yang
bisa memenangkannya?

Ketika sedang berpikir keras,
gue inget cerita Asrul Sani di atas.
Selain 10 hakim agung,
ada seorang malaikat agung yang sedang berbicara.
Gue terdiam dan mendengarkannya berbicara.

Kalau gue harus memberikan kesaksian
tentang salah satu hal terindah bekerja di
dunia periklanan, adalah pelatihan untuk menilai.
Menilai karya sendiri sebelum menilai karya orang lain.

Dan untuk menilai karya sendiri,
memang membutuhkan kejujuran tingkat tinggi.
Karena juri atau hakim terbaik dan sesungguhnya
adalah diri sendiri.

Monday, August 15, 2005

Lanturan Tapi Relevan

Baru semalam buku itu selesai gue baca.
Lanturan tapi Relevan masuk ke dalam kategori
buku-buku yang gue taruh di toilet.
Dibaca beneran ketika semua suara hilang.
Ketika gak ada gangguan.

Isinya, jelek banget!
Gak ada isinya, gak ada mutunya!
Gak ada yang baru!
Semua ilmu ada di buku-buku iklan yang lain.
Cuma beda-beda tipis lah...

Bener-bener buku murahan.
Foto-fotonya banyak yang burem.
Gaya bahasanya? Minta ampun!
Belang bonteng gak keruan.
Sebentar formal, sebentar asal.

Dan gue kesel banget
karena pas gue sampe ke halaman terakhir,
gue langsung ngerasa aneh gitu.
Dada gue tiba-tiba aja kayak perih banget.
Setiap lembar di buku jelek itu
mengoyak tulang dada gue.

Sebel! Sebel! Sebel!
Buku ini bener-bener bikin gue bete.
Kenapa baru sekarang?
Kenapa gak dari dulu
ketika gue mencari semua ilmu-ilmu ini?
Dan gue gak ngerti
ada apa di antara setiap kata yang tercetak,
sehingga gue bisa ngerasain kehadiran Oom Bud.
Bukan ngajarin. Tapi berbagi.

Bagian yang paling gue suka,
"Utangnya udah lunas ya!"

Thanks ya Oom,
gara-gara buku loe,
gue jadi makin ngerti gue dan dunia gue.
Dunia kita. Dunia Iklan.

Thursday, August 04, 2005

Puisi dari Adit sayang....

Pernahkah??

Pernahkah kamu...
Merasa memiliki,
Tanpa takut merasa kehilangan?

Merasa dekat,
Sekalipun ribuan mill jauhnya?

Merasa mendapat dukungan,
Tanpa ada satupun permintaan?

Merasa bertambah pintar,
setelah mengenalnya?

...
...
...

Aku pernah, …
Dan itu karena kamu…!

(trimakasih Glenn buat chatting yang menyenangkan semalam :))

Tuesday, August 02, 2005

Berpisah?

Image hosted by Photobucket.com

Kenapa harus pergi,
kalau nanti akan kembali
dan sayangmu masih di sini?

Ada apa di sana,
sehingga bukan hanya jiwa
bahkan ragamu hendak kaubawa?

Lalu siapa akan temani aku di sini?
Siapa pula akan temani kamu di sana?

Apa bedanya di sana dan di sini?
Apa yang tak kau dapatkan di sini
yang kau dapatkan di sana?

Kalau kau pergi,
lalu bagaimana aku bisa melihatmu?
Bagaimana kamu bisa merabaku?
Bagaimana kita bisa bercinta?

Kau ingin aku mengenangmu
sementara kamu belum di alam baka?

Dan di atas segalanya,
kita sedang menenun kenangan.
Kita sedang membuka pintu Allah.
Kita, ya, kau dan aku.

...

Sayangku, kalau
di sini bumi Tuhan dan
di sana bumi Tuhan.
Di sini langit Allah,
di sana langit Allah...
kita tak akan pernah berpisah.

Monday, August 01, 2005

nasi lemak dan nasi uduk

di sana ada nasi lemak,
di sini ada nasi uduk.
dua-duanya enak.
dua-duanya banyak lemak.

pilihan datang dan pergi
kita menanti,
atau kita buat sendiri,
atau kita bawa berlari?

terima kasih
wahai engkau yang pengasih.
terangi pikiran dan hati
makan yang itu atau ini
semua anugerah illahi.

Sepet by Yasmin Ahmad, For the Well-being of Mankind

Image hosted by Photobucket.com

Kalau Romeo dan Juliet
adalah cerita cinta dua manusia yang berbeda kasta,
maka Sepet (sipit dalam bahasa Indonesia)
adalah cerita cinta antara dua manusia berbeda keturunan.

Ah Loong, keturunan Cina yang berjualan VCD bajakan
jatuh asmara dengan Orked, perempuan keturunan Melayu.
Cinta, oh... cinta...

Cerita Sepet, mungkin bisa langsung terbayang.
Tapi makna dan kedalaman berpikir sang pencerita
melebihi batas ruang dan bahasa.
Adalah tentang kasih sayang.
Tentang keharmonisan.
Dan di atas segalanya, tentang manusia.
Tentang kita.

Jutaan lagu dan film tentang cinta telah diproduksi.
Demikian pula Yasmin Ahmad.
Ia bertutur tentang cinta dengan nuansa Malaysia yang sederhana.
Begitu sederhana sehingga penonton seolah ditelanjangi.
Karena memang untuk bisa menerima pemahaman dan pengetahuan baru,
kita harus berani untuk telanjang.

Bagaimana perbedaan dihayati sebagai keindahan
yang bukan harus disatukan tapi untuk dijembatani.

Bagaimana cinta telah cukup untuk cinta.
Buang-buang waktu untuk berusaha memahaminya.

Bagaimana masa lalu adalah bagian dari masa kini
dan untuk dibawa ke masa depan.

Bagaimana kita bisa melihat kelebihan diatas kekurangan.

Bagaimana keterbatasan (Badan Sensor Film Malaysia dengan tanpa cinta membabat 8 bagian dari film ini)
tak harus menjadi alasan untuk tidak menyuarakan isi hati,
pikiran dan perasaan.
Apalagi kalau suara tersebut berhasil menggerakan jutaan emosi dan hati
jutaan penontonnya.

Sebagai seorang melankolis sejati,
herannya saya tidak menangis di akhir cerita ini.
Tapi lebih terinspirasi, tergerakkan.
Saya tidak melihat film ini sebagai sebuah melodrama,
tapi lebih sebagai gugahan.
Dan kritik sosial akan apa yang selama ini diusahakan
untuk ditutupi.

Dan untuk itu semua, ada Yasmin Ahmad.
Selama ini cuma kita kenal melalui iklan-iklan Petronasnya.

Sepet, untuk kebaikan sesama.

Image hosted by Photobucket.com

Saturday, July 30, 2005

Minggu, 31 Agustus 2005

Pagi ini gue bangun, masih belum nyadar kalau gue udah di KL lagi.
Tiba-tiba aja gue kangen banget sama kampus gue.
Sayang tempatnya jauh banget. Di daerah pegunungan, Bukit Melawati.
Mungkin kalau nanti kerjaan gue udah selesai, gue coba ke sana.

Hari ini semestinya gue deg-degan habis. Karena siang nanti mau review
kerjaan sama 2 CD yang udah langganan menang award internasional.
Tapi gak tau kenapa, gue nyantai aja... Padahal idenya belum mateng-mateng amat.
Mungkin karena gue gak ngerasa ini medan pertarungan gue.
Gue ngerasa, pun sukses di sini, hanya akan bertahan sampai Kamis.
Jum'at gue akan balik ke Jakarta. Medan pertarungan gue yang sebenarnya.
Pikiran yang salah besar! Karena siapa tau... Ah udalah! Jangan dipikirin dulu!

Partner in crime gue, Nik Radzi, pagi-pagi udah telepon.
Dia bilang dia gak bisa tidur semalaman.
Takut dibantai. Padahal semua materi harus selesai hari Selasa.
Gue cuma bisa bilang "Take it easy, you are not alone doing this project.
We are not alone. We gotta do this project together.
You, me and the rest of the team..."

Anyway, kemaren dapet sms dari Mbak JH, kalau radio karya dua anaknya
jadi finalis di Pinashtika Awards. Saingan sama radionya BH dan EJP.
Hm... buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Congrats buat Bona dan Rori!
Hoping that your big emak's passion will transcend to you, all of you and me too :)

Pagi-pagi gue udah ke gym, terus makan pagi enak banget,
terus gue udah siap untuk berangkat. Masih ada waktu 1 1/2 jam.
Mungkin gue mau jalan-jalan dulu. Pengen liat buku di Kinokuniya.

Tembok Putih Ide

Sebuah ruang meeting disulap menjadi ruang putih.
Karena di keempat sisinya ditempel kertas besar-besar berwarna putih.
Kalau bagian atas ditutupi kertas juga, pasti tidak akan ada
yang mengenali kalau ruang itu adalah ruang meeting.

Dua pasang art director dan copywriter saling membelakangi.
Setiap pasang tampak seru dengan ceritanya masing-masing.

Di sebelah kiri, Sharifah Nor Azizah sedang seru menceritakan
pengalamannya pergi ke pasar basah kepada Jeremy Chia.
Sementara bercerita, tangan Jeremy menggambarkan cerita
Sharifah dalam sebuah gambar. Mirip sekali dengan sebuah storyboard.
Sambil bercerita Sharifah pun ikut menulis kata-kata yang tiba-tiba
keluar dari kepalanya.

Di sebelah kanan, Din dan Kurt, sepasang Art Director dan Copywriter
funky, sedang bernyanyi-nyanyi. Sesekali Din menggambar seiring irama lagu
sementara Kurt menulis kata-kata tak beraturan yang muncul di kepalanya.
Garis-garis repetitif bagai kurva tak beraturan memenuhi hampir setiap
sudut kertas. Seolah tak ingin membuang apapaun, hampir setiap lirik
bisa menjadi gambar dan dari satu gambar beranak pinak menjadi gambar yang lain.

Kedua pasangan itu tampak begitu menikmati sesi brainstorming ini.
Tampak persis seperti anak kecil sedang bermain corat coret di tembok rumah mereka.
Saya mencoba duduk bersama mereka. Harus saya akui, kertas putih
yang menutupi ruangan memberi efek psikologis yang lumayan
berarti. Saya seperti sedang berada di ruangan tanpa batas yang
membiarkan pikiran bebas bergerak. Batasan mulai ada ketika
saya mulai mencoba menulis atau menggambar di kertas itu.
Karena sebuah coretan di kertas putih itu, seperti mengingatkan kita
bahwa ada tembok/ruang dibalik segala putih.

Hampir 10 jam, kedua pasangan itu menikmati sesi ngerumpi itu.
Kebebasan mereka itu, bukan tanpa tujuan.
Mereka adalah pasangan yang sedang ditugaskan mengerjakan
sebuah pitching iklan.

Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut soal pitchingnya,
tapi saya ingin menceritakan bagaimana sebuah proses ide dilahirkan
dari sebuah agency yang telah berkali-kali memenangkan
international awards.

Setelah tembok menjadi penuh dengan coretan-coretan dan tulisan-tulisan
barulah kemudian mereka bersama-sama mengambil brief lagi.
Brief itu telah meramu sebuah ide "Not just a talk" itu, Sebuah ide yang memang
akan membuka pikiran kita ke mana-mana.

Kedua pasangan itu pun kemudian bertukar tempat.
Masing-masing kini berdiri di depan coretan-coretan yang
bukan milik mereka sendiri. Mereka diam untuk paling banyak 10 detik
dan... keributan terjadi! Berjuta-juta bohlam lampu pecah! Mereka
seolah mendapatkan berjuta-juta ide dari gambar yang bukan mereka buat sendiri.

Sesekali terdengar suara jeritan "aaaaah that's great!" atau teriakan
"oh shit! That's it! We got it man!" Dan berbagai ekspresi kegirangan lainnya.
Kemudian masing-masing pasangan mulai menggambar lagi.
Kali ini tampak mereka mulai membuat kotak-kotak seperti print ads.
Tulisan-tulisan mereka pun mulai terstruktur seperti layaknya sebuah headline.

Tak terasa... saat itu waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari.
Dan mereka lupa, bahwa jam makan malam telah lewat. Akhirnya saya berkata
"Guys, I do not want you to faint. Seriously! Grab your dinner...
and let us meet up again tomorrow. Say 11ish?"
Mereka duduk bersama sambil makan pizza dingin yang sudah disiapkan
dari jam makan siang tadi. Sambil makan mereka merencanakan apa yang
akan mereka lakukan esok. Mereka seolah tak ingin sesi tadi diakhiri.

Sebelum meninggalkan kantor, saya melirik ke arah mereka, dan saya berkata
dalam hati "thanks for showing me what passion is all about!"

Friday, July 29, 2005

Daun Muda 2005

Apa yang bisa lebih membahagiakan buat gue
selain melihat-lihat kerjaan iklan orang lain.
Yang bikin istimewa kali ini,
gue melihat karya-karya peserta Daun Muda 2005.

Di sebuah ruangan tua yang gue gak kira
masih eksis di Jakarta, iklan-iklan self promo itu
memenuhi tembok, kursi dan lantai.

Karena gue terlambat, alhasil beberapa karya
udah dalam posisi tertutup. Alias udah gugur.
Yang dianggap berpotensi menjadi finalis
udah tertata di atas meja.

Satu per satu gue buka-buka karya yang udah ditutup.
Karena sepertinya para juri senior itu belum dapet
10 karya yang bisa jadi finalis.
Dan kehadiran gue di sini adalah sebagai pemantau doang.
Otomatis gue tutup mulut aja.

Sampe akhirnya dengan kebaikan hati para juri-juri itu
gue malah diajak ngomong dan berpendapat.
Undangan yang bikin gue ngerasa sangat dihargain.
Dan gue pun berusaha untuk berpendapat
sebaik-baiknya.

Ketika itu pula,
gak tau kenapa gue bisa ngerasain
detak jantung yang berdegup kencang.
Yang pasti bukan detak jantung gue.

Setiap detik, detak jantung itu semakin keras
dan semakin banyak dan semakin banyak.
Semakin lama detak jantung itu
seperti hendak memainkan sebuah orkestra perkusi.

Sebuah orkestra yang memainkan irama
yang pernah begitu dekat, begitu akrab.
Irama itu perlahan menjadi lagu
yang menceritakan sebuah harapan.

Irama indah itu tiba-tiba meninggi
dan semakin meninggi.
Mendekati puncak awan, irama itu
perlahan menurun melintasi gunung dan ngarai.

Semakin turun dan rendah.
Menyusuri sungai kejernihan kecil.
Menghempas kerikil-kerikil
untuk akhirnya naik ke atas sebentar.

Sebelum akhirnya mendarat dengan lunak
di sebuah padang yang indah.
Lagu itu berhenti tepat ketika
matahari pagi mulai bangun tidur.

"Yang ini lebih fresh! Ngeliatnya seger banget gitu!"

Saturday, July 23, 2005

Pembelajaran yang Terus Berjalan

Hari ini, gue udah dua bulan persis jadi pengangguran.
Gue gak pernah ngira, kalau gue bakal menganggur selama ini.
Dan tentunya di hari ini pula, gue melihat ke belakang.
Selama dua bulan ini udah apa aja sih yang gue lakukan.

1. Radio PSA Hariku
Gue pengen banget bikin radio monologue.
Karena seperti kita semua ketahui, radio monologue itu
paling susah diantara semuanya.
Dibantu Oom Bud, Mamung, Mas Agus Swanten, Lukman, Firman Cosmopolitan FM,
DanRem, Felicia, Opa Djokolelono, Rangga, dan Ruri, Baby dan Hera, akhirnya jadi juga itu radio.
Senengnya, iklannya bisa tayang jadi sebelum Juni berakhir.
Bisa ikutan Citra Pariwara tahun ini deh!

2. TVC
Ini kerjaan gantung yang harus gue selesaikan setelah keluar dari OgilvyOne.
Dibantu Richard, Ruri, Ferdy, Fey, Prita, Bunda, Ciska, Mbak Anna, Ben Wie,
Velocity, Bumble Bee dan puluhan pekerja sinema film, sekarang kerjaan itu udah
sampe tahap Online.

3. Clue Magazine Print Ads
Gue pengen banget untuk bikin kerjaan Artvertising.
Dimana advertising dipahami lebih sebagai sebuah karya seni.
Akhirnya dibantu Alex Abimanyu, Cecil, Yuli, Yunike, Adit, Anet, Marie, Rangga, Ruri,
Bunda, Vianne, Oom Bud, dan Mbak Jeanny, 8 set print ad itu selesai juga.
Sekarang tinggal tunggu tayang bulan Agustus ini.
Siapa tau bisa ikutan ADOI, Addone, CP tahun depan.
Barusan aja gue load di Archive. Siapa tau lolos!

Image hosted by Photobucket.com

4. Pitch.
Gue sekarang lagi gak di Jakarta.
Ngebantu sebuah agency untuk pitching.

5. Storyline.
Gue juga bikin 6 storyline untuk sebuah agency di Jakarta.

6. Logo.
Gue bikin logo sebuah PH yang baru dibikin di Jakarta.

7. SCA
Bikin proposal buat SCA-nya CCI. Plus, iseng-iseng bikinin logonya.
Walau sampe sekarang belum ada kabarnya, tapi bagian gue udah beres.

8. The Darling Project
Bantuin 3 anak UNTAR menyelesaikan TA mereka.
Alhamdullilah, 3-3nya udah lulus.
Malahan Cecil dapet nilai A loh! Yang duanya lagi dapet B.
Gue bangga banget!

Pugh! Sumpah mati gak kira! Gak kira sama sekali!
7 proyek dalam 2 bulan!
Sesuatu yang mungkin gak bisa gue kerjain kalau gue masih kerja di agency.
And did I having fun? YES! Absolutely!
Did I learn anything? YES! Loads of things!
Did I get to know more people? YES! Various kind of people.
Termasuk permilik cafe dan pelayan Oh Lala Thamrin.
Did I get pay? Erghhhh... not really... but I manage to survive.
Pinjem sana sini, setidaknya gue masih bisa menyambung hidup.

Tapi apa yang gue udah lakukan selama dua bulan ini,
menjadi lebih berarti karena ternyata gue belajar banyak!
Gue jadi tau kenapa monologue susah.
Gue jadi tau kelakuan agency terhadap PH.
Gue jadi tau mana yang selama ini beneran temen mana yang gak tulus-tulus amat.
Gue jadi tau kesulitan-kesulitan untuk bikin artvertising.
Gue jadi tau kekurangan gue dalam eksekusi.
Gue jadi tau rasanya kerja sama agency di luar Indonesia.
Gue jadi tau lebih banyak orang di luar lingkaran agency.
Gue jadi tau Mbak Pargi dengan kehidupannya yang sederhana.
Gue jadi tau... aaaaaaaaaaah banyak banget!

Dan lihat gue sekarang, masih hidup aja...
Gue gak mati kelaperan kok!
Ada satu yang gue lakukan selama dua bulan ini.
Gue ngerasa semakin deket sama Yang Di Atas.
Karena sekarang lebih terasa sangat tergantung sama Dia.
Dan belakangan ini, dalam doa gue minta supaya Dia
menerangi pikiran dan hati supaya gue bisa mengambil keputusan.
Bukan keputusan yang terbaik, tapi keputusan yang sesuai sama kehendak-Nya.

Sekarang gue melihat ke depan.
Jadi makin semangat untuk ngejalanin hidup gue.
Terima kasih Tuhan. Gue sayang banget sama loe!
Buat semua yang namanya ada di atas,
gue cuma bisa bilang terima kasih.
"Teman, kita jalan bareng terus ya... kebaikan loe semua
gak akan pernah gue lupain."

Sunday, June 26, 2005

Temuan Seorang Pengangguran

Udah hampir sebulan lamanya,
gue jadi pengangguran dan kebanyakan ngendon di rumah.
Paling banter ke Oh La La Thamrin untuk internetan.

Nah... ada beberapa temuan selama liburan yang
pengen gue share ke temen-temen di sini.
Siapa tau bisa berguna.

1. Ternyata voice over di tv emang perlu.
Kreatif kan suka ribut "kan udah ada supernya, gak
usah VO lagi dong!"
Man, gak deh... ternyata kalau lagi nonton televisi,
orang males kalau disuruh baca.
Lebih seneng diceritain.
Apalagi kalau nontonya sambil internetan, sambil
tiduran (dalam kasus gue), sambil telepon, dll.

2. Ternyata lagu di iklan2 tvc itu besar perannya.
Belakangan banyak lagu2 di iklan yang mirip satu sama
lain. Jenis musik yang serupa. Padahal sering loh,
karena musik yang ear catching, gue jadi memperhatikan
tvc-nya. Kayak musik tvc dove shampoo. TVC-nya emang
secara eksekusi bagus tapi idenya mah ya biasa.
Musiknya itu menarik karena beda sama tvc-tvc lain.
Entrasol Gold juga menarik lagunya.

3. Ternyata ukuran logo itu penting!
Kan kita suka banget tuh kalau logo dibikin keciiiiil
bgt dgn alasan art direction. Nah kadang saking
kecilnya, begitu iklannya ditayangin di tvc yang
layarnya kecil, logo/supernya bisa ketilep dan gak kelihatan
sama sekali loooh! Perbandingannya adalah antara TV
gue dan TV mbak pargi. Di tv gue masih lumayan, tapi
di tv-nya mbak pargi udah gak kelihatan.

4. Ternyata boks/packaging itu penting untuk
ditunjukin (jangan cuma produk dalemnya aja)
Karena kalau orang jalan2 ke supermarket/pasar, yang
mereka liat itu boksnya.

5. Ternyata animasi keunggulan produk itu penting...
Gue pernah sebel banget waktu disuruh ngasih animasi
keunggulan produk. Kotoran2 yang terangkat dari kain
oleh butiran-butiran biru sakti biar kain jadi lebih
bersih.
Eh ternyata, waktu gue mencuci baju sendiri di suatu
siang, terbayang loh bok di kepala
gue...butiran-butiran biru sakti akan mengangkat
kotoran di baju gue... nyuci baju jadi semangat!
hehehehehee gila ya! gue gak percaya sama diri gue
sendiri!

6. Ternyata story-telling itu lebih gampang diinget!
Adalah seorang tetangga, ibu-ibu. Dia itu seneeeeeeng
bgt sama iklan BNI yang bapaknya arsitek. Menurut dia
itu iklan luar biasa. Dan dia bisa berkali-kali
menceritakan iklannya itu seperti apa ke orang-orang.
Yang mana, akan lebih sulit untuk dia menceritakan
iklan yang bukan story-telling. Sementara word of mouth
itu bisa jadi senjata iklan yang ampuh juga kan?

Saturday, June 18, 2005

Kado Ulang Tahun dari Cecil

Tuhan
Selamat pagi…
Hari ini Glenn ulang taun
Mohon beri dia umur yang panjang
Kesehatan
Rejeki
Tempat kerja baru yang dia incer
Gaji gede
Uang 1.5 juta buat bikin psa radionya
Dan lain-lain
Terlalu banyak kalo disebutin satu-satu
Tuhan pasti udah tau lah…
Karena tiap hari pasti ada aja yang ngajuin permohonan
kayak gini
Oya,
Gini Tuhan..
Aku belom ngasih kado buat dia nih
Soalnya aku bingung apa yang bikin dia seneng
Jadiiiii
Aku mohon satu hal lagi boleh ya…
Semua kebahagiaan
Yang rencananya Tuhan mau kasih ke aku hari ini
Buat dia aja.
Iya, semuanya.
Makasih ya Tuhan
Amin.

Happy birthday Glenn
June,18,2005

love,
cecil :)

Sunday, June 12, 2005

Kutukan Orang Iklan

Sapardi di puisinya soal orang iklan,
ternyata benar sebenar-benarnya!
Orang iklan, selalu mikirin soal iklan.
Ngomongin soal iklan.
SMS soal iklan.
Email-emailan soal iklan.
Dan yang pastinya bikin iklan.

Pun berusaha sekeras-kerasnya untuk
gak mikirin iklan,
gak ngomongin iklan,
gak bikin iklan,
gak gaul sama orang iklan,
yang ada malah lebih menggila untuk bikin iklan.

Bener kata Kahlil Gibran,
kalau dawai biola bisa diputuskan supaya tidak
bersuara.
Tapi siapa bisa menghentikan burung gereja
untuk bernyanyi.

Lucunya, waktu kerja bikin iklan,
pengen banget bisa liburan.
Bisa bebas. Bisa ngerjain apa aja sesuka hati.
Tapi ternyata itu semua cuma bertahan satu minggu.
Lewat dari itu...
mulai tuh...
mikirin, ngomongin, bikin iklan lagi!

Dan lebih hebatnya lagi,
gak sekalipun iklan dipertanyakan
kesanggupannya untuk bayar balik semuanya.

Iklan itu gairah yang membakar.
iklan itu birahi yang tak pernah terpuaskan.
Iklan itu pesona raga yang mengguncang nalar.
Iklan itu jiwa yang memberi napas.

Dan ketika keempatnya bergumul,
bermandi keringat saling menarik dan mengulur.
Mengguncang dengan keras dan tajam.
Setiap sendi merasakan kenikmatan.
Bergoyang panas bagai penari samba.
Semakin cepat. Menghentak keras.
Gelinjang dipenuhi jeritan pada tiap hentakan.

Hingga napas pun tak lagi tersengal sengal.
Tapi terhenti sesaat.
Untuk kemudian segala daya dilakukan untuk
menarik napas panjang dan dalam terakhir kalinya.
Sampai akhirnya lepas...

Dan ketika semua lepas,
berjanji gak mau memulai lagi.
Ketika itu pula
kita sadar bahwa sedang membohongi diri sendiri.

Tuesday, June 07, 2005

Plaza Bapindo, Mandiri Tower, Lantai 26.

Malam ini,
sebelum gue bener-bener pulas,
tiba-tiba ngerasa kosong. Sekosong-kosongnya.

Ada sesuatu yang begitu besar
dan berarti selama ini tiba-tiba hilang.
Sesuatu yang gue gak kira ada.
Malah gak pernah gue pikirin.
Tiba-tiba hilang...

Gue jadi inget, waktu nyokap
kehilangan kakak gue untuk selamanya.
Dia pasti ngerasa kosong dan sedih luar biasa.
Lebih kehilangan dan sedih dari gue sekarang.

Tiba-tiba aja hati gue basah.
Oleh air matanya sendiri.
Dada gue bisa ngerasain.
Dan badan gue jadi lemes.

Pelan-pelan gue pikirin.
Apa yang sebenarnya diambil.
Apa yang sekarang udah gue gak punya lagi.
Yang begitu berarti.
Begitu besar dan bermakna.
Memberi nafas bagi hidup gue.

Di hati kecil gue, sebenarnya udah tau jawabnya.
Tapi gue terlalu sadis sama diri gue sendiri.
Jadi akan gue simpen terus dalam hati gue.
Bukan karena gue gak mau berbagi.
Atau melepas perasaan ini.
Tapi memang perasaan ini bukan milik gue.

Mereka cuma dititipin sebentar sama gue.
Di waktu yang berlari cepat itulah,
mereka adalah segalanya yang ada di pikirin gue.
Bukan cuma di pikiran. Tapi juga di dalam sini.

Kekosongan ini adalah ketakutan gue.
Takut kalau mereka akan melupakan gue.
Takut kalau pernah ada di antara kita
jadi gak ada sama sekali besoknya.

Dan kalau itu beneran terjadi,
hati gue pasti gak terima.

Di malam ini juga,
gue mempersiapkan diri.
Supaya kalau besok datang,
dan semua tentang kita harus hilang,
gue bisa menyimpan mereka di hati gue aja.

Sampai nanti hati ini harus bicara
kepada yang membuatnya.

Image hosted by Photobucket.com

Sunday, May 29, 2005

Cinta Fiktif

Image hosted by Photobucket.com

semalam kamu bilang,
mau mengakhiri cinta kita.

kamu bilang, kalau cinta itu
tidak pernah ada.

kamu bilang, kalau bukan salahku,
bukan pula salahmu.

kamu bilang, tidak ada yang lain
di hatimu.

tapi karena cinta fiktif ini
harus diakhiri.

aku terdiam, bukan karena sedih
ataupun dada ini terasa perih.

aku terdiam, bukan karena marah
ataupun gelisah.

aku terdiam, bukan karena menyalahkanmu
atau menyalahkanku sendiri.

aku terdiam, bukan karena
ada yang lain dihatiku.

tapi karena cinta fiktif ini
baru kita mulai.